
Ru Ansan terus menyerang si monster untuk melampiaskan kekesalannya karena telah membantu Ruan Zu kabur. Ru Ansan bahkan dengan sengaja memotong sedikit demi sedikit bagian tubuh si monster menyebabkan si monster mengerang marah.
Si monster menambah ukuran tubuhnya beberapa kali lipat, kekuatannya juga bertambah kuat setiap kali ukuran tubuhnya semakin membesar. Mata monster itu juga tumbuh di bagian lain, sehingga dia bisa melihat serangan Ru Ansan dari bagian manapun.
Ru Ansan di sisi lain juga semakin bersemangat, dia makin menyerang dengan gerakan brutal tanpa ampun. Saat pertengkaran semakin seru sebuah cahaya putih terang menebas monster itu menjadi dua bagian.
Dari arah belakang kereta Liu Zixia, muncul He Yidu dengan pakaian putih miliknya yang bersih, He Yidu hanya melambaikan seruling putih miliknya secara santai tanpa mengeluarkan banyak tenaga. Ru Ansan memicing melihat ke arah He Yidu lalu melihat pada ular kecil yang berada di bahunya.
"Kita bertemu lagi! Sempat terpikir kenapa ada rombongan kereta yang berkumpul di sini seolah tengah merayakan sesuatu, setelah mendekat ternyata itu malah kalian semua. Kemana tujuan kalian selanjutnya?" tanya He Yidu dengan senyum ramah.
Liu Zixia melirik ke arah pria itu, dia mengernyit bingung lalu tersenyum cerah kala melihat wajah yang sudah lama tidak dilihatnya dulu. He Yidu adalah salah satu dari mereka yang dulu selalu menjaga dirinya, berbanding terbalik dengan Lin Yuhua yang selalu melindunginya tanpa lelah.
He Yidu sering bersikap dingin, tidak peduli dan bahkan terkesan tidak menganggap dirinya ada namun saat dirinya membutuhkan pertolongan He Yidu akan selalu datang tanpa diminta lalu pergi seolah dia bukan orang yang bersangkutan.
He Yidu adalah orang pertama yang mati di tangan musuh ketika melindunginya waktu itu, air mata Liu Zixia jatuh tanpa dia sadari ketika mengingat kejadian buruk itu. Di mana tangan, kaki serta anggota tubuh He Yidu dipotong sedikit demi sedikit ketika dia masih hidup.
"Jangan menangis!" bisik Ling Zhi lembut.
Ling Zhi tahu kalau Liu Zixia mengingat semua masa lalu mereka dan dia juga sadar kalau apa yang diperbuat Ling Zhi sudah menjadi sebuah kenangan bagi Liu Zixia.
"Dia hidup kembali, akhirnya aku bisa membalas kebaikan yang telah ia lakukan padaku dan pada kalian semua. Pengorbanan yang ia lakukan walau sia-sia masih tidak bisa aku lupakan sampai sekarang." Liu Zixia memeluk Ling Zhi menyembunyikan air matanya yang terus jatuh tanpa henti.
Ia memeriksa gerbong kereta satu-persatu, mengabaikan tangisan kesedihan Liu Zixia. Setelah memastikan tidak ada musuh yang bersembunyi di dalam kereta lagi, Long Ze mengeluarkan bubuk aneh melemparnya ke udara agar bisa dihirup oleh para korban Ruan Zu.
Setelah para korban Ruan Zu menghirup aroma bubuk itu mereka yang berada di bawah kendali Ruan Zu langsung sadar, satu-persatu dari mereka turun memeriksa lingkungan sekitar dengan wajah bingung.
Berbeda dengan kaum perempuan yang langsung berteriak ketakutan, ternyata Ruan Zu sengaja memberikan mereka obat pengendali pikiran agar perjalanan panjang yang mereka tempuh aman tanpa mengalami kendala apapun.
"Akhirnya kita bebas!" teriak salah satu perempuan yang telah berhasil mengatur perasaannya.
Dengan senyum gembira mereka melihat sekeliling lalu memerah malu saat melihat ada beberapa pria tampan.
"Apakah kalian yang menolong kami? Apa yang bisa kami berikan pada kalian sebagai ucapan terima kasih?" Salah satu dari para perempuan itu melemparkan tatapan genit pada Long Ze.
Long Ze tidak terlalu memikirkan tindakan itu, dia berjalan menuju ke arah Liu Zixia mengecup pipi Liu Zixia yang merah karena menangis lalu duduk di kereta mereka. Ye Lian melakukan hal yang sama dengan Long Ze, dia juga mengabaikan pandangan memuja para wanita itu lalu duduk di sebelah Long Ze.
Ru Ansan yang telah diganggu hanya bisa menyimpan pedang darah miliknya, ia berjalan masuk ke dalam kereta mengganti bajunya dengan lambaian tangan lalu duduk manis menunggu Liu Zixia datang. Liu Zixia berhasil menghapus air matanya, dengan dibantu oleh Ling Zhi dia berjalan dengan hati-hati menunj kereta.
"Kami akan pergi ke benua atas, terima kasih jika Anda memang ingin pergi bersama kami karena kami tidak memiliki token masuk benua atas." Ling Zhi menjawab ucapan He Yidu.