Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#114


Melihat reaksi istrinya, Lin Yuhua terkekeh senang. Dia mencuri ciuman di pipi Liu Zixia membuat Ling Zhi semakin cemberut tidak senang. Ling Zhi memilih berbaring di samping Liu Zixia, ia memeluk tubuh Liu Zixia dari arah samping kiri dengan tangan berada di perut Liu Zixia yang sudah menonjol sedikit.


"Lepaskan tanganmu! Anakku bisa risih jika kau ganggu seperti itu," usir Lin Yuhua dengan kejam.


Ling Zhi berpura-pura tidak mendengar, ia semakin melingkarkan tangannya di perut Liu Zixia membuat Lin Yuhua yang memeluk Liu Zixia merasa kesusahan. Lin Yuhua akhirnya mengalah, ia merubah posisi tubuhnya menjadi ikut berbaring dengan Liu Zixia berada di tengah.


Liu Zixia yang lelah melihat pertengkaran suaminya memilih menutup mata hingga tanpa sadar mulai tertidur dan menjelajahi alam mimpi. Liu Zixia berjalan di sebuah tempat dengan pemandangan indah, berbagai macam pohon dengan energi spiritual murni tampak berdiri kokoh dengan warna yang berbeda di setiap pokok batangnya.


Liu Zixia terus berjalan, matanya menelisik tempat itu dengan saksama berharap dia akan menemukan sesuatu di sini. Liu Zixia memperhatikan sekelilingnya tapi ia tetap tidak bisa menemukan petunjuk apapun tentang tempat yang dia datangi ini.


"Zixia, kapan kau akan datang menemuiku? Kau telah menemukan mereka berempat lalu bagaimana dengan kami berdua? Apa kau tidak peduli pada kami lagi? Apa hanya mereka saja yang mencintaimu?" Suara lirih penuh keluhan itu terdengar sangat menyedihkan.


Di bawah sebuah pohon rindang dengan pokok batang berwarna ungu seorang pemuda dengan pakaian hijau daun sedang berdiri membelakangi Liu Zixia. Suaranya yang dipenuhi kerinduan itu membuat Liu Zixia merasakan sakit mendalam hingga tanpa sadar memegang bagian dadanya yang nyeri.


Liu Zixia ingin mendekati pria itu namun sepertinya ada sesuatu yang menahan kaki Liu Zixia hingga dia tidak bisa melangkah kemanapun. Alhasil, Liu Zixia hanya bisa berdiri diam di sana dengan tatapan penuh kerinduan serta rasa bersalah yang mendalam.


"Maafkan aku! Andai saat itu aku tidak berada dalam kondisi paling lemah serta hati yang lembut maka kita semua pasti masih bersama hingga saat ini. Semua salahku! Aku yang menyebabkan kalian semua mengorbankan nyawa hingga mencapai kematian yang begitu menyedihkan seperti ini." Liu Zixia berbicara dengan nada sedih.


Air mata menetes di pipi Liu Zixia tanpa bisa dihentikan, rasa sakit di dada Liu Zixia membuat ia jatuh terduduk. Pria itu tidak berbalik sama sekali seolah enggan untuk melihat wajah Liu Zixia, hal itu membuat Liu Zixia merasa semakin kecewa.


"Bukan salahmu Zixia! Semua adalah kesalahan kami yang tidak memiliki cukup kekuatan untuk melindungi dirimu. Zixia! Cepatlah temukan aku, kalau kau masih belum datang maka aku akan datang terus dalam mimpimu." Suara itu menghilang beriringan dengan lenyapnya pemuda itu.


Liu Zixia mencoba menggapai bayangan yang sepenuhnya hampir hilang itu dari kejauhan tapi angan hanyalah angan. Liu Zixia hanya bisa membiarkan pemuda itu menghilang tanpa bekas di depannya.


Saat Liu Zixia terbangun, burung-burung berkicau di antara pepohonan. Mereka bersorak riang gembira seolah mengatakan kalau hari ini akan indah.


Buru-buru Liu Zixia bangun dari tidurnya, Liu Zixia turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Liu Zixia bahkan tidak sadar kalau kedua suaminya tidak berada di tempat tidur.


"Sebelum pergi makanlah terlebih dahulu! Aku tidak ingin anakku kekurangan nutrisi, kau boleh balas dendam sesuka hatimu tapi ingat kalau anak kita juga harus sehat." Lin Yuhua meletakkan makanan di atas meja kecil di samping tempat tidur


Liu Zixia mengangguk senang, ia berjalan menuju ke sana untuk menyantap makanan yang di bawa Lin Yuhua itu. Liu Zixia memakan semuanya dengan lahap, senyum manis di bibirnya membuat Lin Yuhua merasa sangat puas.


"Aku pergi! Ingat, jangan ikut campur tentang masalah ini ketika aku tidak meminta. Kalian hanya boleh menonton dari samping saja, jangan lakukan hal lain yang akan membuatku marah, mengerti!" pesan Liu Zixia sebelum ia keluar dari pintu setelah menghabiskan makanan yang dibawa oleh Lin Yuhua.


Lin Yuhua mengangguk, setelah Liu Zixia menghilang dari pandangannya serta tidak lagi ada aroma tubuh yang tercium barulah Lin Yuhua mendesah panjang. Lin Yuhua merapikan bekas makan Liu Zixia sebelum berjalan ke luar untuk mengembalikan nampan tersebut.


Lin Yuhua juga merapikan kamar bekas mereka tidur karena dia tidak ingin orang lain yang mengerjakan semua itu selagi dia bersama Liu Zixia di luar. Liu Zixia buru-buru terbang ke kediaman Du untuk mengetahui keadaan Liu Yan, Liu Zixia sangat ingin mendengar teriakan kemarahan Liu Yan saat tahu keperawanannya diambil oleh seorang pria dengan banyak istri.


Liu Zixia sudah bersandar dengan nyaman di pepohonan rimbun di halaman Liu Yan, di halaman itu hanya ada satu pelayan tua tanpa penjaga sama sekali. Selain itu halaman yang ditinggali oleh Liu Yan adalah halaman paling kecil serta paling jelek, hampir sama dengan tempat pertama kali dia bangun.


Sesuai dugaan Liu Zixia, tidak lama setelah kedatangannya Liu Yan akhirnya bangun dari tidur panjangnya akibat kelelahan. Saat merasakan sakit di bagian pribadinya senyum bahagia tercipta begitu lebar di bibir Liu Yan.


Ia mencoba bangkit dari tempat tidur, menopang tubuh dengan susah payah agar bisa duduk bersandar. Tubuh Liu Yan terasa remuk, beberapa ungu serta kemerahan bisa dilihat dengan jelas pada beberapa bagian tubuhnya.


Liu Zixia masih menunggu dengan sabar di pohon rindang itu, sesekali Liu Zixia akan memetik daun dan menjatuhkannya berharap Liu Yan segera sadar di mana posisinya saat ini.


"Pelayan!" teriak Liu Yan keras dari dalam kamar.


###


author ingin mengingatkan jangan lupa, vote, komen serta likenya. Semakin tinggi level semakin banyak author akan up. Kalau level 9 sama 10 author akan up 2000 kata sehari 🙏🙏🙏 makasih semuanya masih setia sama cerita author 🥰🥰🥰🥰