Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#217 (Bisa Berkomunikasi)


Saat energi murni masuk, Zixia bisa merasakan ruangnya kembali, sayangnya dia tidak bisa masuk ke dalam ruang meski menggunakan berbagai cara. Zixia merasa ada sesuatu yang menghalang-halangi dia untuk masuk, putus asa, itulah yang Zixia rasakan karena tidak dapat berbicara dengan anaknya ataupun suaminya yang berada di dalam ruang.


"Ru Ansan kumohon dengarkanlah panggilanku! Apa kalian semua baik-baik saja, bagaimana dengan mereka yang terluka? Apa luka mereka sudah sembuh?" Zixia mencoba memanggil Ru Ansan yang berkuasa di dalam ruang miliknya.


Awal memanggil Zixia tidak berharap banyak, dia hanya ingin mencoba apakah suaranya bisa sampai ke dalam ruangan atau tidak. Zixia pada akhirnya menghentikan apa yang sedang dia kerjakan lantaran tidak ada jawaban yang dia dapat, Zixia hanya berharap mereka yang berada di dalam ruang saat ini baik-baik saja dan tidak mengalami apapun.


"Zixia kau kah itu?" Suara lembut Ru Ansan terdengar tidak lama setelah Zixia menyerah, suara wanita dewasa dengan nada kental manis lembut menggoda itu memasuki telinga Zixia membuat Zixia tersenyum bahagia.


"Ya ini aku, Ru Ansan apakah anak-anakku dan yang lain baik-baik saja? Apakah luka mereka sudah sembuh?" Zixia bertanya dengan nada penuh harap di dalam hatinya.


Ru Ansan tidak langsung menjawab, dia terdengar tengah melakukan sesuatu. "Mereka baik-baik saja, energi murni yang masuk barusan menyebabkan ruang semakin besar dan stabil. Kamar-kamar yang tertutup akhirnya terbuka semua dan benda yang masuk barusan adalah salah satu bagian dari ruang ini yang telah lama menghilang."


Penjelasan yang diberikan Ru Ansan membuat Zixia mengerti kenapa benda itu langsung menghilang masuk ke dalam tubuhnya, Zixia ingin masuk namun sayangnya ada penghalang yang menghentikan langkahnya. Dengan kesal Zixia memilih mundur menunggu waktu yang tepat untuk masuk ke dalam sana.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh! Bagaimana keadaan pria itu? Apakah kau mempunya solusi agar kita bisa kembali ke benua kita? Ada teka-teki yang harus kita pecahkan, aku penasaran kenapa kita bisa terlempar ke sini padahal saat ledakan itu terjadi kita tidak membuka portal sama sekali." Zixia benar-benar penasaran kenapa dirinya bisa berpindah ke tempat yang ini.


Yuhua tidak menjawab, dia meraih tubuh Zixia dalam dekapannya sembari menikmati aroma memikat milik Zixia. Yuhua bersyukur karena dirinya terlempar di tempat yang sama dengan Zixia kalau tidak dia tentu akan kesusahan mencari istrinya.


"Aku sudah memberinya obat, sebentar lagi obat itu pasti akan bereaksi atau mungkin sudah melepaskan efek obatnya. Kau sudah bisa berkomunikasi dengan Ru Ansan ya? Dari suaranya dia sudah berubah menjadi wanita dewasa sepenuhnya, hah, sebentar lagi kau pasti akan memiliki menantu." Yuhua mengajak Zixia berjalan keluar tempat itu karena energi murni di sana telah diserap sepenuhnya oleh Zixia.


Saat sampai di tempat pria itu, Yuhua melihat dia sudah mulai baik-baik saja. Yuhua memberikan makanan pada pria itu untuk dikonsumsi agar bisa menambah tenaganya.


"Kapan kau akan kembali ke istanamu? Jangan sampai ketidakhadiran dirimu di sana dimanfaatkan oleh seseorang, kami siap menjadi tabib sekaligus pelindung dirimu tapi kau harus menyiapkan kami bayaran yang setimpal." Yuhua mengajukan kerjasama yang menurutnya sama-sama menguntungkan.