Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#43


"Lalu bagaimana cara mematahkan segel itu?" tanya anak buah Ling Zhi dengan wajah penasaran.


"Hah ...." Ling Zhi menghembuskan nafas lelah, "Aku juga tidak tahu! Aku juga bingung kenapa dia bisa dilahirkan kembali di tempat yang tidak memiliki aliran qi ini sama sekali."


Ling Zhi bingung dengan keadaan yang diterima oleh Liu Zixia, dia juga melupakan semua kenangan masa lalunya seolah-olah ingatan itu juga ikut tersegel entah di mana? Ling Zhi harus segera mengaktifkan kekuatan Liu Zixia jika tidak ingin musuh mereka yang sebenarnya terbangun dan mencelakai Liu Zixia lagi.


"Tuan, apakah Nyonya akan baik-baik saja jika kekuatannya belum ada. Melepas segel butuh waktu untuk melihat segel apa yang terpasang. Dan yang paling penting setelah segel terlepas Nyonya perlu waktu untuk meningkatkan level qi-nya dari yang bawah sampai puncak." Anak buah itu berbicara sembari menatap Ling Zhi penasaran.


"Mau bagaimana lagi, sementara sampai kita mengetahui cara melepas segelnya kita harus menjaga dan melindunginya dengan baik." Ling Zhi mengangkat bahunya.


Liu Zixia terbangun lagi dengan mimpi-mimpi aneh yang memasuki ingatannya. Seolah-olah mimpi itu adalah kenyataan yang pernah dilaluinya.


"Kenapa lagi, Sayang?" tanya Ye Lian saat melihat Liu Zixia terduduk dengan nafas tak beraturan. Keringat mengalir di sekujur tubuh Liu Zixia, rambutnya juga basah oleh keringat.


"A-a-aku melihat," ucapan Liu Zixia terbata-bata, dia merasa takut saat melihat bagaimana gadis bernama sama dengannya itu dilukai.


"Di-d-d-dia di siksa, satu-persatu orang-orang yang melindunginya mati di depannya hingga akhirnya dia memilih mati." Liu Zixia terbata-bata.


Dia merasa takdir gadis itu sama seperti dirinya hanya saja, gadis yang dilihatnya memiliki kekuatan yang sangat besar. Semua orang takut dengannya sehingga dia ditakuti.


"Aku tahu bagaimana perasaannya! Aku merasakan sendiri bagaimana anggota keluargaku di bunuh satu-persatu, aku melihat bagaimana nyawa mereka lepas dari tubuh mereka."


"Baiklah, sekarang kau harus tenang. Kadang, apa yang dilihat oleh mata belum tentu yang sebenarnya. Itu bisa jadi sebuah ilusi atau apa yang dikomandoi oleh otak sehingga kita menggoda semuanya seperti itu.


Ye Lian berusaha membujuk hingga Liu Zixia tenang dan merasa damai. Pelukan hangat yang diberikan oleh Ye Lian membuat Liu Zixia kembali tertidur di dalam pelukkannya.


"Apa yang harus kau lalui maka harus kau lalui, Sayang!" bisik Ye Lian yang mengira Liu Zixia ketakutan dikejar-kejar oleh Lin Yuhua.


Mereka berdua kembali tertidur sampai siang hari dan baru keluar dari kamar melihat ke laut lepas.


Ketika ke-duanya sudah bangun ada makanan yang tersedia di atas meja makan untuk mereka berdua.


"Jika kalian merasa seperti pengantin baru kenapa harus ke luar kamar? Harusnya kalian tetap di kamar tanpa makan dan minum sekalian," sindir Ling Zhi saat melihat wajah lelah Liu Zixia.


Ling Zhi menatap tajam pada Ye Lian yang telah mengira kalau Liu Zixia lelah karena urusan ranjang.


"Jangan salah paham padaku!" bela Ye Lian atas tuduhan Ling Zhi, 'Eh, kenapa aku harus menjelaskan padanya semua itu? Liu Zixia adalah istriku dan aku berhak atas Liu Zixia. Lalu dia siapa berani memarahiku?' tanya Ye Lian di dalam hati saat sadar kalau Ling Zhi tidak berhak berbicara seperti itu padanya.