Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#151


Ru Ansan tahu kalau Liu Zixia memperhatikan dirinya namun ia ingin membalas dendam atas sikap Liu Zixia yang melupakan dirinya beberapa hari ini. Ru Ansan terus mengabaikan Liu Zixia, ia terus memakan buah yang diambilnya dari dalam ruang.


Setelah semuanya selesai berganti baju mereka ke luar dari kereta dengan pakaian rapi, Ling Zhi memakai pakaian putih bersih seperti biasa. Long Ze memakai baju berwarna biru laut menambah keanggunan miliknya sedangkan Ye Lian memakai baju bewarna hijau daun yang membuatnya tampak memikat.


"Buang baju-baju itu! Aku benci dengan aroma darah itu," ujar Liu Zixia dengan jujur.


Aroma darah yang ada di pakaian suami Liu Zixia tidak seperti darah manusia biasa mungkin karena murid Sekte Hitam mempraktikkan ajaran sesat hingga hampir menyamai iblis itu sebabnya bau darah mereka juga tercampur. Ling Zhi dengan patuh mengangguk lalu berjalan menjauh ke arah belakang kereta untuk membakar pakaian itu.


Mereka melanjutkan perjalanan dengan segera, di belakang kereta Liu Zixia sekitar 100 meter sebuah kereta mewah dengan lambang mawar putih juga berjalan di rute yang sama. Di dalam kereta ada seorang pria tampan tengah duduk sambil membaca buku, dia berbaring dengan nyaman seolah berada di rumah sendiri.


Jika Lin Yuhua ada di sana maka dia akan menunjukkan reaksi yang sama ketika berada di penginapan waktu itu.


"Tuan Muda! Mereka baru saja bertarung dengan sekelompok murid Sekte Hitam, semua murid itu dihabisi oleh mereka tanpa sisa. Hanya jejak pertarungan saja yang tertinggal di sana, para tahanan juga telah berjalan menuju desa terdekat." Seorang pria berbicara dari luar kereta.


"Ikuti mereka dari jauh! Pastikan kau melihat pergelangan tangan gadis itu, jika dia memiliki pola yang sama dengan gambar yang ada di ruang belajarku maka jaga dia dengan baik sampai aku berhasil berada di dekatnya. Tapi kalau dia tidak memiliki tanda itu maka biarkan saja sesuatu terjadi padanya." Pria itu pada akhirnya memberi perintah.


Setelah mengatakan semua itu, ia meletakkan buku di rak kecil yang ada di dalam kereta mengambil bantal lalu berbaring. Matanya terpejam namun siapa yang tahu apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


"Kapan kita kembali ke dunia atas Tuan Muda? Ayah Anda pasti akan melakukan berbagai upaya untuk menemukan Anda," ucap pria yang berada di luar kereta sekali lagi.


"Biarkan saja pria tua itu, dia hanya tahu cara memerintah orang saja. Setelah aku mendapatkan berita tentang anak haramnya dengan wanita itu dia tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi. Dia tidak akan bisa melakukan apapun lagi pada kita, akan kupastikan dia menyesal telah melukai hati ibuku yang begitu setia padanya." Pria di dalam kereta membuka mata. Di dalam sana terlihat kebencian yang begitu mendalam, kebencian yang membuat bulu kuduk seseorang akan berdiri.


"Baik, Tuan! Aku akan mendekati kereta di depan untuk melihat apakah di pergelangan tangan gadis itu ada tanda seperti ramalan yang disampaikan oleh guru besar." Setelah mengatakan itu si pria menghilang begitu saja.