Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#20


Semoga terhibur dengan cerita saya yang satu ini, antara sedih dan bahagia sama cerita satu ini.


Makasih buat pembaca aku yang udah kasih like sama yang juga ikut baca ini dari pembaca yang aku seret dari *My Husband Is A Devil* ke sini.


Bingung aku bacanya ya udahlah lanjut nulis cerita aja, tapi intinya aku sayang kalian yang udah terus ngasih aku semangat.


###


Yu Zixia sedang sibuk memilih bahan apa yang akan dipadukan untuk membuat racun hati, racun ini dibuat khusus untuk orang yang memiliki hati dan pikiran yang buruk.


Ketika sedang asik memilih dan mencampurkan bahan sebuah pelukan membuatnya kaget dan hampir jatuh ke belakang.


"Masih tentang racun? Apa istriku tidak ingin mempelajari hal lain selain ini?" Lin Yuhua yang entah datang darimana berbisik di dekat telinga Yu Zixia, membuat bulu kuduk Yu Zixia berdiri dengan cepat.


"Aku ingin mempelajari tubuh manusia sayang tubuh untuk kupratekkan tidak ada," ujar Yu Zixia tidak peduli.


"Gunakan tubuhku saja tapi kau harus memenuhi syarat yang kuberikan!" Lin Yuhua berbisik di telinga Yu Zixia lagi.


Kali ini dia sengaja meniup nafasnya ke belakang telinga Yu Zixia karena dulu di sana adalah tempat sensitifnya.


"Kau tidak punya pekerjaan? Seharusnya kau menemani kekasih hatimu itu dan berhenti menganggu dan menggodaku," usir Yu Zixia sembari berusaha lepas dari pelukan Lin Yuhua yang begitu erat.


"Tidak mau, aku hanya ingin menemanimu saat ini jika bisa aku ingin kau menemaniku di ranjang sekaligus, aku ingin anak kita ada kembali," bisik Lin Yuhua lagi dengan sengaja.


"Siapa yang ingin punya anak denganmu, aku hanya ingin anak dari pria yang kucintai. Lalu kau di bagian mana?" tanya Yu Zixia mencemooh.


"Tentu saja aku pria yang kau cintai, aku pria yang akan menjadi ayah dari anak pertamamu." Tak mau kalah Lin Yuhua berusaha untuk terus merayu Yu Zixia.


"Aku tidak mau!" tolak Yu Zixia cepat dan tegas. "Kenapa semua racunku tak berpengaruh padamu?" tanya Yu Zixia lagi dengan heran dan bingung.


"Karena aku memiliki cara untuk tetap bisa berdiri di dekatmu," jawaban ambigu yang diberikan Lin Yuhua membuat Yu Zixia mencibir.


"Cih, aku tak peduli!" selorohnya tak lagi peduli dengan pelukan Lin Yuhua padanya.


"Tentu saja kau peduli, kau ingin meracuniku bukan? Kau ingin aku menjauh darimu sekarang tapi sayang," Lin Yuhua semakin mempererat pelukannya di tubuh Yu Zixia.


"Aku sudah lebih dulu tau rencanamu, kau hanya bisa menerima takdir untuk tetap berada dipelukkan diriku untuk selama-lamanya." Lin Yuhua tersenyum senang saat Yu Zixia tak lagi berusaha melawan atau mendorong tubuhnya.


"Percuma bukan jika aku melawan dirimu? Kau pasti akan menggunakan kekuatanmu lagi dan lagi kau itu hanya bisa menyakiti diriku," ujar Yu Zixia tak peduli.


Sebagai gantinya Yu Zixia kembali melanjutkan pekerjaannya untuk meracik dan menyempurnakan obatnya.


"Kau berbicara yang tidak benar, aku hanya ingin bersamamu dan membalas semua perbuatan buruk yang telah kulakukan, aku benar-benar ingin memperbaiki hubungan kita," ujar Lin Yuhua berusaha mencari cara merebut perhatian Yu Zixia lagi.


"Aku tidak akan memaafkan orang yang tak pernah percaya padaku, akibat perkataanmu seluruh keluargaku mati. Banyak orang yang tak bersalah yang menjadi korban kebodohan dirimu," tolak Yu Zixia dengan cepat dan lugas.


"Ya, aku memang salah karena tak mendengarkan ucapanmu dan aku menyesal soal itu. Kau maukan memaafkan diriku sekali ini saja," pinta Lin Yuhua sembari meraba tubuh Yu Zixia yang tak mengacuhkan kehadirannya.


"Kenapa? Dulu kau selalu haus dengan sentuhanku," ujar Lin Yuhua tak peduli.


Dengan nakal ia tetap menyusuri perut Yu Zixia yang masih ditutupi oleh pakaiannya.


"Jauhkan tanganmu dari tubuhku! Aku sekarang istri Putra Mahkota Angkrea, dulu itu hanya masa lalu yang harus dilupakan." Lagi, Yu Zixia berusaha menolak kehadiran Lin Yuhua.


"Kau ingin melupakan diriku?" tanya Lin Yuhua yang bahkan menghentikan pergerakan tangannya.


"Tentu saja, kenangan buruk itu untuk dilupakan dan dibuang sejauh mungkin. Lagipula hal apa yang harus kuingat dari dirimu yang telah membuang dan mencampakkan diriku." Yu Zixia menatap Lin Yuhua dengan tajam.


"Aku memiliki masa depan yang panjang dan cerah untuk apa memikirkan sesuatu yang akan membuat diriku terus-menerus merasakan sakit dan kebencian." Yu Zixia akhirnya meluapkan apa yang ada di hati dan pikirannya.


"Kau tidak boleh melupakan diriku," ujar Lin Yuhua kesal, seketika matanya memerah dengan kekuatan yang kuat meluap dari dalam tubuhnya.


"Kenapa aku tidak boleh melupakanmu? Kau ingin aku hancur dan terus-menerus mengenangmu dalam luka yang mendalam?" tanya Yu Zixia dengan nada keras dan kemarahan yang luar biasa.


"Hei bocah tenangkan dirimu!" perintah Ru Ansan yang akhirnya mau mengeluarkan suaranya.


"Kenapa?" tanya Yu Zixia di dalam pikirannya.


"Kau membuatnya marah, ayo buat dia tenang kembali sebelum dia menghancurkan seluruh kerajaan ini!" bujuk Ru Ansan lagi sembari memperhatikan perubahan di dalam dimensi tempatnya berlindung akibat luapan kekuatan Lin Yuhua.


"Apa yang kau lakukan?" Yu Zixia bertanya saat tubuhnya kembali tak bisa di gerakkan sedikitpun.


"Membawamu kembali untuk pernikahan kita," sahut Lin Yuhua tak peduli, dia menggendong tubuh Yu Zixia dan menghilang dalam sekejap dari tempatnya tadi.


"Tidak mau," tolak Yu Zixia cepat, seketika dia teringat semua kenangan buruknya yang terjadi di kerajaan Yuhuan.


"Teruslah menolak kehadiranku, kau sudah tau bahwa aku adalah orang yang kejam dan tidak pernah menerima penolakan. Berulangkali kau menolakku, ini saatnya kau harus tau bahwa aku tetaplah aku yang dulu yang selalu mendapatkan apa yang aku mau," ujar Lin Yuhua sembari memeluk erat tubuh Yu Zixia yang berada dalam pelukannya.


"Lalu menurutmu aku harus apa? Aku harus menerima semua kejahatan dirimu, iya? Maaf aku bukan dewa baik yang bisa dengan mudah melupakan sakit hati." Lagi Yu Zixia berusaha keras untuk menolak.


"Baldretaiya Ertrastrota.." ucap Lin Yuhua keras.


"Kau tidak mau mendengarkan diriku maka jadilah boneka sampai pernikahan kita selesai." Entah apa yang dibacakan oleh Lin Yuhua sebelumnya membuat pergerakan Yu Zixia langsung terhenti.


Matanya menjadi kosong sebentar sebelum kembali ada cahaya aneh di dalam bola mata indahnya. Yu Zixia yang telah diberi mantra akhirnya menjadi patuh dan memeluk tubuh Lin Yuhua erat.


"Kemana kita akan pergi Yang Mulia?" tanyanya dengan nada lembut yang mampu melemahkan hati siapa saja.


"Kita akan pulang, kau harus jadi anak baik yang patuh dan mendengarkan semua ucapanku mengerti?" tanyanya pada Yu Zixia yang memeluk lehernya erat.


"Mengerti Yang Mulia," jawab Yu Zixia cepat.


"Ini tidak mungkin," teriak Ru Ansan yang sedang bersembunyi di dalam ruang. "Kenapa dia bisa mendapatkan ilmu ini? Ilmu ini hanya ada di dalam buku yang kusimpan khusus untuk Yu Zixia nanti, kenapa dia bisa mempelajarinya?" tanya Ru Ansan heran.