
Ru Ansan sepanjang jalan terus mencuci otak Liu Zixia dengan pengalaman miliknya di zaman modern, istilah-istilah yang digunakan para remaja di zaman modern semuanya dikeluarkan oleh Ru Ansan menyebabkan Liu Zixia merasa begitu bahagia.
Sayang kebahagiaan itu tidak menular pada suami Liu Zixia, wajah mereka semakin terlihat masam saat kata demi kata tentang pengetahuan yang dimiliki Ru Ansan diberikan pada Liu Zixia.
"Hah ... aku akan melaporkan semua ini pada Lin Yuhua agar perang besar bisa terjadi." Ling Zhi dengan asal meludahkan beberapa patah kata yang langsung membuat Ru Ansan membeku.
Ru Ansan menekuk bibirnya kesal memilih diam agar tidak menyebabkan terlalu banyak masalah datang padanya. "Semua ini gara-gara kau," tuduh Ru Ansan tidak terima.
Dia melipat kedua tangan di dada memalingkan wajah ke arah lain, pipi chubby Ru Ansan menggembung lucu membuat Liu Zixia mencolek pipi Ru Ansan dengan gemas. Tidak cukup itu saja, Liu Zixia mencubit pipi Ru Ansan keras membuat Ru Ansan memekik kesakitan.
"Pipimu lucu sekali, kalau aku punya anak perempuan seperti dirimu aku akan menyembunyikannya dengan baik. Tidak akan aku biarkan lelaki manapun mendekati dirinya," janji Liu Zixia dengan mata berbinar bahagia.
Liu Zixia memegang perutnya yang membuncit mencoba merasakan kehadiran kedua buah hatinya. Rasa bangga, senang, haru juga rasa lainnya bercampur aduk di dalam hati Liu Zixia ketika menggenang kehamilannya saat ini.
"Kalau kau melakukan itu maka anakmu akan menjadi wanita lemah, kalau kau ingin dia menjadi kuat biarkan dia melihat dunia. Berikan ia kemampuan agar dia bisa menghadapi dunia dengan tangannya sendiri." Ru Ansan mengajari Liu Zixia dengan baik.
Liu Zixia mengangguk tanda paham, wajah cantiknya berseri dengan gembira kala mendapatkan ilmu demi ilmu dari Ru Ansan. Ru Ansan sudah seperti ibu baginya, banyak pelajaran yang diberikan Ru Ansan.
Meski terkadang Ru Ansan memperlihatkan wajah jutek, dingin dan penyendiri tapi perhatian yang dia berikan tulus.
Ru Ansan tampak puas melihat sikap Zixia yang begitu patuh, mereka melanjutkan perjalanan menuju desa Rawajati berharap dapat menemukan Ruan Zu di sana. Karena kalau mereka terlambat bisa saja Ruan Zu telah meninggalkan desa menuju benua atas, sulit mencari keberadaan seseorang di benua atas karena kita harus memiliki pendukung yang kuat di sana.
Pria yang tadi mengikuti kereta Liu Zixia sampai ke kereta yang mengikuti, dia berdiri dengan hormat sembari menundukkan kepala, satu kakinya ditekuk ke lantai kereta.
"Tuan Muda! Wanita itu memang memiliki pola yang sama dengan yang ada di ruang belajar Anda. Pola itu sama dengan yang digambar oleh guru besar Anda, Tuan Muda!" Pria itu menyampaikan informasi dengan cepat tanpa bertele-tele sama sekali.
Pria di dalam kereta yang sejak tadi memejamkan mata langsung terbangun. Matanya melebar dengan tidak percaya, sebuah senyuman tercetak begitu jelas di bibirnya tanpa ia sadari.
Dia langsung mengubah posisi dari tadinya berbaring miring menjadi duduk. Dia langsung merapikan pakaiannya, rambut dan yang lainnya.
"Kejar kereta di depan! Buat seolah-olah kita memiliki tujuan yang sama dengan mereka," perintahnya dengan wajah berseri-seri.
Sudah lama dia mencari wanita dengan pergelangan tangan memiliki pola itu bahkan ia sendiri hampir lupa berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk menemukan si pemilik pola. Beberapa wanita pernah mengaku memiliki pola yang sama dan dia sudah menghabisi mereka karena berpura-pura.
Liu Zixia yang dikejar bahkan tidak sadar kalau kecerobohan yang ia lakukan akan menarik satu lagi pria menjadi selirnya. Benang takdir memang terlihat aneh, di saat dia tidak membutuhkan lelaki untuk menjaganya mereka malah datang secara berurutan.