
Liu Zixia menatap Lin Yuhua dengan enggan, dia meremas baju Lin Yuhua hingga kusut lalu mencubit pinggang Lin Yuhua membuat Lin Yuhua mengaduh kesakitan. "Bagaimana jika dia meminta jatah? Aku tegaskan padamu kalau aku tidak akan memberikan semua itu dalam empat bulan ke depan."
Liu Zixia mencoba bersikap tegas namun apa yang ia perlihatkan malah membuat suaminya semakin gemas. Mereka yang berada di dalam ruangan langsung mengangguk, mereka takut membuat Liu Zixia marah.
"Jangan hanya mengangguk saja! Aku ingin kalian mematuhi apa yang aku katakan." Sekali lagi Liu Zixia memperjelas ucapannya.
"Pengantin pria telah datang!" bisikan lembut dari Ling Zhi yang bertugas menjaga pintu membuat tiga suami Liu Zixia enggan untuk ke luar dari kamar pengantin.
Menjelang sampai ke pintu mereka terus berbalik, terutama Ye Lian yang belum puas bersama Liu Zixia sebab kesempatan yang ia miliki terus direnggut darinya. Liu Zixia menatap kepergian suaminya dengan cemoohan, sebisa mungkin Liu Zixia mencoba menahan tawa yang bisa lepas kapan saja dari bibirnya.
Liu Zixia yang ditinggal sendiri memilih duduk di tempat tidur dengan tangan memegang buah yang diambilnya dari dalam ruang. Aroma manis buah memasuki penciumannya membuat pikiran kacau Zixia menjadi tenang.
Pintu terbuka dari luar, He Yidu masuk ke dalam dengan pakaian merah muda yang tampak membuatnya menjadi mengemaskan. Zixia ingin tertawa tapi tawanya hanya bisa ia tahan takut membuat He Yidu kecewa.
He Yidu berjalan menuju ke tempat tidur, ia duduk di samping Liu Zixia dengan gugup dengan jarak antara mereka cukup jauh. Liu Zixia yang tahu perasaan He Yidu mencoba mendekat, ia melempar buah yang tadi dimakannya ke dalam ruang lalu memegang tangan He Yidu.
"Jangan terlalu banyak berpikir! Mungkin aku tidak bisa memberikan suamiku hal terbaik tapi aku tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak adil pada mereka. Aku tahu kau mau menikahimu karena ramalan gurumu, aku juga tahu rasa sakit yang kau rasakan tali percayalah! Aku tidak sama dengan ibumu dan tidak semua perempuan yang menikahi lebih dari satu suami akan seperti ibumu." Zixia mencoba meyakinkan He Yidu menenangkan He Yidu yang gugup sekaligus takut.
He Yidu mengangkat kepalanya, matanya memerah seperti hendak menangis. Selama ini, dia selalu bersikap kuat karena tidak ingin dihina dan dipandang rendah lagi. Penyiksaan yang diterimanya dari kecil sudah menjadi ketakutan tersendiri baginya terhadap wanita.
Ibunya selalu mengatakan kalau laki-laki itu tidak berharga, lelaki yang diinginkan oleh wanita adalah lelaki tangguh dari keturunan orang-orang berjabatan. Sedangkan ayah He Yidu hanyalah seorang pria yang ditemukan ibunya di tepi jalan.
Itu sebabnya statusnya dalam keluarga sangat rendah, dia dan ayahnya selalu mendapat perlakuan tidak adil dari ibu maupun suami serta anak-anak ibunya yang lain. He Yidu bisa pergi dari rumah itu setelah dia memiliki kekuatan dan mendapatkan keistimewaan dari pihak kerajaan Benua Atas tepat sebelum ayahnya menghilang tanpa jejak.
Statusnya juga diangkat sebagai salah satu pangeran Benua Atas, dia sendiri tidak tahu dari mana gelar itu berasal. Dia diperlakukan dengan baik setelah semua barang-barang bagus dari Istana kerajaan Benua Atas datang ke kediamannya yang juga diberikan pihak istana.
"Ibuku selalu mengatakan aku anak yang tidak berguna, dia memperlakukan diriku dan ayah seperti sampah. Kami selalu mendapat hinaan, tendangan, sumpah serapah bahkan kami tidak diberi makan jika suasana hati mereka sedang tidak baik-baik saja." He Yidu akhirnya berbicara.
"Aku yakin semua yang aku dapatkan hari ini karena status ayah yang telah diketahui oleh pihak kerajaan Benua Atas. Ayah ternyata salah satu pangeran, tapi sampai sekarang ibuku belum tahu karena ayah dan ibu tidak menikah secara resmi status ayah juga tidak memungkinkan ibu untuk mencaritahu tentang beliau." He Yidu bersyukur ingatan ayahnya kembali, jika tidak mereka akan tetap mendapat perlakuan tidak adil.
"Setiap hari aku akan dipukuli, disiksa seperti hewan karena menurut ibu aku mati pun tidak akan ada yang peduli. Aku kadang hanya akan diberi makan roti saat malam hari, tidur di luar tanpa selimut dan bahkan aku harus mematuhi saudara perempuanku. Jika melawan maka pukulan yang aku dapatkan akan meningkat berkali-kali lipat." He Yidu mengenang apa yang telah ia lalui.
He Yidu menatap Liu Zixia, air matanya jatuh tanpa bisa ia cegah. "Aku bahkan dipaksa memakan kotoran saat masih kecil, dipermainkan layaknya hewan peliharaan yang tidak berharga. Ibu bahkan akan tertawa senang saat aku terluka dipukuli oleh suami maupun saudaraku yang lain." Kenangan buruk itu meninggalkan bekas luka mendalam di hati He Yidu.