
"Aku tidak mau berbagi hal yang sama dengan Liu Zixia, Ibu! Dia hanya boleh membersihkan sepatuku atau hanya bisa menjadi pelayanmu. Ibu ... kau harus membantuku mendapatkan semua itu," rengek Liu Yan dengan nada manja pada Bai Yan.
Bai Yan mengangguk pertanda mengerti, sejak dulu ia memang sudah menanamkan pada anak-anaknya bahwa Liu Zixia tidak pantas mendapatkan kebahagiaan. Sejak memasuki rumah ini, Bai Yan memang terus-menerus mencoba menghancurkan Ibu Liu Zixia hingga terusir.
Tidak segan-segan, Bai Yan menjadikan anaknya sebagai korban agar semua keinginannya dapat terpenuhi.
"Ibu tahu, Nak! Tapi pertama-tama kau harus berbuat baik padanya terlebih dahulu, kau harus bisa mendapatkan tempat agar bisa masuk dan mengambil semua itu. Ketika kita menemukan Liu Zixia kau harus berpura-pura baik dulu, mengerti!" Bai Yan dengan lembut mengingatkan Liu Yan.
"Ibu, kenapa Liu Zixia bisa menjadi Permaisuri Yuhuan? Apa dia menggunakan trik kotor? Aku harus bisa bertemu Kaisar agar bisa menyadarkan dia dari pengaruh jahat Liu Zixia, Ibu, cepat cari Liu Zixia atau kita harus ke kota agar bisa bertemu dengannya?" Liu Yan terlihat tidak sabar.
Matanya menyala-nyala penuh kebencian, kekejaman serta kecemburuan. Liu Yan marah karena nasib baik menimpa Liu Zixia sedangkan dia mendapatkan masalah di sini hingga wajahnya mengalami kerusakan. Entah bisa diobati atau tidak dia sendiri belum tahu semua itu.
"Iya, Nak! Ibu telah mengatakan semua itu pada Ayahmu. Bukankah Ayah kalian sangat mencintai kalian? Dia pasti akan menuruti semua yang Ibu katakan, cepat atau lambat kau yang akan menjadi Permaisuri Yuhuan selanjutnya." Bai Yan membujuk Liu Yan dengan sangat baik.
Liu Zhang telah selesai bersama wanita itu, dia membiarkan wanita yang baru saja mengisi hatinya untuk beristirahat di kamar rahasia di ruang belajar. Setelah Liu Zhang ke luar dari kamar, wanita itu duduk dengan mata dipenuhi senyum kemenangan.
"Terima kasih Liu Zixia, berkat kecerdasan yang kau miliki aku berhasil masuk ke dalam kediaman Liu ini. Cepat atau lambat aku akan mengambil kendali rumah ini dari Bai Yan, memperlihatkan padamu kalau aku tidak akan ingkar janji. Setelah Bai Yan dan seluruh anaknya sengsara, barulah aku pergi dari rumah ini menyalahkan semuanya pada Bai Yan sama seperti dia menyalahkan Ibumu dulu." Wanita itu mengepalkan tangan.
Kebencian yang dipendamnya lama sebentar lagi akan bisa dibalaskan. Bai Yan yang penuh kebencian itu telah menyebabkan kakak si wanita menemui kematian yang begitu tragis. Dia mati dengan cara yang begitu menyedihkan hanya karena kecemburuan Bai Yan terhadap kasih sayang yang didapatkannya di keluarga Bai.
Wanita itu bernama Du Zi, dia datang ke kediaman Liu untuk membalas dendam atas kematian kakaknya dengan bantuan Liu Zixia. Du Zi bertemu Liu Zixia secara tidak sengaja ketika dia sedang memperhatikan kediaman Liu, dengan uang serta kemampuan Liu Zixia. Du Zi diubah menjadi wanita cantik, lemah lembut dan juga memikat, semua pertemuan yang tidak di sengaja antara dia dan Liu Zhang juga diatur dengan baik oleh Liu Zixia.
Liu Yan yang malang tidak tahu kalau sebentar lagi posisinya akan digantikan oleh Du Zi, Bai Yan masih sedang memikirkan dirinya menjadi ibu seorang Permaisuri yang dihormati serta disayangi.
Liu Yan tidak sabar menunggu berita terbaru dari Liu Zhang, Liu Yan berdandan begitu cantik berharap dirinya akan segera memasuki istana untuk menggantikan posisi Liu Zixia.
"Ibu, kenapa Ayah lama sekali memberi kabar? Apakah begitu sulit bagi Ayah untuk bertemu gadis malang itu?" tanya Liu Yan tidak sabar.
Bai Yan mencoba tersenyum, dia mengusap tangan lembut putrinya yang juga mulai muncul titik-titik hitam. Semua itu terlihat menakutkan, Bai Yan terus membujuk dengan cara tanpa berbicara.
Lama ke-duanya menunggu hingga akhirnya Liu Zhang memasuki halaman putrinya dengan beberapa penjaga beserta pelayan. Wajahnya terlihat marah, dia masuk dengan tergesa-gesa tanpa peduli senyuman penuh harap di bibir Bai Yan dan Liu Yan.
"Kalian ganti pakaian Nona Pertama dengan yang kalian bawa, dandani dia secantik mungkin!" perintah Liu Zhang saat dia telah sampai didekat Liu Yan.
Liu Yan tersenyum senang, dia mengira kalau dirinya akan menikah dengan keluarga kerajaan. Dengan antusias, Liu Yan mengangguk dan berlari ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Bai Yan yang mendengar kabar itu juga bahagia, sedikitpun dia tidak menaruh curiga atau memperhatikan raut wajah marah milik Liu Zhang.
Pakaian merah cantik telah dikenakan oleh Liu Yan, dia dengan hati-hati dinaikkan ke atas tandu pernikahan kecil untuk dibawa ke luar halaman. Bai Yan ingin berdiri untuk mengikuti Liu Yan ke depan namun langkahnya dicegah oleh beberapa penjaga yang dibawa oleh Liu Zhang.
"Suamiku, ada apa ini? Aku hanya ingin melihat kepergian anak kita, apa yang salah? Kenapa kau berbuat seperti ini?" tanya Bai Yan tidak mengerti.
Bai Yan berusaha melepaskan diri dari tangan para penjaga, awalnya Bai Yan mengira ini hanyalah kemarahan sementara Liu Zhang atau ada sesuatu yang membuat Liu Zhang tidak suka padanya.
"Kau masih bertanya apa yang salah? Coba pikirkan apa kesalahan yang telah kau lakukan hingga aku melakukan semua ini padamu? Beraninya kau menipu diriku selama ini, Bai Yan. Kau benar-benar wanita licik, kejam dan tidak punya hati." Liu Zhang melemparkan kalimat itu pada Bai Yan membuat Bai Yan mengernyit bingung.
"Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti," ujar Bai Yan dengan wajah penasaran.
"Masih berpura-pura kau rupanya, aku sudah tahu kalau Liu Yan bukan anakku. Dia anak siapa hanya kau yang tahu, untuk bisa memasuki kediamanku kau bahkan berani menipu diriku. Kau bahkan mencelakai anak-anak dari istri pertama hanya karena menginginkan posisi miliknya, kau bahkan sengaja melukai putrimu hanya untuk membuatnya terusir dari sini." Liu Zhang terus membuka semua kesalahan Bai Yan hingga Bai Yan terdiam membisu dengan mata melebar tidak percaya.
"Itu bohong, Liu Yan adalah putri sahmu. Siapa yang mengatakan semua kebohongan itu padamu suamiku?" tanya Bai Yan setelah dia akhirnya tersadar.
"Aku melakukan tes darah untuk mendapatkan obat agar mereka bisa sembuh. Hanya Liu Ze yang darahnya menyatu dengan darahku sedangkan Liu Yan, darahnya terus menjauh, kau tahu saat Liu Yan sedang tidur tadi anak buahku telah mengambil darahnya menggunakan jarum. Alasan dia tidak merasakan semua itu karena ada dupa di kamar anak-anak yang sengaja di pasang." Liu Zhang tersenyum mencemooh.
Untuk bisa mencopot jabatan Bai Yan sebagai nyonya rumah, Liu Zhang telah memikirkan berbagai cara. Beruntung Du Zi telah membantunya mencari solusi untuk pengobatan anaknya hingga semua ini terbongkar dan posisi Bai Yan dalam masalah besar saat ini.