Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#36


"Darimana kau belajar mendapatkan mulut manis seperti itu?" tanya Yu Zixia setelah berhasil menenangkan diri.


Yu Zixia terus melihat-lihat ke sekeliling dan memikirkan di mana mereka akan tinggal malam ini. Yu Zixia memikirkan cara hingga berjalan menuju ke arah pintu sembari berpegangan tangan dengan Ye Lian.


"Kita akan membeli perlengkapan tidur dulu baru nanti kembali lagi ke sini!" terang Yu Zixia pada Ye Lian.


Baru saja Yu Zixia berjalan tiga langkah seorang pelayan muncul entah darimana dan sudah berhenti di depan dirinya membuat Yu Zixia menghentikan langkahnya secara mendadak.


"Mari ikut saya Nyonya! Saya akan menunjukkan kepada Anda di mana kamar yang akan Anda tempati malam ini," ujarnya dengan suara lembut namun tidak ada senyuman di bibirnya.


"Nyonya?" tanya Ye Lian terdengar tidak suka. Wajahnya mencebik kesal dengan nada pelan dengan suara penuh penekanan.


"Apakah salah?" tanya pelayan itu sembari melihat Ye Lian dengan sebelah alis terangkat.


"Kata-katamu itu akan membuat orang lain berpikir lain. Panggil istriku dengan sebutan Nyonya Ye agar orang lain tahu kalau dia adalah istriku," terang Ye Lian dengan wajah kesal ketika melihat wajah pura-pura pelayan di depannya.


"Oh, baiklah. Nyonya ... Ye silakan mengikuti saya agar Anda tahu di mana kamar Anda malam ini," ucap pelayan itu dengan hormat sembari berjalan menunjukkan kamar mana yang akan ditempatinya.


Sedangkan di sisi lain pria yang tadi pergi sedang mengintip mereka dari sebuah jendela kamar.


"Dadaku terasa sakit dan berdetak dengan kencang ketika melihatnya, aku sangat yakin dialah orang yang ditakdirkan untukku. Dialah jodohku, milikku!" kata pria itu sembari terus tersenyum.


"Tuan, saya sudah mengantar Nyonya ke kamarnya. Apakah saya harus membuat laki-laki yang bersamanya untuk pergi tuan?" tanya pelayan itu sembari menunduk dengan hormat.


"Tidak, dia akan membenciku jika aku menyakiti pria bersamanya. Kau harus melayaninya dengan baik! Oh, perintahkan juga yang lain untuk bersiap-siap kita akan pergi bersamanya besok." Pria tampan itu tersenyum kecil.


Ia membuka surat yang diberikan oleh Ye Lian padanya dengan seksama.


Jaga dan lindungi dia, siapa tahu kau bisa menjadi salah satu selirnya. Semoga kau beruntung dan berhasil meluluhkan hatinya.


Oh, pria yang bersamanya hanyalah selir utama jika kau mampu mungkin kau bisa menggeser posisinya, Ling Zhi.


Aku si penjaga.


"Heh, kau seenaknya saja berbicara. Akan aku pastikan padamu kalau aku akan menjadi salah satu pria yang dicintainya."


Ling Zhi membuka kipas lipatnya untuk melihat gambar seorang wanita dengan gaun biru lembut.


"Apakah dia adalah reinkarnasi dirimu, Sayang! Sudah berapa ratus tahun aku menunggu kau muncul kembali. Aku tidak akan melepaskan dirimu lagi ke tangan siapapun, aku juga tidak akan mengalah lagi dengan siapapun jika dia bisa memiliki dirimu maka aku juga harus bisa memilikimu."


Wajahnya hampir mirip dengan Yu Zixia hanya saja warna mata mereka berbeda. Warna mata wanita pada gambar itu sebiru lautan.


Rambutnya berwarna hitam dengan panjang yang menutupi sebagian tubuhnya.


Di tangannya ada sebuah pedang berbentuk es dengan ukuran Phoenix merah menyala di gagangnya.


"Aku tidak akan membiarkan orang lain melukaimu bahkan membiarkan air mata menitik di pipimu sedikitpun aku tidak akan membiarkan kau mengeluarkan darah lagi." Ling Zhi berjanji dengan sepenuh hati.


Tangannya menggenggam erat kipas lipat itu sebelum menutupnya kembali.


Malam hari datang, aroma dupa yang menenangkan membuat Yu Zixia yang telah dibuat lelah oleh Ye Lian memejamkan matanya dengan penuh kedamaian.


Hanya saja ia bermimpi sangat aneh. Di depannya ada gambar buram yang tidak jelas.


"Liu Zixia!" sebuah suara yang akrab memanggilnya dengan lembut dan penuh cinta.


Zixia berusaha melihat ke arah asal suara namun wajah orang yang memanggilnya tidak terlihat jelas.


Orang itu melewatinya dan berjalan ke depan, ke arah seorang gadis dengan rambut hitam yang sedang bermain di tepi kolam.


"Kau membuatku pusing mencarimu," ujarnya setelah sampai didekat gadis cantik itu.


"Kenapa mencariku, bukankah aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tidak mau menikah dengan Pangeran itu." Gadis itu berbicara dengan nada kerasnya.