Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#113


Lelaki yang keluar tadi telah masuk kembali, ia membawa nampan berisi makanan dengan senyum lebar diselimuti kegembiraan yang begitu mendalam. Bai Yan yang sejak tadi tidak melihat makanan serta menderita kelelahan langsung meraih makanan itu, terburu-buru Bai Yan bahkan hampir saja menumpahkan air minum ke lantai.


Bai Yan makan dengan lahap, ia mulai menyantap menu sederhana yang ada padahal dulu dia tidak pernah melirik makanan seperti ini. Setelah makan sampai kenyang, Bai Yan meminum air itu hingga tandas lalu bersandar pada tumpukan kayu dengan kaki terbuka lebar.


Bai Yan menyentuh perutnya yang sedikit membuncit dengan perasaan senang yang tidak terkendali. Ke-dua pemuda itu membiarkan Bai Yan beristirahat sebentar, mereka merapikan bekas makanan Bai Yan ke samping, duduk di sebelah kiri dan kanan Bai Yan dengan tangan mulai menyentuh paha Bai Yan.


Dua remaja yang sedang tergila-gila itu menunggu Bai Yan bereaksi dengan tangan mereka namun Bai Yan terlihat tidak peduli sama sekali. Harga diri Bai Yan yang dulu melambung tinggi kini telah turun harga begitu jauh, Bai Yan tidak lagi merasa risih akan kegiatan ini karena yang datang menemuinya adalah pelayan-pelayan muda dengan tenaga kuat.


Berbeda dengan Liu Zhang yang hanya bisa bermain dengannya sebentar saja. Liu Yan di sisi lain juga telah kelelahan, ia jatuh pingsan dengan tubuh mati rasa.


Lelaki yang menjadi suami Liu Yan juga berjalan ke luar setelah mendapatkan kepuasan, meninggalkan Liu Yan begitu saja layaknya wanita di rumah bunga. Liu Zixia tengah dipeluk erat oleh Lin Yuhua, ke-dua kakinya sedang dipijat oleh Ling Zhi yang sejak tadi terus mengganggu ketenangan ke-duanya.


"Keluarlah! Kau ingin kuusir secara baik-baik atau kutendang?" tanya Lin Yuhua kesal.


Ling Zhi tampaknya tidak peduli, seolah tuli tanpa pendengaran sama sekali Ling Zhi terus memijat kaki Liu Zixia. "Kau pasti kelelahan kan istriku? Oh ya, kapan kau akan memberi kami status sebagai suami kedua? Setidaknya dengan begitu pangkat kami lebih tinggi dari pelayan tempat tidur."


Ling Zhi mengutarakan apa yang sebenarnya selama ini telah dia pikirkan, sebagai Permaisuri dengan kedudukan paling tinggi dari wanita lain setelah Lin Yuhua menjadi suami pertama dengan pangkat Kaisar tentu saja mereka juga ingin diberi peringkat oleh Liu Zixia agar bisa mendapatkan posisi yang terbaik dari selir Liu Zixia lainnya.


Sindiran Lin Yuhua menusuk relung hati Ling Zhi menyebabkan Ling Zhi menjadi cemberut, bibirnya maju ke depan dengan wajah kesal yang tidak ditutupi sama sekali. Ling Zhi memelototi Lin Yuhua dengan tatapan tajamnya, ingin sekali Ling Zhi menjawab ucapan itu tetapi tatapan peringatan yang diberikan Liu Zixia padanya menyebabkan Ling Zhi menunduk.


"Jangan lupa ada aturan di kerajaan Angkrea yang mencegah istri dengan banyak suami untuk hanya mencintai dan memperlakukan satu suami saja dengan baik. Suami yang lain juga tidak berhak berebut kasih sayang jika tidak ingin disingkirkan." Lin Yuhua masih tersenyum saat berbicara tapi nada peringatan dalam setiap kata yang ia sampaikan jelas mengandung makna yang sangat mudah dipahami.


Ling Zhi akhirnya mengangguk meski dengan wajah tidak rela. "Kenapa istriku tidak ke luar malam ini? Apa rencana balas dendammu sudah selesai?" tanya Ling Zhi pada akhirnya untuk mengubah percakapan.


Liu Zixia di sisi lain menghembuskan nafas kasar, ia ingin sekali ke luar untuk menonton kesenangan. Namun, Lin Yuhua mengatakan telinganya akan rusak jika mendengar suara kotor itu. Lagipula Liu Zixia takut dengan ancaman Lin Yuhua yang akan membuatnya tidak bisa berjalan selama dua hari jika dia memaksa untuk tetap keluar.


"Belum, aku akan melihat keadaan mereka besok. Aku juga ingin melihat bagaimana keadaan anak-anak Liu Zhang yang lainnya, jiwa kesakitan tubuh ini masih belum merasa puas dengan penderitaan mereka saat ini. Tampaknya dia ingin aku melakukan sesuatu yang lebih, andai saja aku tidak berjanji mungkin saat ini aku pasti sudah mencari keberadaan wanita ular itu." Liu Zixia tampak tidak senang saat menjawab.


Dia menengadah melihat ke arah Lin Yuhua yang memamerkan kasih sayang mereka. Ling Zhi mengangguk tanda paham, ia sebenarnya juga tidak ingin Liu Zixia mendengar suara orang lain apalagi melihat tubuh orang lain tapi dia tidak seberani Lin Yuhua.


"Jadilah patuh! Besok kau masih memiliki harapan untuk melihat mereka seharian, aku juga sudah mengirim orang untuk mencari keberadaan musuh bebuyutanmu itu. Cepat atau lambat kita akan menemukan mereka, kau bisa membalaskan dendammu sepuasnya. Lagipula anakku yang kau kandung tidak boleh di luar pada malam hari, hal itu dapat menyebabkan tubuhmu akan melemah setelah melahirkan." Lin Yuhua membujuk Liu Zixia dengan suara lembut miliknya yang terdengar memuakkan bagi Ling Zhi.


"Ya, aku mengerti! Aku tidak akan membiarkan anak pertamaku mengalami kendala, aku bukan ibu yang jahat. Aku akan memikirkan nasib anak-anak yang akan aku lahirkan ke dunia ini," ujar Liu Zixia pasrah.