
He Yuan ingin berdiri menjambak rambut perempuan itu tapi karena rasa sakit di tubuhnya He Yuan hanya mampu duduk di ranjang. Pelayan yang ketakutan langsung melangkah mundur, melihat tindakan itu, He Yuan semakin kesal dan sumpah serapah yang tidak terkendali ke luar dari bibirnya.
"Ibuku mana? Katakan pada ibuku kalau aku sakit! Cepat katakan pada ibuku!" perintah He Yuan lagi ketika dia teringat akan keberadaan sang ibu yang selalu memanjakan serta menjadikan dirinya nomor satu itu.
Mendengar pertanyaan He Yuan ke-dua pelayan itu saling melempar pandang, mereka tampak berargumen tentang siapa yang harus memberitahu He Yuan tentang kondisi ibunya. He Yuan merasa ada yang tidak beres, ada rasa takut meluap di hatinya saat melihat keraguan yang tertulis di wajah para pelayan.
"Apa? Kenapa kalian seperti itu? Di mana ibuku? Cepat panggil ibuku! Apa kalian tidak mendengar apa yang aku katakan, ha?" tanya He Yuan semakin murka, He Yuan dengan marah ingin bangkit berdiri namun rasa sakit yang begitu kuat membuatnya jatuh kembali ke tempat tidur.
Pelayan cantik yang selalu merawat dirinya sejak kecil itu akhirnya mengangkat kepala, "Nyonya mengalami kejadian aneh, Yang Mulia! Ibu Anda mendapatkan penyakit gatal yang tidak bisa diobati Tabit murahan yang biasa dipakai warga miskin. Satu-satunya pilihan kita saat ini adalah He Yidu, Yang Mulia!" Pelayan itu tampak takut namun dia masih harus berbicara karena semua ini tidak akan bisa ditutupi lama dari He Yuan.
"Apa? Ibu mengalami penyakit! Cepat cari He Yidu, minta dia untuk mengobati, Ibu! Kita harus fokus pada kesehatan diriku dan ibu," ujar He Yuan ngeri.
Pelayan itu mendekat ke arah He Yuan, dia membantu He Yuan berbaring kembali lalu berbisik tentang kebenaran yang terjadi. "Tuan Muda ke-empat sudah pergi ke rumah He Yidu namun dirinya ditolak mentah-mentah oleh istri He Yidu. Sekarang dia sedang menunggu kepulangan He Yidu."
"Saya dengar Pangeran ikut berperang hari ini, dia mengendarai kuda putih legendaris keluarga kerajaan Benua Atas dengan pakaian pernah putih miliknya." Pelayan itu dengan cepat memikirkan sesuatu untuk membuat He Yuan senang.
Benar saja, mendengar nama Pangeran Benua Atas perubahan besar langsung terlihat di wajah He Yuan. Dia tampak bahagia saat mendengar berita itu, "Benarkah? Apakah dia tampan? Apakah kulitnya putih seperti rumor yang beredar?" He Yuan dengan gembira bertanya.
Dia merasa menyesal sekarang, andai saja dia tidak mencari kesenangan kemarin maka kesuciannya masih akan tetap ada sampai sekarang. He Yuan awalnya ragu tentang berita kehadiran si pangeran namun setelah hari ini dia percaya bahwa pangeran Benua Atas memang ada.
He Yuan ingin bangkit untuk menunggu di jalur yang akan dilewati pangeran menuju ke istana namun rasa sakit di tubuhnya membuat He Yuan harus menyerah.
"Tenanglah, Yang Mulia! Pangeran tidak akan pergi berperang sekali saja, kau pasti akan bisa melihatnya lagi suatu hari nanti. Sekarang yang terpenting adalah mengobati lukamu dulu, ketika luka sembuh kau akan memiliki banyak kesempatan." Pelayan itu membujuk He Yuan dengan senyum ramah.
Di kediamannya Zixia sedang minum teh serta memakan cemilan yang dibuat oleh pelayan di sana. Beberapa cemilan lezat yang cantik terhidang di atas meja membuat selera orang yang ada di sekitar terunggah.