Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#124


"Belikan pakaian baru untuknya, kita selesaikan ini di Kekaisaran." Lin Yuhua akhirnya memberikan perintah pada Long Ze yang sejak tadi diam tidak banyak bicara.


Long Ze mengangguk, dia ke luar dari kamar pribadi itu dengan cepat tanpa menunggu perintah ke-dua. Ling Zhi di sisi lain hanya duduk manis sembari bermain dengan pedang putih panjang miliknya.


"Hah, lelah juga ternyata bermain seperti ini. Aku tidak menyangka kalau Permaisuri Yuhuan yang dicintai oleh para lelaki hebat ini hanyalah orang bodoh yang mudah dimanfaatkan." Pria yang ikut bersama si baju sobek mendesah.


Hinaan yang dilontarkan mulutnya membuat Liu Zixia semakin marah, Liu Zixia ingin bergerak maju lepas dari pelukan Lin Yuhua untuk memberi pria itu pelajaran namun Lin Yuhua tidak mau melepaskan Liu Zixia sedikitpun.


"Jangan marah! Itu tidak baik untuk janin yang kau kandung. Lagipula membuat keributan di sini akan memperburuk keadaan, aku tidak mau nama Permaisuriku dipandang rendah oleh orang lain." Lin Yuhua berbisik di telinga Liu Zixia mesra.


Akan tetapi apa yang dia bisikkan dapat didengar oleh orang-orang di dalam ruangan. Pria itu merasa akan meluap dengan kemarahan saat tiba-tiba pintu dibuka lembut dari luar.


Seorang pria dengan pakaian ungu muda masuk dengan senyuman yang membuat pria dengan pakaian sobek merasakan bahaya. Pria itu melihat ke arah Liu Zixia sekilas sebelum melihat pada dua pria yang sejak tadi bermain sandiwara.


"Aku bisa membuktikan kalau Permaisuri Yuhuan tidak bersalah, aku bersama teman wanitaku melihat semuanya secara jelas dari balik jendela. Hanya saja kami tidak sempat datang melihat ke sini sebab ada masalah yang kami temui tadi." Pria itu akhirnya bersuara setelah ia memindai seluruh wajah yang ada i dalam ruangan itu.


Memang, Liu Zixia dari awal masuk duduk didekat jendela yang menghadap ke penginapan di balik restoran ini. Lin Yuhua dan Ye Lian serempak melihat ke luar jendela dan mereka memang menemukan seorang wanita dengan wajah ditutupi cadar sedang duduk menghadap mereka.


"Tidak, itu tidak mungkin. Kau pasti berbohong," tuduh pria baju sobek dengan suara keras.


Dia benar-benar tidak mengira rencana yang telah ia susun dengan rapi akan rusak oleh seseorang dengan tiba-tiba. Dia berdiri dan ikut melihat ke arah jendela sana, memang di sana dia juga melihat seorang wanita tengah duduk juga.


"Kami bisa membuktikan Permaisuri Yuhuan tidak bersalah, bahkan pelayan yang mengantar makanan ke kamar kami bisa menjadi saksi juga karena saat keributan terjadi mereka juga melihat ke arah kamar pribadi ini." Pria dengan baju ungu kembali melanjutkan.


Long Ze kembali dengan membawa beberapa pakaian di tangannya, melihat semangat Liu Zixia kembali ditambah ada lelaki lain di dalam ruangan membuat ia mengernyit bingung. Ia melempar pakaian itu pada pria yang bajunya sobek sebelum duduk kembali di tempatnya tanpa bertanya.


"Baiklah, masalah ini cukup sampai di sini. Kami tidak akan melanjutkannya huh ... kau lihat saja," tunjuk si baju sobek pada pria berbaju ungu dengan kemarahan luar biasa.


Ia kesal akan kekalahan yang diterimanya padahal kemenangan sudah berada di ujung jarinya. Kedua pria yang melawan Liu Zixia akhirnya memilih ke luar ruangan dengan wajah masam, jelas kalau keduanya tidak menerima kekalahan mereka.


"Terima kasih telah menolong kami, apa yang kau inginkan sebagai bentuk balas budi?" Lin Yuhua bertanya secara langsung pada pria berbaju ungu.


Pria berbaju ungu tersenyum, tapi senyum itu tidak mencapai matanya sedikitpun seolah ada beban berat di hatinya yang meminta untuk dilepaskan. "Namaku Ming Zhi, aku ke sini mencari seorang wanita bernama Ruan Zu. Dia telah membawa beberapa perempuan cantik di desa kami dengan menipu kami. Dia mengatakan kalau dirinya adalah Selir kekaisaran Yuhuan dan dia datang ke sana untuk berdoa di kuil di desa kami."


Ming Zhi menghela nafas kasar, raut lelah akibat perjalanan panjang yang mereka lewati terlihat jelas di wajahnya. Apalagi ada seberkas luka dari hatinya yang ikut terlihat ke luar menandakan kalau masalah yang ia bawa cukup sulit.


"Apa yang dia katakan hingga bisa membawa beberapa wanita cantik itu? Kenapa kalian begitu mudah tertipu olehnya? Aku yakin dia ke sana tanpa membawa prajurit ataupun pelayan bukan?" Liu Zixia tampak kesal saat nama Ruan Zu disebutkan.


Ming Zhi menatap sedih pada jendela yang menampilkan seorang wanita yang masih melihat ke arah mereka. "Aku sudah mencegah penduduk untuk percaya, bahkan istriku juga sudah ikut mencegah tapi mereka sudah terbujuk rayuan wanita itu. Dia mengatakan Kaisar membutuhkan pelayan serta beberapa Selir tambahan dan dia datang secara terburu-buru itu sebabnya dia tidak membawa cukup prajurit atau pelayan."


"Wajah istriku juga sudah diberikan racun oleh mereka itu sebabnya istriku terpaksa memakai cadar. Aku datang ke sini untuk memastikan semua itu dan kebetulan bertemu adegan aneh tadi." Raut sedih di wajah Ming Zhi atas istrinya membuat Liu Zixia merasa kasihan.


"Bisakah aku melihat luka istrimu? Aku tahu sedikit tentang racun," ujar Liu Zixia pada akhirnya.


Liu Zixia melakukan semua itu sebagai bentuk terima kasih atas pertolongan pria di depannya. Pria itu mengangguk antusias, binar matanya membuat Lin Yuhua serta suami Liu Zixia yang lain tidak bisa untuk tidak memikirkan diri mereka sendiri.