Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#58


Lin Yuhua yang telah terbang beberapa hari sedang beristirahat di sebuah kota di sebuah kedai tempat makan.


Kebetulan kedai itu adalah tempat para pembawa berita bertukar tempat saling berbagi informasi yang didapatnya dari luar.


Tentu saja dengan imbalan yang lumayan barulah Anda akan mendapatkan informasi yang diinginkan.


"Kau tahu sobat! Aku mendapatkan sebuah berita belum lama ini. Seorang gadis cantik berumur 14 tahun dua minggu yang lalu menikah dengan dua pria sekaligus." Seorang pria berbicara dengan nada penuh bangga dalam suaranya.


"Gadis itu tidak menikahi sembarangan orang, kedua suaminya orang-orang berkemampuan hebat. Yang satunya adalah dewa obat dan yang satunya lagi adalah dewa pedang." Lagi, orang itu berbicara dengan penuh kekaguman.


Binar di matanya tidak mampu ia sembunyikan sedikitpun ketika membicarakan gadis itu.


"Benarkah? Seberapa hebat gadis itu hingga ia bisa menikahi orang-orang hebat itu dua sekaligus?" tanya pria yang duduk di sebelahnya.


"Entahlah, mungkin dia memiliki sesuatu yang begitu hebat hingga bisa membuat orang-orang itu luluh padanya."


"Siapa nama wanita itu?" Lin Yuhua berjalan mendekat, ia memberikan sekantong koin kepada si pemberi informasi.


"Liu Zixia, aku mendapat kabar juga dari temanku seorang pedagang yang kebetulan menjual barang-barang miliknya ke kediaman itu." Si pria tersenyum.


Tangannya dengan cepat menyembunyikan koin emas yang diberikan oleh Lin Yuhua ke dalam pakaiannya.


"Dimana mereka sekarang?" tanya Lin Yuhua dengan wajah penuh harap.


"Entahlah, Tuan! Dari berita yang aku dengar mereka sering berpindah tempat seolah-olah sedang mencari sesuatu atau mungkin mereka juga menghindari sesuatu." Si pria nampak berpikir lama.


"Kabar terakhir yang aku dengar mereka sudah pergi berlayar kembali dan menjual kediaman mereka yang baru dihuninya beberapa hari yang lalu."


"Terima kasih informasinya," ujar Lin Yuhua kembali duduk ke kursinya.


*


Liu Zixia tengah duduk santai di kursi di depan kamarnya di atas kapal.


Cuaca yang terang dan tenang menyebabkan ia betah berlama-lama untuk duduk di luar sembari memancing ikan.


"Kenapa tidak ada ikan yang mau memakan umpan milikku?" tanya Liu Zixia kesal.


Wajahnya cemberut dengan muka masam yang terlihat menggemaskan.


Long Ze dan Ling Zhi hanya memutar matanya malas mendengar gerutuan yang ke luar dari bibir indah Liu Zixia.


"Bagaimana mungkin ada ikan yang akan memakan umpanmu jika setiap detik kailnya terus kau tarik ke atas?" Long Ze nampak putus asa melihat ketidaksabaran yang diperlihatkan oleh Liu Zixia.


"Kami menggunakan qi untuk memancing ikan mendekat sedangkan kau, kau saja tidak tahu cara mengeluarkan qi sama sekali," cemooh Long Ze dengan senyuman nakal.


"Tunggu saja aku bisa menggunakan qi, aku akan mengalahkan kalian semua." Liu Zixia yang marah akhirnya berjalan ke arah kamarnya.


"Apa yang menyebabkan kau cemberut?" tanya Ye Lian dengan lembut saat melihat Liu Zixia berjalan masuk ke dalam kapal.


"Mereka berdua menertawakan aku yang tidak bisa menggunakan qi," adu Liu Zixia dengan wajah cemberutnya.


Liu Zixia menatap Ye Lian yang tengah menata meja makan, di tangannya ada dua mangkuk makanan siap jadi termasuk sup ikan dan goreng ikan.


Di atas meja, sudah ada masakan lain yang terlihat menggugah selera.


Liu Zixia memeluk Ye Lian dengan manja sembari mengecup pipinya dengan mesra.


"Aku ingin melahirkan anak untukmu," bisik Liu Zixia lembut. " Kenapa harus menunggu suami sah dulu? Aku saja kesal dan marahnya dan anehnya kenapa ada aturan kalau aku tidak bisa berpisah setelah menikah bahkan jika kebencian lebih besar dari cinta?" tanya Liu Zixia penasaran pada Ye Lian.


Mendengar itu Ye Lian tersenyum lebar, sungguh dia juga ingin memiliki anak dengan Liu Zixia tapi itu tidak memungkinkan. Mereka tidak bisa menentang aturan yang sudah ada kecuali suami sah memiliki masalah tentang keturunan.


"Bersabarlah sedikit, kau tidak tahu jika kau meminta berpisah dengan suami sahmu maka kau harus menceraikan semua suami sekunder maupun suami selir dan penghangat ranjangmu." Ye Lian tersenyum kecil sembari memeluk kembali Liu Zixia setelah selesai menata makanan.


"Baiklah, kalau begitu mari kita ke kamar! Aku sangat merindukanmu. Hah, andai saja si Yunzia tidak mengirim surat aku tidak akan tahu kalau si Yuhua itu mencari kita dan saat ini kita pasti bisa beristirahat dengan tenang." Liu Zixia mengeluh sembari menarik Ye Lian ke kamar utama yang ada di kapal besar itu.


***


Eh lupa, umur Liu Zixia aku ubah ya. Aku salah tulis umurnya kemaren. Sebenernya mau nulis 13 soalnya 13 itu sudah bisa menikah di sana tapi karena takut kalian protes karena adegan selanjutnya lebih panas dari yang ini makanya umurnya kuganti jadi 14 tahun aja.


Hai hai aku kembali, baca cerita kalian aku jadi nggak tega. Jadi kalian maunya ini di kontrak di sini.


Ya udah nggak pindah deh, tetap di sini sama kalian tapi janji kalian harus tetap baca ya sampai akhir karena cerita ini bakalan ada ratusan bab. Sanggup nggak ya kalian nunggu, aku nggak tersinggung sama komen kalian tapi sekali lagi jangan komen alurnya karena aku emang bikin cerita yang panjang banget.


Di mana pemainnya emang lama buat ngumpulin kekuatan, dia harus berjuang denagn keras. Bukan dikit-dikit langsung naik tingkat habis itu jatuh lagi.


Kan nggak enak jadinya.


Do'ain aja supaya kontraknya diterima, biar dia nggak kabur.


Kalian boleh komen apa aja tapi jangan komen alurnya karena cerita ini cerita lambat ya.


***