Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#165


"Ah ... lalu bagaimana dengan mereka semua?" tanya He Yidu sembari menunjuk pada gerbong kereta yang sudah tidak memiliki atap itu lagi.


Ling Zhi mengangkat bahu, "mereka bisa pergi kemana saja sesuai keinginan mereka. Lagipula, dari tempat ini ke desa Rawajati tidak membutuhkan waktu lama, kami sudah menolong mereka lepas dari iblis tidak mungkin kami mengantar mereka satu-persatu ke tempat mereka tinggal."


Jawaban yang diberikan Ling Zhi membuat beberapa perempuan cantik itu mendesah kecewa, padahal mereka sudah berharap akan mendapatkan kesempatan untuk mengenal beberapa pria tampan yang ada di depan mereka.


"Baiklah kalau begitu, mari kita melanjutkan perjalanan menuju ke benua atas. Setidaknya dari sini menuju ke sana membutuhkan waktu satu atau dua bulan perjalanan tergantung kecepatan kereta yang kita kendarai." He Yidu mengangguk, dia masuk kembali ke dalam kereta. "Jalan lebih dulu! Tidak perlu terburu-buru karena yang kita bawa adalah perempuan hamil."


Pengemudi kereta mengangguk sebagai jawaban, ia menarik tali kekang menghentak dengan kuat menyebabkan tiga ekor kuda putih yang diikat ke kereta bersuara keras dengan kaki terangkat tinggi. Kuda itu langsung berjalan meninggalkan lokasi itu dengan langkah yang teratur.


Liu Zixia naik ke kereta, ia duduk di sebelah Ru Ansan yang tampak mengantuk. Matanya terkulai malas, beberapa kali ia menguap seolah tidak kuat lagi. Liu Zixia menggeleng tidak percaya, ia memukul kepala Ru Ansan tidak terlalu keras tapi membuat Ru Ansan mendesah kesakitan.


"Kejam sekali! Harusnya kau berterima kasih padaku bukan memperlakukan diriku seperti ini." Ru Ansan mendecakkan lidahnya, ia menggeleng dengan penuh drama membuat Liu Zixia mencibir.


"Terima kasih! Kalau kau mengantuk masuklah sebentar ke dalam ruang, perjalan kita masih panjang. Tidak akan ada pria tampan yang bisa kau temui, setelah mendekati benua atas aku akan menyuruhmu ke luar." Liu Zixia memberikan ide, dia tidak tega melihat para suaminya kepanasan serta kedinginan di luar kereta.


"Ide yang bagus, dengan adanya mereka yang menjagamu aku tidak perlu khawatir lagi. Baiklah, sudah diputuskan dengan teliti kalau aku akan masuk ke dalam ruang kembali. Saat ada bahaya panggil aku, mengerti! Aku akan datang sedetik setelah kau panggil." Setelah mengatakan itu, Ru Ansan menghilang tanpa jejak.


"Yang tidak mengemudi bisa masuk, Ru Ansan telah kembali ke dalam ruang." Liu Zixia berbicara dengan suara pelan, lalu wajahnya memerah karena malu.


Ling Zhi yang paling bersemangat di antara ke-tiganya, secepat mungkin ia berlari masuk ke dalam kereta meninggalkan Ye Lian dan Long Ze. Ye Lian mencibir, ia menatap Long Ze meminta persetujuan terlebih dahulu meski dia adalah nomor dua dan harus dihormati ketiak Lin Yuhua tidak ada.


Long Ze mengikuti kereta di depannya tanpa tergesa-gesa sebab jarak mereka tidak terlalu jauh, setiap malam mereka akan berhenti di suatu tempat untuk memulihkan tenaga.


Kadang mereka berhenti di suatu desa yang mengalami masalah bahkan terkadang masalah yang menghampiri mereka. Seperti saat ini, setelah seminggu perjalanan menuju ke benua atas kereta di depan berhenti mendadak tanpa memberi aba-aba.


Beruntung yang mengemudi adalah Ling Zhi yang mahir dalam berkuda, Ling Zhi turun dari kereta untuk melihat penyebab mereka berhenti seperti itu. Saat sampai di depan ternyata ada seorang perempuan yang terjatuh dengan posisi menyedihkan.


Air mata si perempuan jatuh dengan begitu deras, pakaian yang dia gunakan berantakan hingga memperlihatkan beberapa bagian tubuh yang harusnya tersembunyi.


"Tolong aku," bisik si perempuan, suaranya mendayu-dayu nyaris diiringi desahan.


Ling Zhi bergerak mundur, ia melangkah kembali menuju kereta mereka. Dari dalam kereta Ye Lian serta Long Ze ikut ke luar, melihat Ling Zhi kembali mereka masuk lagi ke dalam kereta.


He Yidu tertawa manis dari dalam kereta, "iblis pemikat seperti dirimu mungkin bisa mendapatkan korban lain tapi kami bukan tandinganmu sama sekali," ejeknya kemudian.


Perempuan lemah itu bertindak seolah dia tidak mendengar sama sekali, ia terus bersikap lemah memandang sedih pada pengendali kuda lalu pada beberapa pria yang berada di sebelahnya. Lama ia menunggu, tapi tidak satupun dari mereka yang ia tatap turun dari kereta menghampirinya.


"Apa kalian tidak kasihan melihatku? Aku mohon bantu aku! Desaku diserang oleh iblis, mereka yang tidak bisa melarikan diri telah dimakan habis oleh iblis-iblis itu." Air mata perempuan itu kembali jatuh.


Ia mengangkat tangan perlahan untuk menghapus air mata namun gerakan cerobohnya malah membuat bagian tubuhnya semakin terlihat. Kulit putih bersih serta bukit kembarnya yang montok semakin berkilau terkena matahari namun sedikit pun anak buah He Yidu tampak peduli.