Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#157


Di kekaisaran Yuhuan, Yunzia tengah dipaksa memakan sebuah hidangan oleh Zhang Ziyi. Sejak tadi pagi Zhang Ziyi memang sibuk di dapur kekaisaran, ia membuat beberapa makanan kesukaan Lin Yunzia yang dulu sering dimasaknya. Namun kali ini Zhang Ziyi membuat makanan dengan porsi besar, hal inilah yang membuat wajah Yunzia berubah seketika.


"Sayang! Apakah kau menyuruhku makan semua ini?" tanya Lin Yunzia dengan wajah mengerikan.


Zhang Ziyi mengangguk sebagai tanda persetujuan, dia tampak bahagia karena telah berhasil membuat semuanya dengan jumlah besar untuk Yunzia.


"Aku tidak bisa menghabiskan semuanya, Sayangku!" Yunzia menelan ludah.


Kengerian di wajah Yunzia tidak ia sembunyikan sama sekali namun Ziyi tampak tidak terpengaruh sama sekali.


"Tidak apa-apa kalau tersisa, aku akan menyuruh pelayan untuk membagikan makanan ini di antara mereka nanti." Ziyi tersenyum tidak peduli, Ziyi sama sekali tidak memperhatikan perubahan raut wajah Yunzia saat mendengar ucapannya tadi.


"Tidak, aku akan memakan semuanya. Kalau tidak habis sekarang simpan saja lalu panaskan untuk makan siang nanti." Yunzia merenggut tidak suka.


Ia mengambil sendok lalu makan perlahan bersama Ziyi, ia menikmati masakan istrinya dan tanpa sadar semua masakan di meja ludes tidak bersisa. Ziyi tersenyum senang melihat empat piring masakan yang ia masak sudah bersih seolah dicuci.


"Terima kasih!" ujar Ziyi dengan tulus bahkan matanya berkaca-kaca seperti hendak menangis.


"Sama-sama, Sayangku! Bahkan jika masakan istriku tidak enak aku akan tetap memakannya karena semua itu dibuat dengan cinta. Setelah makan aku akan memberikan saran kecil pada istriku agar ia bisa memasak lebih baik lagi." Yunzia mengangguk, ia berdiri dengan cepat lalu mendekap tubuh Ziyi dalam pelukannya.


"Kata-kata yang kau ucapkan manis sekali, aku beruntung mendapatkan pria seperti dirimu. Terima kasih telah mencintaiku! Terima kasih karena kau menunggu kedatanganku dalam hidupmu!" Ziyi meneteskan air mata haru.


Yunzia tertawa melihat sikap manis Ziyi, ia mengecup puncak kepala Ziyi menyalurkan cinta yang ia miliki.


"Masa laluku begitu buruk, aku yang beruntung telah mendapatkan dirimu." Yunzia menarik Ziyi untuk berdiri lalu membawanya berjalan-jalan di sekitar taman.


"Suamiku! Bagaimana dengan para selir milik kakakmu? Apakah mereka sudah dipulangkan?" Ziyi tampak penasaran, ia menengadah melihat Yuhua yang lebih tinggi darinya.


Yunzia yang melihat itu memanfaatkan kesempatan dengan mencium kening Ziyi lalu berpindah pada bibirnya yang merah alami. Wajah Ziyi langsung merona akibat tindakan Yunzia yang tidak tahu tempatnya itu.


Ziyi mengangguk tanda paham, mereka terus melanjutkan langkah kakinya hingga menyusuri halaman itu beberapa kali. Suasana tenang di istana membuat ke-duanya makin romantis dan penuh kasih.


"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau akan mengambil selir juga?" Ziyi mendongak kembali, kali ini kesedihan terlihat jelas di kedalaman matanya yang cerah tadi.


"Tidak! Kalau ingin menambah selir hal itu dapat kulakukan sejak dulu. Aku hanya mencintaimu dan akan selalu mencintaimu dalam hidupku, tidak peduli berapa banyak gadis cantik datang hanya kau yang akan bisa menggerakkan hatiku." Lin Yunzia menunduk, "dan hanya kau yang bisa menggerakkan nafsuku."


Ziyi merona malu akibat ucapan terakhir Yunzia, ia mencubit perut Yunzia lalu berjalan menuju ke arah kamar mereka. Melihat tindakan manis istrinya Yunzia tertawa lalu menyusul dengan sigap.


Lin Yuhua di dalam ruangan telah pulih namun ia masih belum dari sana. Ia berjalan ke sana ke mari di dalam ruang mencari sesuatu, setelah lama ia akhirnya menemukan ladang obat Liu Zixia. Ia mengambil beberapa bahan obat dengan nilai jual tinggi lalu berjalan ke arah kamarnya.


Anehnya, tanaman obat yang selesai diambil kembali tumbuh seperti tidak pernah disentuh sama sekali. Lin Yuhua merebus tanaman obat itu lalu menghirup aromanya, merasa tanaman obat itu cocok Lin Yuhua memadamkan api lalu mendinginkan tanaman obat itu.


Sembari menunggu tanaman obat dingin Lin Yuhua berjalan ke luar kamar menghirup udara di ruang yang penuh dengan energi spiritual.


"Ruang milik Liu Zixia tidak boleh bocor ke mulut orang lain, jika ini sampai ketahuan maka hidupnya tidak akan lagi tenang. Aku akan tumbuh semakin kuat agar bisa menjaganya, sekarang aku sadar kalau kekuatan yang aku miliki belum seberapa. Orang-orang dari benua atas pasti bisa mengalahkan diriku dalam sekali serang." Yuhua berbicara dengan nada suara penuh penyesalan.


Wajahnya berubah sedih dengan kekalahan tertulis jelas, Yuhua berjalan ke pohon besar yang ada di dalam ruang. Pohon itu adalah pohon yang mengeluarkan energi spiritual di dalam ruang, Lin Yuhua menyentuh pohon itu seolah dia bertemu dengan anak yang dulu dia rawat dengan penuh kasih sayang.


"Kau sudah besar Xiao Bao, aku tidak pernah mengira kalau tanaman yang aku bawa secara asal dapat bermanfaat sekarang." Yuhua mengusap batang pohon lembut seolah takut menyakiti.


Pohon itu bergerak sedikit, ranting kecil yang menjulur ke depan menunduk lalu memegang tangan Yuhua sama seperti Yuhua memegang dirinya. Melihat hal itu Yuhua terkejut bukan main sebelum berubah tenang kembali.


"Kau hidup Xiao Bao? Aku tidak pernah melupakan dirimu, mungkin ini hukuman bagiku karena telah menyakiti Zixia hingga semua kenangan yang pernah aku lalui tidak akan pernah bisa terhapus di dalam otakku meski aku telah menggunakan mantra." Yuhua mengeluh pada pohon itu.


Dia bersandar di bawah pohon memeluk ranting kecil yang menjulur ke bawah seolah seperti tangan yang ingin dipegang oleh kekasihnya terus-menerus.