Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#163


Ru Ansan mengumpat kesal karena serangan yang diluncurkannya hanya melukai Ruan Zu tapi tidak membunuhnya. Di sisi lain wanita yang dibawa oleh Bai Ling sedang duduk manis menikmati pelayanan yang diberikan oleh pelayan.


Semenjak mengetahui dirinya hamil, Bai Ling semakin memperhatikan keadaan dirinya membuat ia berada di atas angin lalu memandang lemah semua orang yang bekerja di bawah tangan Bai Ling. Saat ini wanita itu tengah makan beberapa buah segar yang diberikan Bai Ling padanya sebelum Bai Ling pergi.


"Ada apa dengan wajah masam kalian itu? Kalian tidak suka melayani diriku, iya?" tanyanya dengan nada tidak ramah.


Wajahnya memerah dengan tangan terkepal, ia mengambil gelas minuman yang ada di atas meja melempar gelas itu ke wajah salah satu pelayan yang sedang melayaninya. Pelayan itu mengaduh kesakitan tapi tidak berani membalas, dia hanya menunduk dengan tangan terkepal menahan emosi.


"Aku katakan pada kalian semua, mulai hari ini aku adalah nyonya kalian. Ruan Zu itu cepat atau lambat akan ditinggalkan, bukankah kalian sudah tahu kalau aku hamil anak tuan kalian? Jika yang aku lahirkan lelaki maka dia akan menjadi penerus Sekte Hitam selanjutnya dan kalian harus menghormati dirinya." Wanita itu mendongak angkuh.


Dadanya naik ke atas membusung dengan bangga membuat beberapa orang merasa muak dan marah.


Bai Ling akhirnya berhasil menyelamatkan Ruan Zu, melihat luka yang diterima oleh Ruan Zu dia menjadi tertekan. Buru-buru dia menyalurkan energi hitam miliknya pada Ruan Zu agar luka yang ada di sekujur tubuhnya dapat sembuh segera.


Ruan Zu menggelengkan kepalanya dengan cepat, wajahnya tampak mengerikan. Pucat karena kehilangan darah serta kebencian luar biasa karena tidak dapat melukai Liu sama sekali.


"Tidak! Anak itu masih belum berkembang sama sekali, jika aku memakannya sekarang sama saja dengan aku membuang kesempatan besar. Aku ingin gadis bodoh bernama Du Lin itu merasa di atas angin dulu, sekarang dia begitu bangga karena mengandung anak itu dan merasa sebagai nyonya besar. Saat jatuh nanti aku harap dia akan menjadi gila karena kebencian." Ruan Zu memeluk Bai Ling namun mata penuh kebencian yang ia perlihatkan membuat bulu kuduk Bai Ling berdiri.


"Anak yang dikandungnya adalah perpaduan manusia dan iblis dengan kekuatan itu maka levelmu akan meningkat lagi. Aku telah mengecoh mereka membuat mereka lebih dulu pergi ke benua atas sedangkan kita akan pergi ke dunia iblis untuk mendapatkan kekuatan lebih kuat." Bai Ling mengecup kening Ruan Zu penuh kasih sayang.


Ruan Zu mengangguk lalu memeluk Bai Ling erat, hal ini membuat Bai Ling merasa senang. Ruan Zu boleh dikatakan tidak pernah bermanja-manja dengan dirinya, paling-paling Ruan Zu hanya bersikap manja saat mereka ada di ranjang atau memiliki sebuah keinginan.


"Hem, aku ingin kau mengirim iblis itu nanti malam ke kamar Du Lin. Aku ingin Du Lin merasa dia begitu dicintai olehmu sebelum kau buang nanti." Benar saja, Ruan Zu memang memiliki keinginan.


Bai Ling mengangguk, dia mengecup kening Ruan Zu penuh kasih sayang lalu berhenti menyalurkan energi spiritual hitam karena Ruan Zu sudah terlihat lebih baik. Ru Ansan terus bertarung dengan monster itu, kali ini dia menggunakan pedang aneh bewarna merah darah, pedang itu adalah pedang milik Liu Zixia dengan kekuatan jauh di atas pedang lain.