Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#162


Ruan Zu juga mengeluarkan sebuah pedang dengan warna ungu yang terlihat memikat, ke-duanya langsung memasuki mode pertempuran. Liu Zixia dilindungi oleh Ling Zhi yang juga menggunakan pedang, dia menebas siapa saja yang berniat mendekati Liu Zixia.


Pertarungan sengit yang terjadi di sana membuat beberapa perempuan muda yang telah ditangkap oleh Ruan Zu guna dijadikan santapan lezat. Gerbong yang lain juga diterbangkan tutupnya oleh Long Ze di dalamnya ada beberapa anak laki-laki yang kuyu dan layu.


Mereka hanya menatap diam tidak bersuara saat tutup gerbang yang melindungi kepala mereka terbuka. Mata para pria itu terlihat kosong, benar-benar seperti orang bodoh yang kehilangan pikiran. Satu demi satu gerbong kereta dibuka namun tidak ada pria yang mereka cari bahkan makhluk setengah iblis juga setengah manusia juga tidak seberapa di sana.


"Ini aneh sekali! Banyak anggota Sekte Hitam tidak kelihatan, aku takut ini hanya pengalihan saja agar beberapa orang bisa kabur dari hadapan kita." Long Ze berteriak dengan keras pada teman-temannya.


Ruan Zu tertawa, dia tersenyum manis pada Liu Zixia lalu melirik para suami Liu Zixia yang sibuk bertarung maupun melindungi Liu Zixia sama seperti dulu.


"Ah ... kalian masih bodoh seperti dulu ya, masih saja berjuang untuk satu perempuan lemah yang bahkan tidak menghargai kalian," ejek Ruan Zu pada Ling Zhi yang masih sibuk menjaga Liu Zixia.


Long Ze mendengus, "ya ... kami masih bodoh seperti dulu. Setidaknya kami memperjuangkan cinta kami sedangkan kau, apa yang kau perjuangkan selain kecantikan serta kedudukan? Bahkan Lin Yuhua tidak tertarik sama sekali denganmu, jika bukan karena penipuan yang kau lakukan padanya untuk memegang sepatunya saja kau tidak akan pernah bisa."


Kalimat sarkas penuh ejekan yang dilontarkan oleh Long Ze membuat wajah Ruan Zu memrah, Ruan Zu memutar langkahnya agar bisa menyerang Long Ze karena dia merasa Long Ze lemah. Ruan Zu langsung dikejar oleh Ru Ansan dengan kecepatan penuh, Ru Ansan sudah lama ingin menghabisi Ruan Zu karena telah membuat Liu Zixia menderita.


Ada beberapa luka di tubuh Ruan Zu akibat serangan Ru Ansan padanya. Sesampainya didekat Long Ze, Ruan Zu langsung menyerang, senyum di bibirnya terlihat begitu indah karena dia berpikir serangan yang dilancarkannya dapat membunuh Long Ze dalam sekali tebas.


Sayang, angan hanyalah mimpi yang tidak pernah menjadi nyata, saat tangannya terulur ke depan Long Ze langsung menghadang menggunakan kipas miliknya memantulkan serangan Ruan Zu. Hal ini membuat Ruan Zu terkejut bukan main, sejak awal dia telah meremehkan musuh karena berpikir mereka tidak akan mendapatkan energi spiritual di sini.


"Kenapa? Apa kau terkejut?" ejek Ru Ansan dengan tawa manis.


"Kau, darimana kau mendapatkan energi spiritual itu?" tanya Ruan Zu dengan ekspresi tidak terima sama sekali. "Ruang milikmu jelas ada bersamaku," ujar Ruan Zu lagi dengan tangan mengeluarkan kalung itu dari kerah bajunya.


"Kalung? Apakah aku pernah mengatakan kalau kalung itu tempat ruang milikku," ejek Liu Zixia dari jauh.


Semua anak buah Ruan Zu yang tertinggal telah mati dengan cara yang mengenaskan, hanya Ruan Zu yang masih bertahan tapi menderita beberapa luka kecil di tubuhnya. Ruan Zu melihat ke arah jalan tempat tujuan mereka melarikan diri, dia berharap seseorang akan datang menolongnya pada saat genting seperti ini.


Ruan Zu menyimpan kalung itu lagi lalu melirik pada para suami Liu Zixia serta pada Ru Ansan yang memiliki kekuatan paling kuat di antara kelompok itu. Saat luka baru bermunculan di tubuh Ruan Zu, asap aneh menyerang mereka. Liu Zixia pada saat genting berhasil didorong Ru Ansan ke dalam ruangnya sendiri.


"Bermain curang ternyata, sayang sekali kami juga memiliki kemampuan cadangan." Ru Ansan mengejek.


Asap aneh yang dilemparkan oleh seseorang yang berniat menolong Ruan Zu itu adalah asap yang melumpuhkan saraf wanita untuk sementara waktu tapi tidak akan berpengaruh pada pria maupun binatang kontrak seperti dirinya.


Ruan Zu mencoba melarikan diri, dia menjauh dengan segera namun tangannya langsung ditebas oleh Ru Ansan. Pada saat itu muncul monster aneh bermata satu dengan tubuh besar serta kepala panjang seperti jerapah.


Monster itu memiliki kulit tebal hingga tidak terluka ketika terkena tebasan pedang Ling Zhi, Ru Ansan juga ikut menyerang namun usaha mereka menjadi begitu sia-sia.


Mereka hanya bisa melihat Ruan Zu pergi digendong oleh lelaki berpakaian hitam dengan tubuh penuh luka. Saat itu, Ru Ansan menggunakan kekuatannya mengirim energi spiritual berisi kekuatan penyerangan berhasil mengenai punggung Ruan Zu membuat Ruan Zu terluka cukup serius.