Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#179


Liu Zixia kembali berbaring di ranjang miliknya, ia dengan nyaman memejamkan mata menikmati suasana santai yang datang sebelum badai besar menghantam seluruh dunia. Cuaca di luar tampak bersahabat, semilir angin menemani perjalanan Lin Yuhua dengan kelompoknya menuju ke Benua Atas.


Sepanjang perjalanan hanya ada suara binatang yang terdengar, tidak ada suara manusia. Kereta mereka telah melewati beberapa desa namun desa itu hening seolah tidak ada yang pernah tinggal di sana.


Rumah-rumah telah ditutupi debu tebal, pohon-pohon yang ditanam sebagai hiasan rumah telah mati akibat kekeringan. Atap rumah yang bocor bahkan dibiarkan begitu saja, pintu-pintu rumah terbuka di sana-sini dengan perabotan di dalam rumah masih terlihat utuh.


Kereta mereka terus melaju, kecepatan kereta juga tidak pernah melambat hingga mereka akhirnya mencapai perbatasan Benua Atas. Menjelang pintu perbatasan banyak tenda-tenda darurat didirikan, ada beberapa prajurit Benua Atas berjaga untuk mengamankan situasi.


He Yidu mengeluarkan token miliknya, ia memperlihatkan token itu pada penjaga yang bertugas di gerbang. Area gerbang yang diselimuti mantra tampak aneh, setelah memastikan token He Yidu asli penjaga mengangguk lalu melambaikan tangan untuk membuka gerbang.


Gerbang itu dijaga dengan ketat karena beberapa orang yang datang mengungsi ingin menerobos masuk.


"Kereta belakang datang bersama diriku," ujar He Yidu lagi saat dirinya akan masuk ke gerbang.


Penjaga gerbang mengangguk, ia membiarkan kereta Lin Yuhua ikut masuk ke Benua Atas. Suasana di sekitar hening seketika saat mereka melihat dua kereta itu dibiarkan masuk begitu saja. Beberapa orang langsung berdiri, mereka ingin melakukan protes namun melihat wajah sangar penjaga yang bertugas dengan enggan mereka mengurungkan niat itu.


"Aneh, kenapa mereka jauh-jauh mengungsi ke sini padahal Yuhuan adalah tempat aman?" bisik Lin Yuhua dengan kening mengernyit bingung.


Ye Lian ikut menoleh, ia memindai wajah-wajah yang datang ke sana takut salah satu dari mereka merupakan anggota kerajaan Angkrea. "Mungkin mereka tidak percaya dengan keamanan Kekaisaran Yuhuan, lagipula dengan mereka mengungsikan diri di sini sumber daya di Yuhuan masih akan terjamin untuk penduduk di sana." Ye Lian mengangkat bahu tanda tidak peduli.


Kereta mereka akhirnya berhasil masuk ke Benua Atas, kehidupan di sini terlihat ramai. Ada beberapa penduduk yang berlalu lalang di jalan dengan berbagai kegiatan. Laki-laki dan perempuan berbaur menjadi satu, kebahagiaan tampak begitu jelas di wajah masing-masing.


He Yidu membawa Lin Yuhua dan anggota keluarganya yang lain ke kediaman miliknya. Lin Yuhua turun dari kereta setelah kereta berhenti tepat di halaman besar milik He Yidu, Yizu di sisi lain tertidur nyenyak di tangan Ye Lian.


Penjaga kediaman He Yidu langsung menyambut kedatangan kelompok Lin Yuhua, mereka membungkuk hormat lalu melanjutkan pekerjaan masing-masing. Tidak ada pelayan wanita yang bisa dilihat di sana menyebabkan Lin Yuhua serta yang lainnya mengernyit bingung dengan rasa penasaran tinggi.


Melihat itu, pengikut setia He Yidu memberikan jawaban dari belakang. "Tuan Muda memang tidak suka dengan yang namanya wanita, Tuan memiliki kebencian terhadap mereka sebab Ibu Tuan Muda sering menyiksa dirinya demi anak laki-lakinya yang lain." Pria itu menjelaskan lalu terbang menjauh seolah dia tidak pernah bicara.