
Du Zi tampak senang mendengar bisikan pelayannya itu, dengan wajah bangga dia menatap Ruan Zu menantang yang malah dibalas Ruan Zu senyuman samar misterius. Du Zi mengabaikan keangkuhan yang diperlihatkan Ruan Zu, tangannya terkepal penuh kebencian.
Kukunya yang panjang menancap di telapak tangannya meneteskan darah segar namun Du Zi tidak merasakan sakit sama sekali. Du Zi lupa kalau dirinya ditangkap untuk dijadikan makanan oleh Ruan Zu, dia merasa di atas awan karena perlakuan manis serta layaknya ratu yang dia dapatkan baru-baru ini dari Bai Ling serta anak buahnya.
Sore harinya semua tenda telah selesai dibangun oleh anak buah Bai Ling, Du Zi mendapatkan kamar paling besar di kelompok itu dengan pelayan yang berlipat. Perawatan untuk Du Zi juga meningkat membuat Du Zi semakin bertingkah sombong, apalagi saat dia melihat Ruan Zu ke luar dari tenda paling kecil di dalam kelompok.
Hidungnya semakin membesar saat pujian demi pujian dilontarkan oleh pelayan. "Lihat saja nanti, setelah aku menikah secara resmi dengan Bai Ling aku akan membuat wanita tidak tahu diri itu sengsara. Aku akan membuat dia memohon di bawah kakiku, kita lihat apakah dia masih bisa bersikap sombong seperti saat kemarin." Du Zi dengan bangga duduk bersandar di tempat tidur berbicara dengan pelayan yang selama ini merawatnya.
"Ya, Nona! Saya yakin Anda akan dapat mengalahkan wanita itu membuat dia sadar di mana tempatnya sekarang." Pelayan itu mengangguk senang melihat sikap angkuh Du Zi.
Keduanya terus berbicara tentang acara nanti malam, Ruan Zu di sisi lain tengah menikmati pelayanan yang diberikan Bai Ling padanya. Ke-duanya telah basah oleh keringat, rambut Ruan Zu berserakan di tempat tidur membuatnya tampak menarik.
Bibirnya terbuka dan menutup, mencoba mengambil napas sebanyak-banyaknya agar bisa tetap bertahan dalam ronde permainan mereka. Bai Ling mengecup kening Ruan Zu sayang, ia terus bergerak mencari kesenangan hingga akhirnya melepaskan beban yang ada di di tubuhnya pada Ruan Zu.
"Apa yang perlu kita persiapkan untuk nanti malam?" tanya Bai Ling setelah dirinya berhasil berbaring di sebelah Ruan Zu.
Bai Ling mengangguk, apapun yang diinginkan Ruan Zu akan dia turuti sekalipun Ruan Zu menginginkan nyawanya. Bai Ling berbaring cukup lama lalu mandi, dia perlu memasang mantra di sekitar agar bau darah tidak menghalangi rencana Ruan Zu.
Malam menjelang dengan sangat cepat, Du Zi yang sejak tadi menunggu kedatangan malam ini telah selesai berdandan dengan cantik. Ia memakai pakaian bewarna merah terang, ia duduk manis di dalam kamar menunggu pembawa kabar memanggil dirinya.
Tidak lama seorang penjaga berdiri di depan tenda berteriak memanggil Du Zi untuk ke luar. Du Zi yang sejak tadi menunggu langsung berdiri, ia meraih tangan pelayan yang sejak tadi menemani dirinya untuk berjalan bersama ke luar tenda.
Du Zi dengan anggun melangkah ke luar tenda, dagunya terangkat dengan dada membusung tinggi. Pakaian merah yang Du Zi kenakan begitu mencolok membuat mata beberapa orang menjadi merah.
Du Zi melihat sekitar, dia tidak menemukan sosok Ruan Zu dalam pesta besar yang diadakan Bai Ling. Hal ini semakin membuat dirinya bangga, Du Zi duduk di sebelah Bai Ling menikmati pelayanan malam itu.
"Hari ini kita akan mengadakan perayaan besar sebelum besok kita melanjutkan perjalanan. Kalian boleh bersenang-senang dengan mangsa yang tersisa. Kalian juga boleh memakan apapun yang tersedia, hari ini perayaan yang kita adakan akan sangat menyenangkan karena aku dalam suasana bahagia." Bai Ling bersorak senang.
Saat semua orang larut dalam kebahagiaan, Bai Ling meraih tangan Du Zi mengajaknya ke tenda yang telah dihias dengan begitu indah. Warna merah terang seperti pernikahan menghiasi tenda itu, Du Zi tersenyum semakin lebar dengan jantung berdegup kencang.