
"Kalian terlambat! Dia sudah pergi ke ladang obat, kalau aku tahu dia begitu antusias dengan tanaman obat sejak dulu aku katakan hal itu padanya." Ru Ansan kembali terbang ke dahan yang paling besar, memetik buah yang ada lalu melemparnya ke hadapan suami Liu Zixia.
Buah itu hanya berjumlah tiga buah saja, tapi tidak dilempar ke depan Yuhua. "Ambil untuk kalian bertiga, untuk Yuhua dia memiliki buah sendiri. Kau petik saja buah yang waktu itu kau tanam di bagian paling ujung dari sebelah kanan, buah yang kau katakan akan bermanfaat suatu hari nanti sekarang berguna untuk dirimu dan kembaranmu itu," ujar Ru Ansan dengan suara yang terdengar tidak peduli.
Lin Yuhua tidak peduli sama sekali, dia terbang sesuai dengan arah yang ditunjukkan oleh Ru Ansan lalu menemukan sebuah pohon yang hidup sendiri. Pohon itu tidak rindang seperti pohon yang tadi diduduki Ru Ansan, buahnya juga tidak sebanyak daun pohon itu.
Warna daun di pohon ini adalah hitam sedangkan bagian ujungnya berwarna merah seperti darah segar yang baru saja ke luar dari tubuh. Warna pohonnya juga tidak seperti pohon lain, warna pohon ini putih bersih berbanding terbalik dengan warna daunnya yang menakutkan.
Buahnya juga terlihat aneh, tidak bisa dikatakan bulat ataupun lonjong. Dia memiliki tiga warna di satu buah, di mana warna merah dan hitam lebih mencolok dari warna lainnya yang kelihatan pudar.
Lin Yuhua memetik buah yang menjulur rendah ke bawah dengan hati-hati, seolah buah itu adalah bayi baru lahir yang rapuh. Ketika buah dilepas dari tangkainya Lin Yuhua langsung membalut buah itu menggunakan energi spiritual miliknya.
Setelah berhasil memetik satu, Lin Yuhua memetik satu lagi melakukan hal yang sama lalu menyimpan satu buah ke dalam penyimpanan miliknya. Lin Yuhua membawa buah itu kembali ke tempatnya tadi hanya untuk menemukan Ru Ansan yang tertidur di dahan pohon.
Ranting pohon yang berada di dekat sana bertindak seolah memeluk tubuh Ru Ansan takut kalau dia bergerak akan jatuh ke bawah begitu saja. Lin Yuhua yang tidak menemukan siapapun di sana berjalan kembali menuju ke rumah yang ada di dalam ruang.
"Kau sudah kembali? Buah apa yang kau ambil hingga Ru Ansan tidak mau memetiknya untukmu?" tanya Long Ze penasaran.
Sebab ia benar-benar tidak tahu kalau Lin Yuhua pernah menanam sebuah pohon di dalam ruang milik Liu Zixia.
"Pohon iblis, aku tidak menyangka pohon yang aku tanam secara tidak sengaja itu telah tumbuh besar dan berbuah. Buah ini berguna untuk menstabilkan kekuatan iblis di dalam diriku hingga aku tidak meledak dalam menggunakan kekuatannya jika terlalu berlebihan." Lin Yuhua menjawab lalu memperlihatkan buah yang ia petik tadi.
Buah itu melayang di udara akibat kekuatan yang digunakan oleh Lin Yuhua, melihat warna buah yang aneh Long Ze kehilangan rasa penasaran yang tadi dimilikinya. Long Ze dengan enggan kembali ke tempatnya duduk lalu dengan santai memakan buah yang tadi diberikan oleh Ru Ansan padanya.
"Apa Zixia sudah kembali?" Lin Yuhua bertanya dengan mata melihat sekeliling tempat itu.
Akan tetapi sosok Liu Zixia tidak kunjung jua dia temukan di sana. Lin Yuhua menggunakan kekuatannya membentuk bilah pisau lalu memotong buah yang ada di hadapannya. Buah itu terbelah menjadi beberapa bagian dengan warna hitam yang terlihat di dalamnya.
Merasa tidak ada perubahan di dalam tubuhnya Lin Yuhua mengambil potongan lain lalu memakannya dengan lahap. Akhirnya semua bagian buah itu berhasil diselesaikan oleh Lin Yuhua, merasakan arus hangat mengalir di dalam tubuhnya Lin Yuhua mengambil posisi bersila lalu memejamkan mata.
Tidak lama setelah Lin Yuhua duduk bersila untuk menstabilkan kekuatan yang didapatnya Liu Zixia kembali dengan sekeranjang tanaman obat. Tanaman itu terlihat segar dengan aroma lembut yang membuat suami Liu selain Lin Yuhua menoleh untuk melihat kedatangannya.
"Kalian di sini?" sapa Liu Zixia dengan nada terkejut yang begitu kentara.
Liu Zixia meringis saat melihat tatapan tajam yang dilayangkan oleh Long Ze serta Ye Lian padanya. Dengan canggung Liu Zixia menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu meletakkan semua tanaman obat yang dibawanya itu ke tanah.
"Kau sedang hamil tapi masih membawa benda berat seperti ini. Apa kau tidak menginginkan mereka?" tanya Long Ze kesal.
Liu Zixia langsung merasa bersalah, raut wajah bahagia miliknya langsung berubah menjadi sedih dengan air mata berlinang yang bisa jatuh kapan saja. Melihat perubahan Liu Zixia Ye Lian yang hendak ikut memarahi menjadi tidak tega dan hanya mampu melayangkan tatapan penuh kebencian pada Long Ze.
Sama seperti Ye Lian, Long menjadi merasa bersalah tapi mengingat kehamilan ini adalah kehamilan pertama Liu Zixia Long Ze menguatkan hati. Ia memalingkan wajah ke arah lain mengabaikan Liu Zixia yang masih menundukkan kepala seperti akan menangis kapan saja.
"Jangan memasang wajah sedih seperti itu. Kali ini aku tidak akan luluh dengan kesedihan yang kau perlihatkan, anak ini adalah anak pertama kita, jika terjadi sesuatu pada mereka kau akan sedih dan terluka. Jangan karena kami memanjakan dirimu kau menjadi seenaknya seperti ini. Kau harus ingat tentang keselamatan serta kesehatanmu sendiri," tukas Long Ze lagi dengan kata-kata yang merupakan kebenaran.
"Maaf!" ujar Liu Zixia dengan nada lirih.
Liu Zixia akhirnya menangis terisak dengan air mata yang jatuh begitu deras. Ye Lian yang tidak tega bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah Liu Zixia memeluk Liu Zixia membawanya duduk.
"Sudah jangan menangis! Apa yang dikatakan Long Ze memang sebuah kebenaran, kau harusnya tahu kalau ini adalah anak yang kita tunggu-tunggu kehadirannya. Kami bukan marah padamu kami hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu," bujuk Ye Lian dengan nada lembut penuh kasih sayang.
"Aku terlalu antusias dengan semua tanaman obat ini, aku benar-benar tidak melupakan anak yang aku kandung. Lagipula kalau ini berat tidak mungkin aku mengangkat semua ini dengan mudah. Tolong jangan marah padaku!" pinta Liu Zixia dengan nada memelas.
Long Ze menghembuskan nafas kasar, sungguh sulit sekali rasanya untuk marah. Pad akhirnya, Long Ze berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arah Liu Zixia. Dia menepuk pundak Liu Zixia lembut untuk menyampaikan permintaan maafnya.