
Du Zi melihat sekeliling berharap ada orang yang akan masuk dan dapat menyampaikan pesannya pada Liu Zixia. Saat itulah, Liu Zhang memperhatikan ada keributan di depan, beberapa orang terlihat memaksa untuk masuk namun kekuatan penjaga yang bertugas membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Beberapa orang saling mendorong, bahkan ada yang terinjak-injak karena mereka tidak bisa menyeimbangkan diri dan terjatuh. Teriakan kesakitan membuat penjaga marah, dia berteriak menggunakan kekuatannya membuat orang-orang yang bergerak maju terbang ke belakang dan terjungkal.
Saat itulah kereta mewah juga datang, mereka memperlihatkan indentitas mereka menggunakan token hingga penjaga membukakan pintu. Pada saat itu seorang perempuan melangkah maju menghadang kereta, dia menyerahkan sebuah surat meminta surat itu disampaikan ke bagian dalam.
Pengemudi kereta mengambil surat itu berjanji akan memberikan surat itu pada orang yang dituju. Du Zi memikirkan sesuatu juga, mencari sebuah kain untuk dirobek yang akan dia gunakan untuk menulis surat pada Liu Zixia.
Setelah kereta masuk pintu gerbang ditutup kembali, salah satu penjaga yang bertugas ikut masuk ke dalam untuk melaporkan kejadian barusan. Mungkin ia ingin meminta tambahan penjaga keamanan, Du Zi terlihat kecewa namun ia terus menulis berharap ada orang yang datang lagi suatu hari nanti.
Pengemudi kereta itu mengantar tuannya terlebih dahulu sebelum menuju kediaman He Yidu untuk menyampaikan surat itu. Dia berdiri di depan gerbang kediaman He Yidu sambil memegang surat dengan ekspresi gugup, penjaga keamanan yang bertugas di depan kediaman datang menemui dirinya karena curiga akan gerak-gerik pria itu.
"Apa yang kau cari di sini?" tanya penjaga itu berusaha bersikap ramah.
"Aku datang membawa surat yang dikirim seseorang di gerbang luar. Tapi nama orang yang ditulis dalam surat ini bukan berasal dari Benua Atas tampaknya," ujar penjaga itu sambil menyerahkan surat yang dititipkan tadi.
Di atas surat tertulis karakter nama Liu Zixia, penjaga yang melihat nama itu langsung menjadi penasaran. "Siapa yang mengirim surat ini? Di mana mereka saat ini?" tanya penjaga kediaman dengan antusias.
"Seorang wanita, dia menitipkan surat ini tadi saat kami berdiri di luar gerbang masuk utama. Dia mengatakan ibu wanita di dalam surat bersama mereka saat ini," bisik pengemudi kereta ragu.
Penjaga gerbang membuka pintu sedikit untuk masuk dengan tangan masih memegang surat itu, dia dengan terburu-buru mencari keberadaan He Yidu. "Tuan!" ucapnya dengan napas tidak beraturan saya berhasil menemukan He Yidu yang saat ini tengah berlatih pedang.
"Seseorang mengirimkan surat kepada Nyonya Zixia, Tuan! Mereka mengatakan mereka bersama ibu Nyonya." Pelayan itu menunduk lalu berjalan mendekat pada He Yidu sambil menyerahkan surat itu. "Orang yang mengirim surat itu adalah pengemudi kereta dari keluarga Zhuang."
"Kau beri hadiah pada orang itu, aku akan menemukan Liu Zixia menanyakan soal kebenaran surat ini terlebih dahulu." He Yidu mengambil kain kecil yang telah disediakan Kasim untuk mengeringkan peluh di keningnya. Dengan terburu-buru dia berjalan menuju ke halaman utama yang sekarang ditempati oleh Liu Zixia.
"Istriku!" panggil He Yidu dengan penuh semangat, dia berjalan mendekat namun dilempar oleh Lin Yuhua menggunakan biji teratai.
"Kau bau! Dia tidak akan mau berada di dekatmu," cegahnya dengan nada pelan.
He Yidu terlihat ragu, ia mengangkat tangan untuk mencium bau keringatnya lalu berjalan menuju ke arah Lin Yuhua untuk menyerahkan surat itu. "Berikan ini padanya! Aku akan mandi dulu, seseorang mengirimkannya ke gerbang mengatakan kalau ibu Zixia bersama mereka saat ini."
Setelah mengatakan itu He Yidu langsung kabur, ia berencana untuk membersihkan diri. Lin Yuhua melihat nama yang tertulis di surat, ia berjalan menuju Liu Zixia yang saat ini tengah berbaring di bawah pohon besar di tengah teriknya matahari.
"Sayang! Ada surat untukmu," ucapnya tanpa basa-basi, Lin Yuhua meletakkan surat itu di atas perut Liu Zixia lalu berjalan ke arah Yizu yang saat ini tengah digendong oleh Long Ze, Yizu terpaksa ikut Ling Ze sebab Ye Lian diberi tugas oleh Ling Zhi untuk membeli beberapa kain yang akan dijahit menjadi pakaian.
###
Dirgahayu Republik Indonesia, selamat untuk negeriku, semoga virus Corona segera pergi dan kita bisa 17 Agustusan seperti biasa. Susah merayakan kemerdekaan di tengah jajahan Corona yang enggak mau minggat walau sudah diusir 🤭🤭🤭🤭.