
Ayo ngaku lagi ngapain sekarang? Wkwkwkkw, jangan galau ya! Tiru aku yang walaupun banyak masalah yang datang tetap semangat.
###
Hari beranjak malam, suara pertarungan di luar mulai tidak terdengar lagi. Para iblis memilih untuk mundur karena banyak dari mereka yang telah kalah, pasukan Benua Atas juga mengalami kekurangan tentara walaupun kekalahan mereka tidak sebanyak gugurnya pasukan iblis.
He Yidu yang melihat itu menunggu pasukan untuk masuk ke dalam lagi, kali ini dia membiarkan pasukannya berjalan lebih dulu dengan beberapa tentara yang meninggal dibawa menggunakan tandu. Walau lelah, ada kepuasan di wajah para prajurit yang baru saja berjuang.
Mereka tampak bahagia meski rasa lelah mereka belum terbayarkan sepenuhnya sebab bangsa iblis bisa menyerang kapan saja tanpa ada yang tahu. Banyak wanita yang menunggu He Yidu lewat, mereka bersorak senang saat melihat kuda putih itu melintas dengan cepat membelah kerumunan yang berjejer.
He Yidu menuju ke istana terlebih dahulu, meninggalkan kuda dan pakaiannya lalu pulang menggunakan kuda lain yang biasa ia pakai. Menjelang hampir sampai di kediamannya, He Yidu melihat adik keempatnya sedang berjongkok tidak jauh dari gerbang kediamannya.
Pria itu entah sedang membuat apa di tanah, dia bahkan tidak peduli dengan gelapnya malam. Pria itu senantiasa menunggu kepulangan He Yidu hanya untuk ibunya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya He Yidu pada pria itu dengan kening mengkerut. He Yidu menghentikan laju kudanya tepat di depan pria itu membuat pria itu batuk-batuk keras karena debu.
"Aku menunggumu! Ibu dan He Yuan sakit, keluarga kita sudah tidak punya uang lagi untuk mengobati mereka. Kau tahu bukan semua uang di keluarga kita digunakan untuk mengganti biaya barang kerajaan yang dirusak ibu di kediamanmu." Pria muda itu berdiri dengan cepat, ia membersihkan debu di bajunya.
"Istrimu tidak mau memberiku uang, dia juga tidak mengizinkanku masuk ke kediaman kalian. Bahkan untuk memanggil Tabib yang bekerja di kediamanmu dia enggan, kau harus tahu kalau ibu selama ini sudah baik padamu." Pria muda itu tidak melihat perubahan emosi He Yidu, dia terus berbicara tanpa henti.
"Baguslah istriku tidak memberimu uang, jujur saja aku memang tidak memiliki uang lagi. Kunci gudang dan kunci hartaku semua dipegang istriku dan dia yang mengelolanya, dia bukan ibuku karena sejak dulu dia tidak pernah memperlakukan diriku seperti anak." He Yidu memacu kudanya meninggalkan pria itu setelah berbicara.
Pria itu tampak terkejut, mulutnya terbuka lebar setelah mendengar ucapan He Yidu. Biasanya He Yidu masih akan peduli pada keluarga mereka tapi sekarang sedikit pun He Yidu tidak memiliki niat untuk membantu
He Yidu langsung memasuki kediaman rumahnya, ia berjalan menyusuri lorong pendek dan gelap agar bisa sampai di halaman utama lebih cepat. Saat sampai di halaman utama dia disambut senyuman hangat Zixia, saat ini Zixia sedang berdiri di depan kamar dengan suaminya yang lain.
"Kau sudah pulang? Bagaimana peperangan hari ini! Apakah semuanya lancar?" tanya Zixia ramah.
Zixia membawa He Yidu duduk di kursi yang ada di sana lalu menyuruh pelayan membawakan teh serta cemilan dengan gerakan tangan. He Yidu merasakan ada sesuatu yang manis menjalar dari hatinya membuat senyum manis terbit di bibirnya.
"Tidak ada yang istimewa, seperti yang Lin Yuhua katakan kemarin. Iblis yang muncul kali ini adalah iblis lemah, mereka mati dalam satu serangan." He Yidu menjelaskan, beruntung dia mendengar nasihat Lin Yuhua dan menyampaikan itu semua ke istana kalau tidak mereka mungkin akan menurunkan penjagaan mereka.