Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#127


Wanita cantik di bawah Bai Za hanya bisa melenguh tanpa menjawab sama sekali, dia tidak tahu apakah harus bersyukur, senang atau mengucapkan terima kasih pada pertolongan Bai Za saat harga dirinya sama-sama direnggut. Pertama kali sampai di sini dia dipaksa untuk melayani Bai Za hingga dia tidak mampu berdiri dengan kakinya.


Setelah dipaksa seperti itu setiap hari untuk bisa mendapatkan makanan yang layak wanita itu dipaksa untuk melayani dua lelaki setiap hari demi kepingan tembaga yang dulu tidak berarti apa-apa di matanya. Wanita itu merengek saat Bai Za menekannya terlalu dalam, air mata kesenangan yang mengalir di pipinya bercampur dengan air mata kesedihan.


Bai Za tidak peduli, baginya saat ini yang terpenting adalah mencapai kepuasan tanpa membayar sama sekali. Bahkan dengan kepuasan itu dia mendapatkan uang dan makanan, uang yang dia dapatkan dari hasil menjual wanita Ruan ini akan dia gunakan berjudi dan membeli minuman.


Mencapai puncak kepuasan Bai Za meninggalkan gadis itu, dia memakai pakaiannya dengan cepat sebelum berlalu ke luar kamar dengan langkah cepat. Tujuannya saat ini adalah mencari laki-laki untuk besok yang bisa membayarnya dengan uang.


Saat Bai Za ke luar dari halaman tempatnya tinggal, perasaan buruk menyerang dirinya. Bai Za mengusap tengkuknya yang terasa dingin, dia melihat ke sekeliling tempat itu namun matanya tidak menemukan sesuatu yang aneh sama sekali.


"Ah, ini pasti hanya perasaanku saja. Bagaimana mungkin mereka bisa berpikir aku di sini, ini adalah tempat paling aman bagiku. Setidaknya setelah lama di sini tidak ada penduduk desa yang bertanya siapa aku dan darimana aku berasal." Tidak peduli dengan perasaannya yang tajam Bai Za mengayunkan kakinya melangkah pergi meninggalkan tempat itu dengan senyum mengambang di bibir.


Dia sudah membayangkan beberapa keping perak berada di tangannya, perasaan itu terasa segar hingga Bai Za melupakan ketakutan yang baru saja dia rasakan. Bai Za terus melangkah menuju sebuah tempat dengan keadaan hening seolah tidak ada orang di san.


Pelan-pelan, Bai Za melangkah dengan kedua tangan terus menggosok satu sama lain diiringi air liurnya yang menetes ke bawah. Kerakusan serta ketamakan yang diperlihatkan Bai Za tidak luput dari pandangan mata Liu Zhang.


Sejak tadi Liu Zhang terus mengikuti langkah Bai Za, dia bahkan juga mendengar serta mengamati tindakan tidak senonoh yang dilakukan Bai Za pada sepupunya. Liu Zhang memberi kode pada prajurit yang mengikutinya sejak tadi.


"Kalian periksa tempat itu, jika ada yang mencurigakan tangkap saja mereka tapi tinggalkan Bai Za untukku. Dia harus merasakan apa yang aku rasakan berkali-kali lipat." Liu Zhang berkata dengan nada penuh ancaman.


Liu Zhang tidak peduli dengan prajurit yang mengikuti dirinya, dia enggan untuk datang ke sana memeriksa sendiri karena tidak ingin mendengar suara cabul Bai Za lagi yang mengotori telinganya yang masih perawan.


Bai Za yang tidak tahu kalau dirinya membawa masalah bagi orang lain melangkah masuk diiringi senyuman. Dia melihat ke seluruh ruangan yang memiliki pencahayaan minim itu, suasana sepi di sini karena orang-orang yang datang fokus berjudi sekaligus takut ketahuan oleh perangkat desa.


"Kau datang lagi ke sini bocah, bukankah kau kekurangan uang hingga harus menjadikan adik sepupumu sebagai mainan beberapa orang." Suara lembut penuh ejekan itu membuat Bai Za mendelik tidak suka.


Meski begitu dia tidak menampilkan semua itu dengan jelas, sebuah senyuman munafik masih tersungging di bibirnya kala dia melangkah mendekat ke arah kerumunan. Bai Za mengeluarkan uang yang didapatnya siang hari dan memilih tempat duduk yang nyaman untuk menunggu giliran berjudi.


Di luar prajurit yang tidak mendengar suara apapun di dalam mengernyit bingung, rasa penasaran dengan kegiatan di dalam sungguh membuat mereka ingin segera masuk. Mereka melihat satu sama lain sebelum kemudian seseorang dari kelompok prajurit itu berlari ke luar halaman.


"Tuan, kami tidak dapat menemukan suara apapun dari dalam ruangan. Apakah kita langsung masuk untuk melihat atau menunggu di luar saja hingga mereka sendiri yang datang pada kita?" tanyanya pelan setelah sampai didekat Liu Zhang.


Liu Zhang tampak berpikir, dia merenung sejenak sebelum menghembuskan nafas lalu melihat ke langit yang ditutupi banyak cahaya yang berkelap-kelip."Tunggu saja! Aku sudah menunggu adegan ini sejak lama, menunggu satu atau dua hari lagi bukan masalah bagiku. Perintahkan seseorang untuk menjual gadis yang ada di halaman pertama tadi ke taman bunga, pastikan dia melayani orang dengan derajat paling rendah setiap hari."


Liu Zhang memberi perintah tanpa ada perasaan sama sekali, baginya rasa sakit yang dialami Liu Zixia sejak kecil tidak sebanding dengan mereka dijual ke tempat seperti itu.