Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#138


Liu Zixia terkekeh di dalam hati, setelah banyak menghadapi lotus putih bagaimana mungkin dia tidak mampu meniru sifat mereka. Liu Zixia mengangkat kepalanya dengan air mata berlinang yang membuatnya tampak begitu menyedihkan.


Lin Yuhua merasa tertekan ketika melihat kesedihan yang begitu mendalam di wajah istrinya, Lin Yuhua bahkan tertipu oleh kesedihan yang ditampilkan Zixia dengan sangat baik.


"Sayang! Apakah menurutmu aku pembohong?" Pertanyaan yang dilemparkan oleh Liu Zixia membuat lidah wanita itu terikat.


Dia yang biasanya bisa memikat berbagai macam pria di istananya tidak mampu menghadapi Liu Zixia yang bahkan lebih licik dari dirinya. Wanita itu mundur ke belakang ketika melihat tatapan kejam yang dilayangkan Lin Yuhua padanya.


Yunzia yang berdiri di jendela bahkan menggigil ketakutan dengan bulu kuduk berdiri, dia benar-benar bertepuk tangan di dalam hati melihat kehebatan akting Liu Zixia yang begitu sempurna. Yunzia mulai berpikir bahwa ke depannya dia harus berbuat lebih baik lagi pada Zixia agar hidupnya bisa lebih lama lagi.


"Tidak! Mana mungkin istriku pembohong, bahkan jika yang kau katakan adalah kepalsuan itu bukanlah kebohongan. Itu hanya kesalahpahaman saja," ujar Long Ze cepat.


Long Ze ikut mendekat, membersihkan air mata Liu Zixia yang mulai jatuh. Wanita itu jatuh terduduk lalu melihat pada ayahnya yang hanya diam tanpa berani bicara lagi setelah melihat ke-dua orang ini masuk secara bersamaan.


Raja Awan melihat empat suami Liu Zixia secara bergantian, dia akhirnya memahami kenapa Liu Zixia begitu berani.


"Apakah mereka suamimu?" tanya Raja Awan dengan terbata-bata pada Liu Zixia.


Liu Zixia mengangguk dengan malu-malu, semburat merah di pipinya membuat ia tampak begitu cantik dan menarik. "Hem mereka suamiku, satu mantan Kaisar Yuhuan, satu ahli pedang, satu tabib dan satu lagi adalah putra mahkota Angkrea." Liu Zixia menyebutkan apa keahlian suaminya membuat wanita itu semakin merasa marah.


Sekali lagi dia bangkit berniat untuk menyerang Liu Zixia, wanita itu memperlihatkan kukunya yang panjang dan tajam seperti berniat untuk melukai wajah cantik Zixia. Lin Yuhua yang melihat itu langsung menepis dengan tangannya yang mendatangkan angin kencang membuat gadis itu terbang hingga merusak vas bunga mahal yang dipajang di aula.


Darah ke luar dari bibir itu, dia terlihat pingsan karena sudah tidak bergerak lagi selain dadanya yang naik turun menandakan kalau dia masih hidup dan bernapas. Raja Awan yang begitu terkejut bahkan tidak sempat untuk menyelamatkan anaknya atau mencegah anaknya menyerang Liu Zixia.


Dia bahkan masih berdiri terpaku menatap putrinya yang berharga dengan mulut menganga lebar.


"Apa kau ingin aku membunuh putrimu di sini?" tanya Yuhua dengan nada dingin.


Yuhua menatap tajam Raja Awan membuat pria paruh baya itu gemetar ketakutan. Dia berlari ke arah putrinya, mengangkat wanita itu cepat lalu pergi dari sana. Zixia sendiri melongo melihat apa yang terjadi di depannya, Liu Zixia tidak mengira kalau Yuhua akan langsung mengirim terbang gadis itu di depan ayahnya.


"Sungguh tidak berperasaan, bagaimana jika nanti anakmu diterbangkan seperti itu juga?" tanya Liu Zixia setelah berhasil tersadar dari lamunannya.


"Apa yang dikhawatirkan? Putri kita akan kudidik menjadi gadis pemberani, kuat dan tidak murahan. Lagipula dengan ayah kuat seperti diriku mana mungkin ada yang berani melakukan itu," tukas Lin Yuhua cepat.


"Yap benar! Dengan kami sebagai ayahnya mana mungkin ada yang berani. Lagipula untuk bisa mendekati putriku para pria itu harus melewati tes yang sulit dan tidak mudah. Akan kubuat mereka sengsara!" Long Ze juga ikut menimpali.


Lin Yunzia yang masih setia berdiri di jendela hanya bisa memutar mata mendengar ucapan suami Liu Zixia, merasa bahwa masalah telah selesai Yunzia melarikan diri dari sana secepat mungkin.