Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#154


Liu Zixia mendekati Ru Ansan membuat Ru Ansan menjadi curiga, mengabaikan wajah masam Ru Ansan Liu Zixia makin mengatasi jarak di antara mereka. Satu tangan Ru Ansan ditarik oleh Liu Zixia, digenggamnya tangan itu dengan erat.


"Katakan apa maumu? Sejak tadi aku sudah menaruh curiga akan sikapmu yang begitu penurut," cibir Ru Ansan dengan mata menyipit.


Liu Zixia terkekeh, bibir cantiknya membentuk bulan sabit tanpa rasa bersalah sama sekali. "Aku ingin menanyakan sesuatu, bisakah kau membantuku agar tubuhku tidak melebar setelah melahirkan."


Ru Ansan tertawa mendengar ucapan Liu Zixia, sebuah ide jahil tercipta di otaknya. "Wajar jika tubuh melebar setelah melahirkan, semua wanita akan mengalami itu semua. Apa yang kau takutkan? Bukankah semua suamimu mencintai dirimu?"


"Mereka memang mencintaiku sekarang tapi siapa yang tahu perasaan mereka nanti. Aku hanya ingin berjaga-jaga saja, banyak wanita yang mengeluh tentang suami mereka yang mencari wanita lain setelah istrinya melahirkan." Liu Zixia terlihat tidak percaya diri sama sekali.


"Kau tidak percaya pada perasaan mereka?" tanya Ru Ansan sengaja memancing, di luar telinga pasangan Liu Zixia berdiri tegak.


Mereka tahu ketakutan yang dirasakan Zixia, "Ru Ansan! Apakah ada ramuan yang bisa membuat pasangan lelaki terikat dengan pasangan wanitanya?" tanya Long Ze sigap, ia sungguh tidak ingin mendengar Liu Zixia berbicara.


Bukan takut, Long Ze hanya tidak mampu membuat Liu Zixia memikirkan banyak hal hingga menyebabkan masalah timbul dalam hubungan mereka.


"Memangnya kau pikir ini dunia binatang yang kesuburan wanitanya rendah? Jika pun ada hal seperti itu maka itu bukan karena ramuan tapi lebih karena itu adalah sesuatu mutlak yang harus terjadi agar wanita tidak dilecehkan. Aku salut dengan hukum di sini, wanita boleh memiliki banyak suami tapi tidak menetapkan hukum pasti agar wanita mendapatkan perlakuan serta perlindungan yang adil." Ru Ansan mencemooh.


"Apa itu dunia binatang?" Ling Zhi tampak penasaran, baru kali ini dia mendengar hal seperti ini. Sebelumnya dia bahkan tidak tahu kalau binatang memiliki dunianya sendiri.


"Apa itulah novel dan apa itu komik?" Kali ini giliran Ye Lian yang bertanya. Ia bahkan memasukkan kepalanya ke dalam kereta, membuat Ru Ansan dengan kesal mendorongnya ke luar dengan kekuatan penuh.


"Novel itu seperti buku, di dalamnya ada berbagai kisah yang diceritakan. Sedangkan komik adalah sebuah bacaan dengan gambar lengkap sehingga setiap adegan dapat dipahami dengan jelas." Dengan sabar Ru Ansan menyebutkan apa yang tadi dia lontarkan secara tidak sengaja.


"Jadi begitu, apakah isi novel sama dengan cerita penyair jalanan yang ada di pasar dan restoran?" Ye Lian mengangguk tanda paham namun kembali melontarkan pertanyaan.


"Bisa jadi, tapi aku belum pernah bertemu penyair yang kau sebutkan. Apa di sini juga ada buku untuk dibaca?" Ru Ansan tampak penasaran sebuah ide baru meluncur dalam pikirannya untuk menghasilkan uang walau dia tidak membutuhkan semua itu.


"Ada, tapi hanya buku pendidikan, ilmu negara, serta ilmu perang saja." Ye Lian tampak berpikir sebelum menjawab.


"Nanti ketika kita sampai di benua atas kita akan menghasilkan uang di sana." Ru Ansan tertawa senang, ia bertepuk tangan dengan gembira membuat Liu Zixia ikut senang.


"Kau ingin ke benua atas?" tanya Liu Zixia lagi, kali ini Liu Zixia menatap Ru Ansan dengan penuh pertimbangan.


Ru Ansan berbeda dengan binatang kontraknya yang lain, Ru Ansan memiliki kecerdasan, kemampuan, serta keinginan sendiri yang sulit dipahami oleh dirinya sebagai pemilik.


"Hem, aku ingin memiliki pasangan, pria tampan serta berondong manis." Ru Ansan menjawab asal tapi siapa yang tahu apa isi otaknya.