Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#118


Ling Zhi menghela nafas, ia berdiri lalu menepuk bahu Ye Lian seolah memberi kekuatan. "Bukannya aku ingin kau memaafkan dirinya begitu saja, tapi semua yang Lin Yuhua lakukan pada Liu Zixia memiliki sebab dan akibat sendiri. Cobalah untuk mengerti tentang dirinya sedikit saja, di antara kita semua yang paling mencintai Liu Zixia adalah Lin Yuhua."


Ling Zhi memandang hamparan bunga di halaman itu memiliki aroma berbeda yang terbang melayang di udara akibat diterpa angin. "Kau mungkin tidak ingat atau tidak tahu tentang kehidupan mereka yang sebenarnya tapi Lin Yuhua adalah orang pertama yang rela mati untuk Liu Zixia daripada kita semua. Dulu, Lin Yuhua lebih memilih Liu Zixia lebih dahulu dibandingkan keluarganya itu sebabnya ketika dia ditipu oleh Ruan Zu, Lin Yuhua lebih memilih Ruan Zu daripada Liu Zixia."


Ling Zhi mengenang masa lalu mereka ketika mengingat cerita itulah, bagaimana sayang serta pedulinya Lin Yuhua pada Liu Zixia. Bahkan demi Liu Zixia, Lin Yuhua rela menempuh waktu berhari-hari hanya untuk mencari tanaman obat yang Liu Zixia inginkan.


"Sewaktu Liu Zixia berada di titik terlemah dirinya, Lin Yuhua adalah orang pertama yang berdiri di garis depan menghalangi berbagai serangan agar Liu Zixia tetap hidup. Sayang, dia tetap memilih meninggal bersama kami pada akhirnya." Ling Zhi berbalik, ia menatap Ye Lian sebelum berlalu pergi menuju ke kamar tempat Liu Zixia berisitirahat.


Di dalam kamar, Liu Zixia tengah tertidur lelap di dalam pelukan Lin Yuhua. Tangan Lin Yuhua dijadikan bantal oleh Liu Zixia, sedangkan Liu Zixia menjadikan Lin Yuhua sebagai guling. Ling Zhi melepas sepatu yang sejak kemarin ia kenakan dengan langkah pelan takut menganggu tidur keduanya.


Setelah itu Ling Zhi memasuki bagian belakang kamar untuk mandi, merasakan tubuhnya telah bersih Ling Zhi berjalan ke luar dengan pakaian baru. Ling Zhi ikut naik ke tempat tidur berbaring di belakang Liu Zixia dengan tangan diletakkan di pinggang Liu Zixia.


Ke-tiganya tertidur dengan nyenyak sampai malam hari, Liu Zixia hanya terbangun setelah merasakan lapar yang begitu kuat. Saat bangun, Liu Zixia tidak menemukan siapapun di dekatnya. Dengan rasa malas Liu Zixia bangkit, ia berjalan menuju ke belakang layar untuk mandi.


Setelah mandi Liu Zixia berjalan menuju ke luar untuk mencari makanan. Rasa lapar yang mendera membuat Liu Zixia tidak memperhatikan keadaan sekeliling.


"Pelayan ... pelayan! Kalian di mana?" Liu Zixia berteriak di depan pintu kamarnya saat ia tidak menemukan satupun pelayan di halaman.


Keringat mengalir bercucuran dari kening Long Ze, nafasnya juga terdengar tidak beraturan terlihat jelas kalau dia terburu-buru datang ke sini tanpa terbang.


"Aku lapar, tidak satu pun pelayan yang dapat aku temukan di sini. Apa mereka terlalu lelah bekerja?" tanya Liu Zixia kesal.


Liu Zixia memegang perutnya dengan wajah cemberut, matanya yang terkulai akibat masih mengantuk membuatnya terlihat begitu menggemaskan.


"Tunggu sebentar! Lin Yuhua sudah menyiapkan makanan untukmu hanya tinggal dipanaskan saja." Long Ze berjalan menuju dapur yang ada di halaman tempat mereka tinggal.


Sesampainya di dapur, Long Ze melihat ke kiri dan ke kanan mencari tempat makanan tadi di simpan. Setelah lama mencari akhirnya Long Ze menemukannya juga, Long Ze memanaskan makanan sebentar sebelum berlalu pergi k arah Liu Zixia kembali.


Long Ze tidak menemukan Liu Zixia di depan kamar merasa khawatir, Long Ze membuka pintu kamar dan menemukan Liu Zixia tengah duduk manis sembari mengayunkan kedua kakinya di tempat tidur.


"Aku rasa anak pertama kita adalah perempuan, ibunya sangat pemalas. Setiap hari hanya suka duduk di tempat tidur saja," ejek Long Ze dengan nada lembut yang begitu kentara.