Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#155


Terkadang aku ingin berteriak, menyampaikan *apa yang ada di dalam pikiranku tapi aku hanya bisa menahan. Aku tidak ingin keluh kesah yang nanti terucapkan membuat hati seseorang sakit.


Bukan karena aku tidak punya hati, bukan pula karena hati ini mati rasa, tapi aku hanya ingin menjaga hati. Semakin banyak berbicara maka semakin banyak yang akan terluka nantinya.


Sepenggal isi hati*.


####


Liu Zixia tidak bertanya lagi, sepanjang jalan ia akan membaca buku, berbicara dengan perutnya lalu sesekali mengganggu Ru Ansan hingga membuat Ru Ansan kesal. Bahkan terkadang jika bosan Liu Zixia akan duduk di luar kereta menikmati hembusan angin.


Liu Zixia tidak menaruh curiga akan keberadaan Lin Yuhua sebab baginya kekuatan Lin Yuhua jauh di atas rata-rata mereka yang berada di benua tengah. Tanpa terasa kereta yang mengejar mereka mendekat, kereta itu mulai melambat saat melihat bagian belakang kereta Liu Zixia.


Setelah menemukan jarak mereka hanya beberapa meter saja kereta itu baru mengatur ritme laju kereta miliknya. Ling Zhi yang kali ini mengemudi mencoba melihat ke belakang namun karena dirinya tidak bisa menemukan keanehan.


"Lanjut saja! Sepertinya mereka hanya ingin beriringan dengan kita," ucap Long Ze santai.


Long Ze merasakan aura milik orang di kereta yang sengaja dilepaskan, dengan tingkat kekuatan seperti itu maka perjalanan mereka akan aman. Seorang pria dengan pakaian hitam terbang mengikuti kereta Liu Zixia dan naik ke bagian kemudi, ia membungkuk hormat tanpa mengeluarkan aura miliknya hingga membuat Ling Zhi maupun Long Ze kesusahan dalam menentukan kekuatannya.


"Tuan Muda kami ingin bergabung dengan perjalanan kalian, dia mengatakan kalau ia bosan sendirian. Mohon untuk tidak terpengaruh sama sekali," pintanya dengan nada lembut.


"Karena perjalanan menuju ke sana penuh bahaya dan wanita yang kami bawa butuh perlindungan maksimal maka kami akan bersedia membiarkan kalian ikut. Namun jangan berniat buruk karena aku bisa menghabisi kalian walau itu sulit," ancam Ru Ansan dengan santai lalu kembali menarik aura miliknya.


Ru Ansan kembali masuk ke dalam kereta menutup pintu dengan hati-hati karena Liu Zixia ternyata sedang tidur dengan nyenyak. Pria itu terbang kembali ke kereta milik tuannya, ia menyampaikan apa yang dikatakan oleh Ru Ansan tanpa menambah atau mengurangi kata-kata.


"Gadis yang kau lihat adalah binatang kontrak miliknya, binatang kontrak itu sama dengan yang dikatakan oleh Guru Besar. Kekuatan miliknya lebih tinggi dari binatang kontrak biasa dunia bawah maupun dunia tengah, kau bisa kalah olehnya jika berhadapan satu lawan satu." Pria tampan yang duduk di dalam kereta mengatakan dengan jujur.


Ru Ansan adalah binatang ramalan legendaris, siapa yang memiliki kontrak dengannya tidak perlu berlatih lagi sebab kekuatan miliknya akan meningkat sesuai kemampuan binatang kontrak itu. Hari berlalu dengan cepat, mereka akhirnya sampai di desa Rawajati.


Penjagaan di desa tampak begitu ketat, ada beberapa prajurit dengan pakaian senjata lengkap berlalu lalang hilir mudik memeriksa kereta maupun pengunjung yang datang berjalan kaki. Beberapa kereta tampak menunggu giliran begitu juga kereta milik Liu Zixia yang mendapat urutan nomor sembilan.


Liu Zixia telah bangun, berpakaian serta sarapan. Dia duduk dengan manis di dalam kereta memakai penutup wajah sama seperti Ru Ansan untuk menutupi kecantikannya.


Mata cantik Ru Ansan tampak kesal, sesekali celoteh Ru Ansan akan terdengar membuat Liu Zixia terkekeh akan sikapnya.


"Kalau aku begini kapan aku akan mendapatkan jodoh? Kau sih enak, tidak melakukan apa-apa jodohmu tetap datang sedangkan aku, aku harus tampil cantik agar para berondong mau menjadi milikku." Sekali lagi Ru akan menggerutu.


Liu Zixia menutup telinganya dengan tangan mencoba untuk tidak mendengar keluh kesah Ru Ansan yang begitu menyebalkan.