Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#195


Ibu Liu Zixia menatap wanita itu sekilas lalu berpaling pada putrinya yang tampak bingung. Ibu Liu Zixia mengusap kepala putrinya lalu tersenyum tidak berdaya. Dia hanya diam tidak membalas ucapan wanita di sebelahnya yang memanggilnya dengan sebutan bibi itu.


Mereka sampai di sebuah kediaman sederhana namun masih terawat dengan baik, kediaman itu terletak tidak jauh dari kediaman He Yidu. He Yidu turun dari kereta, ia membantu Liu Zixia turun lalu berjalan menuju gerbang kediaman yang selalu dikunci rapat itu. Bahkan keluarganya tidak diizinkan untuk tinggal di sini, He Yidu melakukan semua itu sebagai tanda penghormatan pada ibu Liu Zixia yang telah melahirkan Liu Zixia.


"Tempat ini masih dirawat dengan baik meski tidak ditinggali, ada beberapa pelayan serta penjaga yang ditugaskan untuk merawat tempat ini. Kuharap Ibu suka dengan kediaman ini," ujar He Yidu menjelaskan dengan senyum tulus.


He Yidu melepas topi yang Liu Zixia berikan karena takut dianggap tidak sopan oleh ibu Liu Zixia nantinya. Dia membawa ibu Liu Zixia sekeliling kediaman, memperkenalkan mereka pada setiap halaman yang ada termasuk halaman utama yang paling besar di kediaman itu.


"Pelayan kami akan mengganti semua perabotan di rumah ini dengan yang baru, alas tempat tidur juga semua keperluan akan diganti dengan yang baru. Kita tidak tahu sampai kapan kejadian ini akan berlangsung kami juga akan mengisi gudang dengan bahan-bahan yang diperlukan." He Yidu mengatakan semuanya dengan sangat lancar dan terampil.


Di sisi lain, Liu Zixia dan Lin Yuhua tengah duduk di aula pertemuan sembari menikmati teh yang didapat Kasim entah darimana. Mereka berdua duduk manis menunggu He Yidu selesai memperkenalkan seluruh isi kediaman itu pada keluarga ibunya.


"Aku rasa ibumu ingin membicarakan sesuatu, apa tidak ada yang ingin kau katakan padanya?" tanya Lin Yuhua lembut nyaris seperti bisikan karena dia takut didengar oleh orang lain dan menyebabkan kesalahpahaman.


Liu Zixia menggeleng, tidak ada yang ingin dia sampaikan pada wanita yang dipanggil ibu itu. Sudah bertahun-tahun ditinggalkan, jika yang hidup pemilik asli mungkin dia tidak akan mengingat dengan jelas wajah ibunya sendiri sebaik Liu Zixia yang memiliki ingatan yang kuat. "Tidak ada yang perlu dibicarakan dengannya, aku melakukan ini semua sebagai bentuk balas budi pada tubuh ini."


Mereka menikmati cemilan yang dibawa Kasim dengan santai mengabaikan keadaan sekitar yang tidak terlalu menarik. Liu Zixia menggeser arah pandangannya pada langkah kaki yang datang dari belakang, langkah kaki itu terdengar pelan mungkin orang itu sengaja berjalan dengan sangat pelan untuk mendengar pembicaraan mereka.


Wanita itu adalah wanita yang bertanya pada ibu Liu Zixia tadi, dia bersembunyi di suatu tempat berharap dapat mendengar pembicaraan Liu Zixia namun jangan suara, bahkan denting sendok pun tidak terdengar sama sekali. Dia mencoba menajamkan telinga, saat ia akan bergerak mendekat ia dikejutkan dengan kehadiran Liu Zixia dan Lin Yuhua di depannya.


"Apa yang kau dengar? Tampaknya seru duduk di sini," sindir Liu Zixia dengan nada cemoohan.


Wanita itu tersandung dan hampir terjungkal ke belakang, beruntung dia bisa menyeimbangkan tubuhnya dengan cepat.


Liu Zixia mengangguk tanda paham, namun ejekan di bibirnya tidak ia sembunyikan sama sekali. "Maafkan kami! Tapi kami merasa lebih nyaman di rumah sendiri, lagipula aku tidak ingin berpura-pura akrab dengan orang yang tidak aku kenal."


Liu Zixia menarik tangan Lin Yuhua untuk mengikuti dirinya mencari keberadaan He Yidu yang kebetulan He Yidu juga mengarah ke tempatnya hingga mereka bertemu.


"Kau mau ke mana?" tanya He Yidu tampak penasaran.


Liu Zixia tidak menjawab, dia menarik tangan He Yidu untuk mengikuti dirinya untuk pergi dari rumah itu. Bingung, He Yidu melirik Lin Yuhua yang dibalas Lin Yuhua dengan gelengan kepala.


"Hei tunggu! Maukah kau mengajakku ke rumahmu? Aku tidak akan membuat keributan di sana, aku hanya ingin bermain saja." Wanita itu tampak tidak menyerah sama sekali, dia berusaha mengejar langkah kaki Liu Zixia namun dia dihalangi oleh anak buah He Yidu.


"Nyonya tidak suka diganggu, jika dia marah kau mungkin tidak bisa menanggung akibatnya." Penjaga itu memberitahu wanita itu lalu meninggalkan kediaman yang akan menjadi tempat tinggal sementara keluarga baru ibu Liu Zixia.


"Nenek! Wanita itu sangat sombong, aku ingin ke sana, kau lihat kereta mereka. Kereta itu sangat mewah, dia pasti memiliki kekuatan besar di kerajaan Benua Atas ini. Aku yakin dengan bantuan mereka kita bisa menetap lama di sini."


####


Maafkan aku yang up-nya suka dikit, tapi aku benar-benar enggak bisa up banyak. Selain takut ceritanya akan cepat tamat aku juga punya cerita lain di dua tempat. Satu di si Orange satu lagi di ungu. Bukan nggak mau di satu tempat aja, tapi di tempat lain lebih menjanjikan penghasilannya. Kalian harus tahu gaji di NT enggak seberapa apalagi buat aku yang levelnya rendah. Sehari cuman seribu, kapan ngumpulnya 1.4 coba. Buat pembaca lama aku mereka pasti tahu kalau cerita ini udah lama enggak up dan itu karena level yang enggak pernah naik. Aku minta maaf karena enggak pernah memuaskan keinginan kalian untuk baca banyak itu sebabnya sehari aku up dua kali agar kalian enggak kecewa.


Buat yang masih kecewa, aku benar-benar minta maaf 🙏🙏🙏🙏 aku sudah mengusahakan yang terbaik agar kalian puas.