
Zixia ikut merasakan sakit yang dirasakan He Yidu, tubuh He Yidu bergetar hebat. Liu Zixia meraih tubuh He Yidu mendekapnya dengan erat berusaha menyingkirkan kenangan buruk yang menimpa He Yidu.
"Tidak apa-apa, kalau kau ingin balas dendam pada mereka maka aku akan membantu dirimu. Besok mereka ke sini bukan? Aku akan memberi mereka pelajaran, kau tenang saja. Rasa sakit yang aku rasakan akan aku balas berkali-kali lipat." Zixia menepuk punggung He Yidu membuat He Yidu merasa tenang.
Jantung He Yidu berdetak dengan kencang, ia merasa nyaman dengan kehadiran Liu Zixia di sisinya. He Yidu menutup mata menikmati perlindungan yang ia dapatkan dari pasangannya.
"Apakah aku harus melayanimu hari ini?" tanya He Yidu yang langsung mengubah suasana harmonis menjadi canggung.
"Tidak! Aku baru saja melahirkan, kondisiku masih belum pulih. Aku tidak akan menerima siapapun sampai empat bulan ke depan," tolak Liu Zixia dengan cepat.
Zixia melepas pelukannya lalu berbaring di sisi dalam tempat tidur, ia mengabaikan keberadaan He Yidu karena rasa malu yang ia miliki.
"Tapi ibuku mengatakan kalau pria harus menyenangkan pasangannya. Ibu berkata perempuan adalah ratu yang harus diberi kepuasan." He Yidu menolak untuk menyerah, dia takut Liu Zixia akan memperlakukan dirinya sama seperti ibunya.
"Ibumu terlalu bangga menjadi wanita, laki-laki dan perempuan itu sama. Mereka memiliki hak untuk menolak atau menerima, ibumu hanya melakukan itu karena tidak ingin haknya jatuh. Kalau tidak apa kau pikir ayahmu bisa terbebas dari ibumu begitu saja? Pasti di sini ada hukum yang dapat menjaga kehormatan laki-laki meski wanita tetap menjadi prioritas utama. Lagipula sebentar lagi hukum dunia ini akan berubah karena jumlah wanita yang dilahirkan hampir sama dengan jumlah laki-laki." Zixia memutar tubuhnya.
Ia menatap jengah pada He Yidu yang meskipun memiliki kekuatan tapi tidak tahu apa-apa sama sekali.
He Yidu terdiam mendengar ucapan Liu Zixia, ya, dia memang takut dengan masa lalu. Dia takut orang yang menjadi pasangannya akan berbuat sama dengan ibunya, dia takut pasangannya akan memperlakukan dirinya dengan kejam.
Sadar akan kebenaran itu, He Yidu ikut berbaring di sisi Liu Zixia. Keduanya tidur dalam damai menyisakan gejolak ketakutan di hati suami Zixia yang lain. Ye Lian di sisi lain ditugaskan menjaga Yizu yang bangun di tengah malam.
Paginya, Zixia ke luar dari kamar pengantin dengan senyum bahagia. Ia langsung mencari keberadaan Yizu meninggalkan He Yidu yang masih belum bangun.
Melihat kedatangan istri mereka, suami Liu Zixia langsung tersenyum. Mereka langsung mengerubungi Liu Zixia bahkan membuka pakaian atas Liu Zixia untuk melihat sesuatu.
"Jangan menyentuhku seenaknya! Aku sudah mengatakan kalau aku tidak akan memberikanmu jatah pada siapapun sampai empat bulan ke depan." Zixia berkacak pinggang menatap jengah suaminya yang malah tersenyum tanpa dosa.
Zixia ingin mengambil Yizu yang sedang minum susu namun si kecil tampak tidak senang terbukti dari bibirnya yang cemberut dan akan menangis. Melihat itu Zixia menjadi kesal dan ingin marah, anaknya lebih suka dengan ayah keduanya daripada orangtua kandungnya.
"Ketika ayah keduamu memiliki putrinya sendiri kau akan diabaikan olehnya saat itu kau akan menangis pada ibumu ini." Zixia mencubit pipi Yizu membuat Yizu kesakitan dan menangis dengan keras.
Ye Lian menatap tajam Zixia penuh peringatan yang dibalas Zixia dengan senyum tanpa dosa. Lin Yuhua berjalan ke dapur, ia mengambilkan sarapan untuk Liu Zixia lalu duduk di sebelah Liu Zixia. Saat mereka tengah tertawa keributan terdengar dari arah aula pertemuan, seorang wanita berteriak menyebabkan kekacauan di dalam ruangan itu.