Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
215 (Kemunculan Phoenix Di Langit)


Pria itu menganggukkan kepala pertanda menyetujui apa yang telah diucapkan oleh Yuhua, memang benar tempat mereka disebut benua Qi. Benua yang dulu paling terkenal dengan tenaga medisnya dan paling banyak ahli muncul di sini namun, semenjak energi spiritual asli menghilang satu-persatu ahli yang ada di benua ini menghilang tanpa jejak dan ada yang ditemukan meninggal dalam kondisi yang sangat mengenaskan.


"Istriku memiliki kemampuan medis yang handal, tapi kami tidak membantu secara gratis. Kau bisa meminta tolong pada kami sesuka hatimu tapi bayaran kami harus sesuai dengan kinerja kami." Yuhua bersandar malas pada dinding gua sembari bermain dengan api yang menerangi tempat tersebut.


Pria itu tampak termenung, dia tidak tahu harus menjawab apa lantaran hanya tuannya lah yang bisa memberikan jawaban tersebut.


"Aku hanya pelayan di sini, bagaimana kalau kau berbicara dengan pangeran nanti. Dia pasti akan memberikan dirimu bayaran yang adil dan tidak semena-mena." Pelayan itu tersenyum tulus karena jawaban itu yang hanya bisa dia pikirkan saat ini.


Yuhua menganggukkan kepala tanda memaklumi maksud si pelayan, dengan cepat mereka menghabiskan makanan mereka, mereka menunggu hujan reda agar bisa pergi meninggalkan gua untuk menyelamatkan pangeran si pelayan. Meski tidak ingin ikut campur dalam permasalahan rumit ini tapi Yuhua dan Zixia tidak memiliki cara lain untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat tentang benua Qi ini.


Setelah hujan reda, mereka bertiga langsung menggunakan kekuatan masing-masing untuk pergi menuju ke tempat yang ditunjukkan di pelayan. Karena si pelayan bergerak terlalu lambat terpaksa Yuhua menggunakan kekuatannya untuk menerbangkan si pelayan bersama mereka.


Perjalanan itu cukup menempuh waktu yang tidak sedikit, sesampainya di depan sebuah gua yang pintunya tertutup batu. Si pelayan menatap Yuhua seperti meminta pertolongan untuk menyingkirkan batu tersebut, Yuhua melambaikan tangan dan dalam sekejap Bayu besar itu langsung hancur berkeping-keping.


Pelayan itu dengan cepat menggelengkan kepala, dia berlari masuk ke dalam untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, dia takut kalau majikannya itu mengalami sesuatu di dalam gua. Saat akan masuk, Yuhua membaca mantra agar tidak ada yang melihat pintu gua.


Zixia melangkah masuk sembari menajamkan pendengarannya, dia merasa ada bunyi napas yang tersengal-sengal di dalam sana, seolah sedang menahan sakit yang begitu kuat. Terdengar seruan terkejut yang menjelaskan kalau apa yang dicari oleh si pelayan sudah dia temukan.


"Yang Mulia! Saya berhasil menemukan Tabib, Anda pasti bisa diselamatkan, sebentar lagi kita akan dapat merenggut kekuasaan dan kekuatan yang seharusnya menjadi milik Anda sejak dulu. Tetapi mereka meminta harga yang tinggi," jelas si pelayan pada pangeran yang tampak sekarat itu.


Pangeran itu terkejut mendengar pelayan kepercayaannya berhasil menemukan Tabib, dia menertawakan si pelayan sembari memegang dadanya lalu terbatuk memuntahkan darah yang sedikit berwarna kehitaman.


"Saya tidak berbohong, Yang Mulia! Saya memang berhasil menemukan Tabib untuk menyelematkan Anda, mereka di sini bersama saya." Pelayan itu terus mencoba meyakinkan tuannya itu. "Anda lihat saya! Saya tidak memiliki luka lagi bahkan luka dalam saya juga berhasil disembuhkan oleh mereka."


Si pangeran membuka mata, dia melirik pelayan yang sejak kecil bersama dengan dirinya. Semenjak kekuatan spiritual menurun di sini kekacauan terjadi di mana-mana, banyak orang menjadi korban dan bahkan ada beberapa orang yang menjadi serakah.