
***Halo, author punya kabar baik nih buat kalian yang suka baca cerita ini, nah loh penasaran kan? Author mau ngasih hadiah buat tiga orang paling aktif ngasih like, vote komentar di cerita ini si mulai dari awal bulan Juli sampai akhir. Ya walaupun hadiahnya enggak seberapa sih. Wkwkwk🤭🤭🤭🤭.
Rencananya buat juara satu hadiah pulsa 50 ribu, juara dua 25 ribu dan juara tiga 15 ribu. Event ini buat seru-seruan sekalian buat kasih semangat. Kalau author naik level lagi hadiah bakalan ditingkatkan bulan berikutnya. Pemenang akan diumumkan di awal bulan Agustus pas tanggal satu jam 12.
Makasih atas dukungannya, author nggak tahu cara balas kalian makanya diadakan event ini buat beli kuota supaya bisa terus baca***.
######
Wanita itu duduk di sebelah ayahnya dengan gaya anggun, satu pikiran jahat sedang berkeliaran di benaknya. Dia memikirkan sebuah ide hingga melupakan niat aslinya datang bertemu Lin Yunzia siang ini.
Padahal, dia sudah menunggu lama di sini berharap impiannya untuk menikahi pria yang dia temukan di pesta kemarin malam. Matanya terus memindai isi ruang pertemuan berharap semua dapat dia miliki.
"Katakan tujuanmu meminta bertemu denganku?" ujar Lin Yunzia tanpa basa-basi.
Keserakahan pada mata serta mimik wajah yang begitu jelas sungguh membuat Lin Yunzia merasa muak dan ingin muntah. Yunzia ingin menemukan istrinya sekarang untuk menyembuhkan rasa jijik yang dia dapatkan sekarang.
"Kami ke sini ingin mengajukan pernikahan, putriku jatuh cinta pada seorang pria di kekaisaran Yuhuan ini Yang Mulia! Dia melihat pria itu tadi memasuki istana dan tampaknya dia memiliki jabatan di istana ini." Raja Awan menjelaskan dengan senyuman.
Dia menginginkan aliansi pernikahan ini juga agar kerajaan yang di pimpinnya tidak diganggu kerajaan lain. Dengan mendapatkan aliansi pernikahan ini maka kerajaan Awan akan dihormati, disegani dan akan disanjung--sanjung kerajaan lain.
"Apa kau tahu siapa namanya?" tanya Lin Yunzia santai. "Kasim Han! Bawakan teh beserta cemilan kekaisaran kita!" perintah Lin Yunzia.
Tangannya diletakkan di atas sandaran kursi, gayanya yang santai terlihat memikat. Wanita yang duduk di samping ayahnya itu merasa sedih, padahal dia sudah mencuri pandang pada Kaisar tampan di depannya. Wanita ini bahkan tidak merasa malu saat diberikan tatapan penuh jijik oleh Lin Yunzia.
"Dia terlihat mirip dengan engkau Yang Mulia!" ujar gadis itu malu-malu.
Kasim Han yang sudah kembali dengan membawa beberapa pelayan yang menenteng makanan hampir saja tersandung.
'Apa gadis ini tidak pernah ke luar? Dia bahkan menginginkan Jenderal Agung sebagai suaminya, apa dia tidak tahu kalau Jenderal Agung sudah menikah dan sangat mencintai istrinya?' Kasim Han merasa kasihan terhadap wanita di depannya. Dia tidak tahu kalau wanita ini sudah memiliki pasangan dan tidak layak disebut gadis lagi.
Kata-kata kasar yang dilontarkan Lin Yunzia membuat wanita itu mengernyit tidak suka, wajah tidak senang yang dia perlihatkan membuat Yunzia ingin mengeluarkan pedang panjang miliknya. Lin Yunzia menatap Raja Awan dengan mata melotot penuh peringatan, wajah Raja Awan berubah pucat, tangannya bergetar tidak terkendali.
Ia melihat ke arah putrinya dengan tatapan horor diselimuti ketakutan. "Saya tidak tahu kalau dia menyukai Jenderal Agung Yuhuan Yang Mulia! Maafkan kebodohan putri saya!" Raja dari kerajaan Awan langsung meminta maaf dengan cepat.
Yunzia tertawa lembut tapi bagi Raja Awan itu terdengar menakutkan, sudah berapa orang yang kehilangan nyawa ketika selesai mendengarkan tawa setan ini. "Kau juga harusnya sudah tahu kan kalau dia sangat mencintai istrinya? Mereka saat ini sedang menyambut kelahiran anak pertama mereka, posisi istri Kakakku lebih tinggi dari dirinya."
Yunzia memilih berdiri, dia benar-benar merasa jijik berdekatan dengan perempuan seperti wanita di depannya, 'Wanita ini tidak memiliki wajah memikat seperti Zixia, tidak memiliki kemampuan apa pun, dia hanya bangga karena ayahnya seorang raja. Benar-benar menyedihkan, dia pikir bisa berbuat seenaknya di sini.' Lin Yunzia berjalan menuju jendela yang ada di aula itu
"Maafkan kesalahan saya Yang Mulia! Saya harusnya menyelidiki terlebih dahulu sebelum mengajukan permintaan. Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati Anda Yang Mulia!" Raja Awan benar-benar ketakutan kali ini.
"Ayah, kenapa kau harus meminta maaf, harusnya pria yang disebut Jenderal Agung itu senang menikah denganku. Aku putri seorang Raja, semua orang menyukaiku, menuruti apa yang aku katakan dan dia juga harus mengikuti apa yang aku katakan. Dia harus menceraikan istrinya demi diriku, Ayah! Bukankah kau selalu menuruti apa yang aku inginkan," rengek gadis itu dengan mimik wajah menyedihkan.
Air mata yang selalu dia gunakan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya jatuh berderai perlahan sebelum dengan cepat mengucur deras. Raja Awan merasa sedih tapi dia kali ini tidak bisa menuruti keinginan putrinya jika masih ingin kerajaan miliknya berdiri tegak.
"Siapa kau? Siapa kau yang bisa menyuruh suamiku menceraikan diriku?" Teriakan keras Zixia membuat Lin Yunzia terkejut sekaligus ketakutan.
Zixia sangat jarang untuk marah tapi kalau dia sudah marah orang yang bersangkutan akan mengalami nasib yang tragis, contoh nyata yang telah ada adalah keluarga Bai, Ruan dan Liu. Zixia masuk ditemani oleh Ling Zhi dan Ye Lian. Langkah kakinya yang menghentak dapat menjelaskan bahwa dia benar-benar sangat marah.
"Kau! Kalau tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cepat panggil aku segera. Lihatlah wanita cantik ini! Berani sekali dia menginginkan milikku," ejek Zixia dengan kata-kata kasar.
Dia menggosok perutnya dengan sombong sebelum melangkah masuk dan duduk di kursi kebesaran milik Yunzia dengan tingkah tidak peduli sama sekali. Yunzia di sisi lain hanya mampu menggelengkan kepala melihat sikap kakak iparnya dengan helaan nafas kasar.
"Apa? Apa kau tidak suka aku duduk di kursimu?" tanya Zixia dengan mimik wajah menunjukkan ketidaksukaan yang begitu jelas.
"Tidak-tidak, kalau kau mau kau bisa mengambilnya. Kau juga bisa membawa kuris itu ke kediaman milikmu." Dengan cepat Lin Yunzia menjawab, matanya beralih pada Ling Zhi lalu pada Ye Lian.
Ke-duanya kompak mengangkat bahu pertanda tidak ingin menolong Yunzia sama sekali.