Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#192


Aku up double lagi hari ini biar vote-nya makin banyak. Mana tahu aku dikasih hadiah wkwkwk, Btw kita cari jodoh buat Liu Zhong bagus kayaknya. Biar dia enggak kepikiran adiknya terus wkwkwkw🤣🤣🤣. Enggak ada yang nyadar nama Kakak Liu Zixia ku tulis salah. 🤣🤣🤣🫂


Sebenarnya aku lagi sakit perut tapi karena hari ini jatah vote ke luar aku up double deh, biar jatahnya lari ke aku semua🤭🤭🤭.


####


Liu Zhong di sisi lain juga ikut tersenyum, dia melihat ke arah Lin Yunzia dengan penuh harap membuat Lin Yunzia tertawa senang.


"Sebaiknya mereka dikirim dulu, nanti aku akan memperlihatkan gambar si kembar yang dikirimkan oleh kakakku. Aku yakin kalian pasti akan gemas melihat mereka berdua." Lin Yunzia sengaja memancing rasa penasaran Liu Zhong dan Mu Huang.


Setelah mengatakan itu, Lin Yunzia tanpa basa-basi pamit pergi meninggalkan lokasi itu membuat Mu Huang melongo tidak percaya. Liu Zhang ingin mengejar Lin Yunzia tapi dia langsung mengurungkan niatnya saat melihat tatapan aneh beberapa orang yang berlalu lalang.


"Ayo pergi!" ajak Liu Zhong pada murid-murid Lembah Cahaya.


"Eh, bukankah pemuda yang berdiri di depan itu anak keluarga Liu dari istri pertama. Aku dengar keluarga Liu ditolak untuk masuk, aku dapat kabar kalau anak-anak perempuan keluarga Liu yang istrinya berasal dari kediaman Bai hidup menderita sekarang. Aku merasa muak dengan rasa bangga yang selalu mereka ucapkan kemana-mana tentang putrinya yang ketiga akan menikah dengan Kaisar Yuhuan menggantikan putri dari istri pertama." Orang dari desa yang sama dengan keluarga Liu berbisik pada warga lain.


Suasana gaduh langsung memenuhi tempat itu, setelah semua anggota Lembah Cahaya masuk gerbang langsung ditutup menyisakan pengungsi yang diabaikan begitu saja. Keluarga Liu yang sedang mereka bicarakan saat ini telah sampai di gerbang masuk Benua Atas, setelah diusir dengan cara kasar dari Yuhuan mereka langsung memacu kereta menuju ke Benua Atas, mereka tidak tahu kalau Liu Zixia telah masuk ke dalam Benua Atas saat ini.


"Suamiku! Apakah kau sudah memikirkan cara agar kita bisa masuk ke dalam? Meski di luar aman sekarang tapi kita tidak tahu sampai kapan pertahanan mereka akan bertahan. Masuk ke dalam adalah sebuah kehormatan bagi kita sebab kita bisa menjadi salah satu dari mereka." Du Zi bersembunyi dalam pelukan Liu Zhang, dia dengan malu-malu memeluk tubuh Liu Zhang.


(Du Zi ada dua ya, satu makanan si Ruan Zu satu lagi Ibu Tiri baru Liu Zixia. Masih ingatkan?)


Liu Zhang melirik pada pengungsi yang terus bertambah hari demi hari, dia berusaha mencari Liu Zixia atau Liu Zhong namun dia tidak menemukan mereka sama sekali. Liu Zhang hanya menemukan Liu Yan beserta keluarga Du. Liu Yan tampak kurus kering dengan perut membuncit, aroma tidak sedap datang dari dirinya seolah dia tidak pernah membersihkan diri.


Bai Yan di sisi lain bernasib sama dengan Liu Yan, saat ini dia tengah hamil dengan keadaan akan melahirkan kapan saja. Entah anak siapa yang Bai Yan kandung namun anak itu akan dijual Liu Zhang demi keuntungan keluarga Liu. Liu Ze di sisi lain tengah duduk di tenda miliknya dengan suara-suara aneh terdengar dari dalam tenda.


Beberapa orang ke luar masuk tenda itu dengan ekspresi puas, seperti telah mendapatkan pelayanan yang memuaskan. Du Zi memeriksa keadaan sekitar, memastikan rencana miliknya dengan sukses. Ia sudah menghancurkan Bai Yan bersama anak-anaknya, Du Zi bahkan berhasil mencuci otak Liu Zhang untuk menjual Liu Ze pada pengungsi yang ikut bersama mereka demi kepingan uang untuk bertahan hidup selama masa pelarian.


Bai Yan di sisi lain hanya bisa menatap iba pada keadaan tragis yang di alami putrinya. Dia menyesal telah menjadikan Liu Zixia musuh, andai saja waktu bisa diputar maka kehidupannya tidak akan seburuk ini.


"Apa kau melihat putra dan putri dari istri pertama? Aku ingin tahu bagaimana keadaan mereka, apakah mereka mendapatkan izin untuk masuk ke Benua Atas?" Liu Zhang melihat sekeliling namun jangankan melihat orangnya bayangan mereka saja tidak tampak.


"Siapa yang kau cari?" tanya pengungsi yang lebih dulu datang. Ia penasaran dengan Liu Zhang yang terus-menerus melihat sekeliling lapangan luas itu.


"Aku mencari seorang wanita yang diikuti oleh beberapa suaminya. Salah satu suaminya adalah mantan Kaisar Yuhuan," jelas Liu Zhang pada orang itu.


"Mereka sudah lama masuk, ketika datang pintu gerbang langsung dibuka untuk mereka. Kami merasa iri dengan itu semua," ujar orang itu dengan ******* kesedihan.


Mata Du Zi bersinar saat mendengar itu, dia ingin mencari Liu Zixia ke dalam tapi keadaan tidak memungkinkan dirinya.