Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#180


He Yidu membawa mereka ke aula pertemuan, memastikan bahwa orang-orang yang dibawanya tidak mengalami kelelahan. He Yidu juga ingin melihat bagaimana perkembangan anak Liu Zixia setelah beberapa hari semenjak kelahirannya.


Biasanya anak-anak keturunan iblis tumbuh lebih cepat dari anak biasa, He Yidu memperhatikan Yizu yang ternyata tidak mengalami perubahan sedikitpun. Sama seperti bayi lainnya, Yizu tumbuh sewajarnya dan ini semakin meningkatkan kepercayaan semua orang kalau Yizu tidak mendapatkan darah iblis sama sekali.


"Dia benar-benar tumbuh normal," tunjuk He Yidu pada Yizu yang tidur dengan begitu nyenyak di tangan Ye Lian.


"Hem, dia tidak menuruni darahku tapi darah ibunya jadi wajar saja jika dia mengalami pertumbuhan normal." Lin Yuhua menjawab apa adanya.


Tidak lama setelah mereka duduk ada teh serta makanan ringan yang diletakkan oleh pelayan satu-persatu di atas meja.


"Persiapkan satu kamar besar! Oh, bawakan perlengkapan bayi laki-laki dan bayi perempuan. Beli sebanyak mungkin di pasar, jangan sampai kita kekurangan pakaian nanti. Kita tidak tahu kapan perang melawan iblis ini akan selesai." He Yidu memerintahkan tangan kanannya untuk berbelanja.


Pria itu melihat ke arah Yizu lalu melihat ke arah He Yidu lagi dengan alis berkerut bingung. Akan tetapi karena itu adalah perintah tuannya, pria itu langsung mengangguk, ia melangkah pergi dengan cepat membeli apa yang dikatakan tuannya.


"Kita memang kekurangan pakaian serta barang-barang lain yang menyangkut bayi. Hanya ada beberapa helai kain saja yang disediakan Liu Zixia di dalam ruang miliknya. Kami tidak pernah mengira kalau perjalanan akan menjadi sejauh ini, kami juga tidak menyangka kalau Liu Zixia akan melahirkan di tengah-tengah perjalanan." Long Ze mengangguk setuju dengan apa yang dilakukan He Yidu hanya saja Ye Lian masih tampak canggung dengan kehadiran He Yidu di sekitar mereka.


Suara keributan terdengar di luar halaman utama, seseorang mencoba menerobos masuk namun dihalangi oleh anak buah He Yidu.


"Aku hanya ingin bertemu dengan kakakku, aku dengar dia membawa beberapa pria tampan pulang ke kediamannya. Aku hanya ingin melihat mereka saja, jika salah satu dari mereka ada yang kusukai maka aku akan mengambil mereka sebagai penghangat ranjangku." Ternyata keributan itu diciptakan oleh adik perempuan He Yidu.


He Yidu berdiri dari duduknya setelah kelompok Lin Yuhua pergi dari aula. Dia melangkah menuju ke halaman depan untuk menemui anak ibunya dari pria lain.


"Siapa kau hingga bisa membuat keributan di sini? Siapa kakakmu? Aku tidak punya adik lain selain Yuan Zue." He Yidu melipat tangannya di dada menatap pada wanita cantik di depannya dengan senyum lembut.


Perempuan itu tampak marah saat mendengar ucapan He Yidu yang tidak mengakui dirinya. Dia mengepalkan tangan, memandang penuh kebencian pada He Yidu yang selama ini selalu bersikap tidak peduli pada dirinya.


"Aku adikmu! Ibu mengatakan kau harus mengikuti apa yang aku inginkan dan ayah juga mengatakan kalau aku bisa mendapatkan apapun yang aku suka dari sini." Tidak mau mengalah, gadis itu dengan keras kepala mencoba melangkah masuk.


He Yidu melambaikan tangannya, kekuatan yang digunakan He Yidu cukup kuat hingga membuat perempuan bertabrakan dengan dinding memuntahkan darah segar ke luar.


"Siapa ibumu hingga bisa memerintah diriku? Aku ingatkan dirimu satu hal, ini semua apa yang aku dapat dengan tanganku sendiri bukan dengan bantuan orangtuamu itu. Aku sangat berterima kasih pada mereka berdua, berkat mereka serangan aku berada di puncak kekuasaan." He Yidu mencebik kesal, selama ini dia sudah cukup bersabar namun kesabarannya tampaknya disalahartikan oleh keluarga tidak tahu malu itu.


Perempuan itu menggenggam tangannya marah, dia adalah permata bagi ibu dan ayahnya namun di depan He Yidu dia hanya sampah yang tidak berguna.


"Kau lihat saja! Aku akan mengatakan semua ini pada ibu. Kita lihat apakah kau mampu bersikap sombong lagi," ancam perempuan itu lalu tertatih pergi meninggalkan kediaman He Yidu.