Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#210


Bai Ling putus asa setelah melihat kematian Ruan Zu di depan matanya, dia kehilangan minat untuk hidup setelah harapannya dibawa mati oleh Ruan Zu. Bai Ling tidak bergerak saat pedang tajam Yuhua menembus dadanya, cairan merah segar itu mengalir deras saat pedang tajam itu dicabut oleh Yuhua.


Bai Ling terjatuh ke belakang dengan air mata mengalir deras penuh kesedihan, dia berusaha merangkak menuju abu Ruan Zu memeluk abu itu ke dalam dekapannya lalu tertawa dengan keras. Tawa itu terlihat menakutkan di sekitar tempat perang, semua mayat iblis ditambah prajurit telah bertebaran di lapangan itu.


Saat semua orang merasa perang ini telah dimenangkan dan mereka bisa bersantai sejenak, guncangan hebat mengoyak kebahagiaan itu. Kepanikan tertulis jelas di wajah semua orang saat retakan mulai muncul di tanah, kepanikan langsung melanda semua orang apalagi sisa iblis yang masih selamat melarikan diri dari sana dengan cepat.


Zixia merasakan sesuatu yang salah, dia melirik pada Bai Ling yang masih tertawa bahagia. Mata Bai Ling menunjukkan keganasan serta kebencian menggantikan kesedihan yang berlipat-lipat ia rasakan tadi.


"Kalian tidak akan selamat hari ini hahahaha, kami sudah menyiapkan senjata penghancur yang kuat untuk menghilangkan Benua Atas. Bai Ling mengeluarkan benda berwarna biru terang dari balik lengan bajunya, benda itu adalah pemicu kejadian semua ini." Zixia membelalakkan mata tidak percaya atas apa yang ada di tangan Bai Ling.


"Siapkan mantra pemindahan segera! Lakukan pemindahan sekarang saja untuk mereka yang masih selamat dan dapat bertahan hidup." Zixia berteriak panik, dia sangat tahu betul arti dari benda yang dipegang oleh Bai Ling.


"Kalian juga sebaiknya pergi, kita tidak punya waktu lagi." Sekali lagi Zixia berteriak panik, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam ruang miliknya untuk menghentikan agar kerusakan yang disebabkan bola biru tidak merembet ke luar jalur.


Yuhua juga menggunakan kekuatannya untuk membantu Zixia menahan ledakan ini, Yuhua menatap He Yidu lalu melirik pada Ling Zhi dan Long Ze. He Yidu langsung mengerti, dengan menggunakan kekuatannya He Yidu melambaikan tangan menerbangkan Ling Zhi dan Long Ze ke dalam pintu pemindahan.


He Yidu juga melempar binatang kontrak miliknya bersama yang lain yang masih tersisa ke dalam pintu itu, segera setelah semua orang pergi pintu tertutup dengan rapat tidak menyisakan celah untuk orang-orang itu kembali ke sini. Setelah memastikan semua aman, He Yidu menggunakan sisa kekuatannya untuk membantu Yuhua dan Zixia menahan daya ledakan agar tidak menyebar ke Benua Bawah maupun Benua lain yang harusnya tidak ikut kena imbas pertempuran ini.


Ketiga dalam satu posisi berdekatan untuk menahan agar para iblis juga tidak ke luar dari tempat ini dan menyebabkan keributan lain di luar sana. Keringat dingin mengucur deras di kening Zixia begitu pula dua suaminya yang lain, He Yidu bahkan akhirnya memuntahkan cairan merah terang karena kekuatannya sudah mulai melemah.


Tidak tega dengan itu, Yuhua melempar He Yidu ke dalam ruang milik Zixia lalu menutup ruang agar tidak ada yang ke luar dari dalam sana. Saat itulah ledakan perlahan mulai terjadi, ledakan dimulai dari kecil hingga ke besar, Zixia memeluk Yuhua sembari memejamkan mata. Keduanya berpelukan erat menunggu ledakan itu datang ke sisi mereka, cahaya terang akibat ledakan itu langsung menelan ke-duanya mengantarkan cerita yang akhirnya entah dimenangkan oleh siapa.