
Bai Yan terkejut bukan main saat rahasia yang coba ia tutupi selama ini selama bertahun-tahun terbongkar begitu saja. Padahal orang-orang yang terlibat dalam masalah itu semua sudah mati di tangan penjaga keluarga Bai.
"Mau kau kirim ke mana Liu Yan?" tanya Bai Yan akhirnya dengan mata melotot lebar.
Bai Yan tidak bisa lagi merasa tenang, tubuhnya bergetar kuat. Matanya terus melihat ke arah luar halaman di mana Liu Yan dibawa pergi.
"Menikahkan dirinya demi mendapatkan keuntungan bagi keluargaku. Sudah berapa banyak sumber daya yang telah ia habiskan? Berapa banyak kerugian yang aku dapatkan akibat dirinya dan dirimu?" Liu Zhang tersenyum mencemooh saat melihat kepanikan yang tercetak jelas di mata Bai Yan.
"Jangan bilang kau tidak mengirimnya ke istana?" Ketakutan luar biasa tidak bisa disembunyikan oleh Bai Yan.
Sekuat tenaga Bai Yan mencoba meronta agar bisa lepas dari pegangan erat anak buah Liu Zhang. Bai Yan menangis pilu dengan suara ratapan yang begitu menyayat hati.
"Istana? Hehehehe, kau berkhayal terlalu tinggi. Dengan wajah rusak seperti itu bagaimana dia akan diterima, bahkan sebagai pelayan pun dia tidak memiliki tempat. Apa kau pikir Liu Zixia akan mau membantunya setelah semua yang kau perbuat pada ibunya? Kau bermimpi terlalu tinggi," ejek Liu Zhang sinis.
"Lalu ke mana kau akan mengirim putriku? Apa tidak ada sedikitpun perasaanmu setelah sekian lama dia kau besarkan?" tanya Bai Yan mengiba.
Liu Zhang di sisi lain terkekeh, ia berjalan mendekat ke arah Bai Yan dengan tatapan dipenuhi jejak penghinaan. "Dia akan dikirim menjadi selir rendahan keluarga Du, kau tahu keluarga Du bukan? Saat ini mereka sedang naik daun, aku mendapatkan banyak keuntungan dengan mengirim putrimu ke sana. Dan untuk kau, aku akan memikirkan cara agar bisa mendapatkan keuntungan juga darimu." Liu Zhang menekan pipi Bai Yan kuat dengan kekuatan penuh.
Memar ungu langsung terlihat, Bai Yan merintih kesakitan namun Liu Zhang tidak peduli. Rasa jijik diperlihatkan oleh Liu Zhang dengan jelas membuat hati Bai Yan terasa hancur berkeping-keping. Dia tidak pernah menyangka suatu hari akan melihat ekspresi seperti itu di wajah Liu Zhang untuk dirinya.
"Bawa dia ke gudang kayu bakar! Suruh beberapa penjaga menemaninya, wanita kotor seperti ini tidak layak menjadi Nyonya kediaman Liu. Pastikan dia mendapatkan kesenangan, jangan biarkan dia bersuara karena itu akan mengganggu." Liu Zhang memberi perintah.
Bai Yan berteriak keras mencoba membuat keributan agar anak-anaknya bangun untuk membantu. Namun hal itu percuma, dupa tidur yang dipasang Liu Zhang di kamar membuat mereka tertidur lelap.
Liu Yan di sisi lain yang tidak tahu apa-apa sedang duduk manis di tandu kecil. Di bibirnya ada senyuman penuh kemenangan, otak kecilnya tengah memikirkan berbagai cara untuk menjilat Kaisar agar jabatannya segera naik secepat mungkin. Liu Yan tidak berani membuka penutup kepalanya karena itu akan membuat dia tidak tahu tradisi.
Saat tandu berhenti, Liu Yan dibantu turun dari tandu. Ia di bawa ke halaman kecil dengan satu pelayan bekerja di sana. Setelah Liu Yan sampai di kamar barulah ia merasa sedikit curiga.
'Huh, aku harus sabar. Jika aku menunjukkan ketidaksukaanku pada Liu Zixia sekarang maka aku akan kesusahan untuk mengambil tempatnya. Pertama-tama aku harus bisa mengobati racun ini terlebih dahulu, menggoda Kaisar agar mencintai diriku kemudian merebut hatinya barulah menyingkirkan Liu Zixia dari sini.' Liu Yan mencoba memperingati dirinya agar tidak bertindak sembarangan.
Liu Yan menunggu dengan sabar namun keanehan demi keanehan terjadi terus-menerus. Kasur yang ditempati oleh Liu Yan begitu keras dan kecil, tidak ada pewangi yang tercium. Seolah dia menikah dengan keluarga biasa saja tanpa keistimewaan.
'Mungkin Liu Zixia itu hanya memberiku posiis rendah saat ini. Ya, dia pasti menghasut Kaisar untuk memberikan pelayanan buruk seperti ini. Lihat saja, saat Kaisar bersamaku aku akan mencuri hatinya hingga kau akan dibuang dengan cepat.' Liu Yan mengepalkan tangan menahan kemarahan.
Suara langkah kaki yang masuk membuat Liu Yan mengatur wajahnya menjadi penuh keluhan serta kesedihan. Ada air mata yang menggenang di pelupuk matanya seolah-olah itu siap jatuh kapan saja.
Aroma arak kuat tercium di udara saat pintu terbuka dengan pelan, langkah kaki yang beraturan itu membuat Liu Yan tidak sabar. Kain merah yang menutupi wajah Liu Yan diangkat memperlihatkan wajah buruk rupa Liu Yan yang sedang memejamkan mata.
Pria itu mencium Liu Yan dengan tidak sabar mendorong Liu Yan hingga jatuh sebelum ia menarik tirai turun.