
Debu berterbangan di mana-mana meninggalkan bekas pertarungan yang telah usai, tidak ada lagi kaum iblis yang akan datang ke tempat ini. Semua sudah menjadi kenangan, mungkin akan ada cerita lain lagi yang akan menjadi dongeng untuk anak cucu mereka.
Bekas-bekas peperangan hanya menyisakan beberapa bagian tubuh yang tidak lengkap, sebuah api yang muncul dari mana membakar semuanya menjadi abu yang terbang dibawa angin. Tidak ada yang selamat dalam ledakan itu sepertinya, termasuk kaum iblis yang gagah perkasa.
Mereka mati dengan cara tragis, semua sisa di tempat itu terbakar habis meninggalkan aroma sisa yang terlalu menyengat. Tidak ada jejak kehidupan yang tersisa, tidak ada, termasuk Zixia dan Yuhua jejaknya pun tidak ditemukan.
Angin menderu, membersihkan debu yang tertinggal. Senyap, Benua Atas yang dulu melegenda sekarang hanya menjadi kenangan, hanya dongeng pengantar tidur yang akan menjadi cerita tanpa banyak kata.
Ada sebuah portal yang terbuka, seseorang dengan pakaian hitam muncul di sana, dia melihat sekeliling seolah sedang mencari sesuatu. Cukup lama dia memeriksa hingga dia menemukan kalung yang dipakai Ruan Zu sampai pertarungan terakhirnya, orang itu mendesah kecewa saat melihat kalung itu terlihat tidak lengkap lagi.
Tidak lama kemudian seseorang lagi muncul sama seperti orang tadi, dia melihat orang itu dan langsung bergerak ke depan untuk menyerang berusaha mengambil benda yang berada di tangan orang yang datang pertama tadi.
"Adik ke-tiga, benda ini sekarang menjadi milikku. Kau tidak bisa mengambilnya, aku akan menyerahkan kalung ini pada Feng Shui sebagai hadiah pernikahan." Orang itu tersenyum dengan cara yang aneh.
"Kakak ke-dua! Kau jelas tahu kalau benda itu merupakan benda yang dicari oleh guru untuk menyempurnakan pusaka perguruan kita, berikan benda itu padaku maka kau akan mendapatkan penghargaan sebagai gantinya." Pria yang baru datang mengulurkan tangan meminta benda itu.
Di negeri antah berantah, sepasang anak manusia masih dengan nyaman memejamkan mata. Si wanita tampak memeluk erat tubuh pria yang melindunginya, pria yang rela mati bersamanya seperti tahun itu.
Cukup lama sebelum tiba-tiba mata pria yang sejak tadi terpejam itu terbuka, dia merasakan bahaya yang mengintai lalu duduk dengan susah payah. Matanya menatap waspada sekeliling sembari terus melihat sekeliling, wanita sejak tadi di dalam pelukannya langsung didekap erat.
"Siapa di sana?" tanyanya dengan waspada, dia merasakan sepasang mata di arah timur tengah mengawasi pergerakannya.
Suara daun yang terinjak terdengar, seseorang dalam keadaan terluka muncul dengan napas tersengal-sengal. Pria itu memiliki rambut panjang hitam menawan dengan pengikat rambut perak yang membuatnya tampak semakin tampan.
"Aku tidak berniat jahat, aku hanya ingin meminta tolong padamu. Tolong selamatkan aku!" ujarnya lalu ambruk jatuh tersungkur ke depan.
Pria itu bingung harus melakukan apa, dia tidak tahu di mana mereka sekarang. Dia juga tidak berani bertindak sembarangan takut akan ada masalah yang menimpa dirinya namun, jika dia tidak menolong orang ini pada siapa dia akan bertanya.
Pria tampan itu mengeluarkan obat dari dalam lengan bajunya, ia menuangkan obat itu ke dalam mulut si pria menunggu obat itu bereaksi lalu memeriksa wanita yang dipeluknya sejak tadi.