Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#196


Wanita tua yang mengirim surat itu muncul dari bagian samping aula, dia berdiri dengan tangan di belakang punggung. Matanya menatap jauh ke depan, ke tempat di mana Liu Zixia pergi bersama rombongannya.


"Tidak perlu khawatir, Sayang! Selama ibunya bersama kita di sini dia pasti akan datang lagi mencari kita. Kau hanya perlu bersabar saja, lagipula rumah mereka tidak terlalu jauh dari sini. Aku dengar pria yang merupakan satu-satunya keturunan laki-laki di kerajaan ini, kau hanya perlu mencari tahu tentang pria itu dan mendekatinya. Mendapatkan pria itu menjadi suami sahmu maka kedudukanmu di sini akan kuat melebihi wanita itu." Wanita tua itu tampak percaya diri, dia tersenyum mencemooh.


Liu Zixia di sisi lain telah sampai ke kediaman He Yidu, saat ini dia telah masuk ke dalam ruang miliknya untuk menemui Yiza. Liu Zixia melihat Ru Ansan tampak menimang bayi yang sudah berusia dua bulan di tangannya, Liu Zixia cukup terkejut saat melihat itu semua dengan mata kepalanya sendiri.


"A-a-apakah itu anakku?" tanya Liu Zixia tergagap, Liu Zixia benar-benar tidak menyangka kalau gen iblis Lin Yuhua terlalu kuat pada Yiza.


Ru Ansan mengangguk sebagai jawaban, dia dengan hati-hati meletakkan Yiza di tempat tidur yang telah ia siapkan lalu berjalan ke sisi Liu Zixia dengan sangat pelan.


"Kau pikir Yiza itu bayi normal? Dia berbeda dengan bayi lainnya, jika dia ke luar maka para iblis dan manusia akan berusaha mengejarnya sampai dapat. Bayimu istimewa, dia memiliki kekuatan milikmu serta darah iblis Lin Yuhua, kau beruntung memiliki tempat ini untuk keamanan dirinya." Ru Ansan menjelaskan.


Liu Zixia di sisi lain tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia melihat perubahan pada putranya laku mengingat pertumbuhan putrinya di dunia manusia. Di antara keduanya bagai langit dan bumi, Liu Zixia membelai wajah Yiza lembut penuh kasih sayang meski gerakan itu sempat membuat Yiza merasa terganggu.


"Jangan ganggu dia! Aku sudah lelah membuatnya tertidur," bisik Ru Ansan dengan tangan menarik baju Liu Zixia.


Liu Zixia tampak cemberut, bibirnya mengerucut maju. Ia kesal karena tidak ada satupun anaknya yang mau dengan dia. Liu Zixia ingin protes namun dia malah dilempar oleh Ru Ansan ke luar dari ruangnya sendiri.


Liu Zixia muncul di tempat tidur dengan posisi yang menyedihkan, keadaannya yang seperti itu ditemukan oleh He Yidu.


"Ada apa? Siapa yang menyerangnya? Prajurit!" teriak He Yidu marah saat melihat keadaan istrinya.


He Yidu menatap tajam para penjaga yang ditugaskan di sekitar halaman utama, "apa saja yang kalian kerjakan? Kenapa saat ada penyusup masuk kalian malah tidak tahu, penyusup itu menyerang isteriku!" bentak He Yidu keras.


"Tunggu sebentar!" cegah Lin Yuhua cepat saat ia melihat He Yidu ingin menyerang penjaga.


He Yidu mengalihkan pandangan matanya, dia memberikan tatapan tidak suka pada Lin Yuhua yang mencegahnya menyerang. "Ada apa? Bukankah kau sangat mencintai Zixia? Kenapa kau mencegah diriku memukul prajurit bodoh ini?"


Lin Yuhua mengalihkan pandangan lalu mengusir para penjaga dan pelayan yang telah berkumpul. Ling Zhi, Ye Lian dan Long Ze sekuat tenaga menahan tawa mereka agar tidak membuat He Yidu malu di bawah tatapan anak buahnya.


Setelah kepergian semua orang menyisakan mereka saja. Lin Yuhua mengajak semua orang masuk ke kamar Liu Zixia, dari dalam terdengar tawa Liu Zixia yang begitu lepas, disambut tawa yang lainnya.


Hal itu membuat He Yidu tampak heran, sejujurnya dia belum pernah melihat Liu Zixia ke luar dari dalam ruangnya dengan posisi menyedihkan itu.


"Apa yang kalian tertawakan?" tanya He Yidu tidak senang.


Long Ze terus tertawa, dia tidak peduli dengan wajah marah He Yidu. Ling Zhi juga begitu, sedangkan Ye Lian sudah berhasil menghentikan tawanya.


"Kalau keadaannya seperti itu berarti dia diusir dari ruangnya sendiri. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan, sudah biasa bagi kami melihatnya dengan posisi aneh saat ke luar." Lin Yuhua menjelaskan.