Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#51


"Lalu urusannya denganku apa?" tanya Liu Zixia dengan tampang bodohnya yang membuat Ye Lian menggelengkan kepalanya dramatis.


"Dia merindukanmu, dia menginginkan dirimu," ujar Ye Lian dengan suara yang terdengar lelah.


"Lalu bagaimana dengan perasaanmu? Bagaimana dengan luka yang akan kau terima? Apa kau sanggup berbagi diriku dengan yang lain?" Liu Zixia menatap Ye Lian kecewa.


Dia merasa seperti boneka yang bisa berpindah ke tangan siapa saja. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan ini semua pada keadaan.


Masalah hari ini juga karena kesalahannya sendiri. Harusnya sebelum menikah dan mengambil keputusan dia mencari tahu terlebih dahulu adat dan tradisi kepercayaan di tempat yang akan dia tinggali saat ini.


"Aku harus bisa! Mau tidak mau, suka tidak suka semua harus kujalani walau aku tidak ingin. Walau aku tidak sanggup!" Ye Lian menatap Liu Zixia dengan senyuman yang bertengger di wajah tampannya.


"Kita lihat saja! Aku hanya ingin mengikuti apa yang kau mau tapi jangan salahkan aku jika ... kalau aku tidak bisa bersikap adil pada kalian nanti." Liu Zixia membalik tubuhnya dan menghadap ke arah lain.


Ling Zhi yang ditinggal seorang diri di luar hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa daya.


Pasangan di depannya benar-benar pintar dalam membuat cemburu dan marah. Ling Zhi kesal dan berjalan menuju ke kamarnya untuk beristirahat.


Di sisi lain, seorang pria dengan pakaian putih tengah duduk sembari bersandar di tempat yang menyerupai tempat duduk namun dibuat lebih lebar dan ada sandarannya hingga bisa tidur dengan nyaman di atasnya.


Di tepinya ada sandaran yang dibuat rendah hingga bisa dijadikan bantalan atau sekedar menaruh tangan.


"Tuan, saya sudah memberikan hadiah Anda pada Nyonya. Hanya saja di sekitar Nyonya ada dua pria yang mengikutinya dan di mata mereka juga ada cinta dan kerinduan seperti yang ada di mata Anda ketika melihat lukisan Nyonya." Pria itu menunduk.


"Apa yang dikatakan oleh Nyonyamu sebelum kau pergi?" tanya pria itu penasaran.


Dia merubah posisi rebahannya menjadi duduk.


"Tidak ada, Nyonya kehilangan senang dan gembira mendapatkan buku yang Anda berikan, Tuan!" Pria tua itu mencoba mengingat-ingat apa yang dikatakan oleh Liu Zixia.


"Ya sudah, kau pergilah menyiapkan hadiah pernikahan! Aku ingin hadiah mahal dan paling bagus yang belum pernah diberikan oleh orang lain pada pasangannya."


"Baik, Tuan!" Pria tua itu menunduk sebelum pergi.


Sedangkan pria tampan itu kembali merebahkan tubuhnya dan berbaring menatap langit-langit kamar.


"Akhirnya aku kembali bisa bersamamu. Kali ini aku tidak akan membiarkan dirimu berjuang seorang diri dan membiarkanmu bertarung sendirian lagi." Pria itu tersenyum ketika mengingat kebersamaan mereka yang telah lalu.


"Kita bisa berdiri berdampingan tanpa harus berdiri di posisi belakang atau di depan lagi. Aku juga sudah menguasai ilmu pengobatan untuk membantumu ketika terluka," bisiknya lembut dan terbang dibawa angin lalu yang berhembus dan lewat.


"Setelah beribu-ribu hari aku lalui sendiri akhirnya aku bisa menemukan dirimu dan saudara-saudaraku yang lain. Yang sehidup semati berjuang bersama untuk membiarkan dirimu tetap hidup walau akhirnya kau memilih bunuh diri."


Pria itu menatap lukisan indah di depannya. Satu lagi lukisan terlihat hancur dan berantakan. Dan itu adalah lukisan dengan wajah Ruan Zu yang terpajang.