Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#49


"Siapa kau?" tanya Liu Zixia heran saat melihat orang di depannya. Lelaki di depannya adalah lelaki tua dengan jenggot yang mulai memutih.


Pakaian yang dikenakannya sudah lusuh termakan usia, sepatu kain yang dipakainya memiliki lubang angin kecil di mana-mana yang terlihat menyedihkan.


Jika cuaca dingin datang maka sepatu itu tidak akan bisa menghentikan kedinginan yang akan datang membunuhnya.


"Ahh, aku diutus seseorang untuk mengantarkan hadiah untukmu!" Pria tua itu tidak menjawab ucapan Liu Zixia.


Namun sebagai gantinya dia mengulurkan sesuatu yang dibungkus kain berwarna biru muda yang terlihat aneh.


"Ambil! Ayo ambil!" Ru Ansan yang berada di dalam ruang berteriak heboh dengan suara yang penuh dengan semangat.


"Memangnya itu apa?" tanya Liu Zixia di dalam hati. Dia hanya mencium bau kayu yang familiar tapi tidak begitu di kenalnya.


"Ambil saja itu dulu! Kau dan aku sangat membutuhkan itu untuk maju ke tahap berikutnya nanti," perintah Ru Ansan lagi.


Mata Ru Ansan berbinar-binar dengan cerah, serta air liur yang menetes di celah bibirnya membuat Liu Zixia merasa jijik dan semakin penasaran.


Liu Zixia mengambil bungkusan itu dan hendak membukanya langsung karena penasaran.


"Tolong hentikan! Anda bisa membukanya nanti Nyonya! Saya akan pergi, semoga Anda menyukainya dan bisa memanfaatkan semua itu dengan baik dan tepat." Pria itu menghentikan gerakan tangan Liu Zixia.


Setelah mengatakan kata itu, pria tua itu melangkah pergi meninggalkan rumah Liu Zixia yang lumayan besar dan mampu menampung sekitar 300 orang itu.


Setelah melihat kepergian orang itu, Liu Zixia kembali berjalan pergi ke halaman utama tempat kamarnya berada.


Setelah sampai di kursi batu tadi, Liu Zixia langsung duduk dan melihat kedua orang laki-laki di depannya.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" Ye Lian akhirnya tidak tahan dan melontarkan pertanyaan pada Liu Zixia.


"Ini rumah siapa?" Satu pertanyaan dilontarkan oleh Liu Zixia sembari meminum teh yang memang sudah tersedia di depannya sejak tadi.


Bahkan sejak meja ini ditinggalkan olehnya. Liu Zixia menatap Ye Lian dan Ling Zhi bergantian satu-persatu, dia tahu apa yang ada dipikiran Ye Lian tapi dia ingin mendengar itu semua langsung dari bibirnya.


"Ini rumah baru kita sementara, aku dan Ling Zhi membelinya secara patungan kemarin saat kita berlabuh pada penjual rumah." Ye Lian menjelaskan.


"Lalu kenapa dia bisa tinggal juga di kamar utama?" tanya Liu Zixia sembari menunjuk Ling Zhi yang berdiri di sebelah Ye Lian.


"Dia! Aku akan membicarakan ini nanti padamu saat berdua tapi karena kau telah bertanya saat ini maka aku akan menjawabnya sekarang. Aku ingin kau mengambilnya sebagai salah satu selir juga!" Ye Lian menunduk setelah mengatakan semua itu.


Dia takut Liu Zixia akan marah padanya karena mengambil keputusan tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Apa alasannya aku harus menjadikan dia salah satu selirku?" tanya Liu Zixia menatap Ye Lian. Dia ingin tahu kenapa Ye Lian bisa berpikir seperti itu.


Bukankah seharusnya dia takut atau harus menunggu waktu sedikit lagi? Mereka baru bersama sebentar, apa nanti tidak akan terjadi pertengkaran?


"Dia sudah banyak membantu kita, di saat kau sakit dia juga mengobati dan menjaga dirimu dengan baik." Ye Lian menjawab sembari menatap Liu Zixia penuh harap.


*


Jangan lupa bantu juga ceritaku yang satu lagi judulnya My Husband is A devil makasih semua.