
Pada ke mana sih? Kok jempolnya kurang banget hari kemarin ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ komentarnya juga banyak menghilang ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ padahal aku suka komentar kalian. Ish kalian membuatku patah hati, merana dan kecewa. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
####
Liu Zhang berusaha mengejar namun langkahnya dihalangi oleh penjaga kerajaan Benua Atas, dia hanya bisa melihat kepergian Liu Zixia menjauh menuju kerumunan yang berlawanan dengannya. Liu Zhang berdiri di sana untuk menunggu kedatangan Liu Zixia lagi.
Liu Zixia terus berjalan menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh pengemudi keluarga Zhuang. Zixia yang kelelahan memilih berhenti, dia menyuruh pengemudi itu bersama anak buah He Yidu untuk mencari keluarga yang katanya menolong ibunya. Liu Zixia membiarkan pengungsi untuk memperhatikan dirinya, dia dengan tenang duduk sembari menikmati hiruk-pikuk keadaan luar yang begitu hidup.
"Kenapa kita tidak membawa kereta saja? Kalau aku tahu kau akan kelelahan seperti ini lebih baik kita menunggu di dalam saja." He Yidu tampak kesal, ia mengambil kain kecil dari dalam lengan bajunya lalu membersihkan peluh yang menetes di kening Liu Zixia.
Lin Yuhua mengipasi Liu Zixia dengan penuh kasih sayang, dia membiarkan Liu Zixia duduk di bawah pohon besar meski tidak suka pandangan yang diberikan oleh kaum wanita yang ikut mengungsi. Tidak lama anak buah He Yidu membawa seorang wanita tua bersama mereka, wanita itu melihat dengan pandangan aneh pada He Yidu yang melayani Liu Zixia dan pada Lin Yuhua yang menatap Liu Zixia dengan penuh cinta.
"Mana ibuku?" tanya Liu Zixia tanpa melirik sama sekali, bukan karena tidak ingin bersikap sopan hanya saja Liu Zixia tidak ingin ditipu lagi.
"Ibumu di tenda, kami hanya ingin membuat kesepakatan saja denganmu. Kalau kau ingin bertemu dengan ibumu kau harus membiarkan kami untuk masuk bersama kalian. Persediaan kami sudah hampir habis kami takut kami akan dijadikan makanan iblis jika di sini tanpa uang sama sekali." Wanita itu menatap Liu Zixia dan He Yidu dengan pandangan memohon.
"Kami memang akan memberikan pada kalian sebuah kediaman untuk sementara sampai situasi aman. Tempat itu hanya sementara saja tidak untuk selamanya, aku ingin bertemu dengan ibuku. Kalau kalian berbohong silakan terima akibatnya," ancam Liu Zixia dengan cibiran di wajahnya.
Wanita itu melangkah pergi, ia menuju ke tenda tempat keluarganya untuk memberikan kabar bahagia itu. Tidak lama dia datang dengan beberapa orang serta satu wanita yang dibawa menggunakan tandu kecil, Liu Zixia mengamati wanita itu cukup lama lalu mengangguk sebagai tanda persetujuan.
Dia langsung bangkit membawa rombongannya masuk ke dalam, Liu Zixia tidak ingin berlama-lama di luar sebab ia jengah dengan tatapan yang diberikan orang-orang itu padanya. Liu Zixia tidak melihat ke belakang sama sekali, dia langsung menaiki kereta mewah He Yidu yang menimbulkan tatapan panas dari rombongan ibunya itu.
Sedangkan ibunya, dibiarkan menaiki kereta yang telah disiapkan oleh He Yidu.
"Ibu! Apakah wanita itu kakakku?" Seorang gadis remaja yang usianya tidak terpaut jauh dari Liu Zixia bertanya dengan rasa ingin tahu.
Dia menggoyang paha ibu Liu Zixia untuk meminta jawaban. Ibu Liu Zixia mengangguk, dia melihat jauh ke depan namun entah apa yang tengah ia pikirkan saat ini.
"Lalu kenapa dia tampak sombong pada kita, Ibu! Bu! Apakah dia memiliki kekuasaan di sini? Kenapa dia bisa ke luar masuk seenaknya di sini? Bukankah ibu mengatakan kalau masuk ke sini susah?" Gadis itu tampak tidak puas.
"Karena dia sudah lama tidak bertemu dengan Ibu, Sayang! Entah apa yang dia jalani tapi tampaknya hal itu tidak baik-baik saja, kau lihat tatapan tajamnya bukan? Dulu tatapan seperti itu tidak akan pernah ada di matanya." Wanita itu menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara anaknya.
"Bibi! Tampaknya anakmu memiliki suami yang tampan, apakah kau bisa meminta padanya untuk membiarkan kami bermain ke kediamannya, kau lihat keretanya? Kereta itu tampak mewah dan menawan, aku yakin suaminya berasal dari keluarga kaya."