
Akan tetapi kebahagiaan di wajah Ru Ansan berubah saat dia tahu kalau Lin Yuhua berniat memanfaatkan dirinya. Ru Ansan melotot tajam dengan mata menyala marah seolah dirinya bisa memakan Lin Yuhua kapan saja.
"Binatang kontrak milikmu yang kupu-kupu dan naga itu bisa kau suruh ke luar untuk menjaga Liu Zixia. Kenapa harus aku?" tanya Ru Ansan dengan tangan terlipat.
Tampak jelas kalau Ru Ansan berniat menguji kesabaran Lin Yuhua yang selalu terbatas. Lin Yuhua menghembuskan nafas lelah, matanya dengan sendu menatap Ru Ansan.
Jika itu Liu Zixia maka mungkin dia akan luluh namun yang berdiri dihadapannya adalah Ru Ansan yang sejak zaman modern selalu menjomblo. Ru Ansan tidak mengerti dengan perasaan cinta karena baginya selama dua orang mencapai apa yang mereka ingin itu sudah cukup untuk bersama.
"Mereka masih lemah, kalau benar Ruan Zu telah sampai di benua atas maka kekuatan kami tidak akan cukup untuk melawannya. Dia pasti mencari dukungan di dunia atas sedangkan kami belum mengetahui seluk-beluk dunia atas." Dengan lelah Lin Yuhua menjelaskan. "Kekuatan milikmu setidaknya sudah lebih cukup untuk menghalangi mereka itu sebabnya aku meminta bantuanmu, kalau pun mereka berhasil mencapai dunia atas dan kau ikut maka kemungkinan bertemu semakin banyak pria tampan juga banyak."
Lin Yuhua terus membujuk, apa yang dikatakan Lin Yuhua memang bukan kebohongan. Di antara mereka berlima sekarang hanya dia dan Liu Zixia yang memiliki kekuatan paling kuat. Sekarang dia terluka, harus menjalani pengobatan lalu benar-benar memurnikan buah iblis yang baru diserapnya.
Liu Zixia sedang hamil saat ini, kekuatan miliknya tidak akan bisa digunakan sepenuhnya itu menjadi penyebab Lin Yuhua sangat membutuhkan bantuan Ru Ansan apalagi Ru Ansan memiliki banyak pengetahuan dari zaman modern yang lebih bermanfaat untuk mereka.
Ru Ansan tampak berpikir sebelum akhirnya menganggukkan kepala tanda setuju, walau bagaimanapun keselamatan Liu Zixia juga berpengaruh pada kehidupannya dan ruang tempat ia tinggal saat ini. Ru Ansan menghilang dari hadapan Lin Yuhua lalu muncul di samping Liu Zixia yang masih tertidur nyenyak.
Ru Ansan ke luar dari kereta lalu duduk di bagian kemudi, dia menatap makhluk setengah manusia yang hampir mencapai kereta lalu terbang ke arah makhluk itu untuk ikut pertarungan. Sebuah pedang putih muncul di tangan Ru Ansan saat ia hampir sampai di depan musuh.
Ru Ansan bergerak seperti dirinya seolah dia sedang berada di area luas untuk menari. Gerakan tangan Ru Ansan cepat, kuat dan terlatih, setiap ayunan akan mengenai musuh hingga menyebabkan satu-persatu dari mereka mulai tumbang dan darah merah mulai membasahi tanah.
"Tarian Kemilau," teriak Ru Ansan saat dirinya mengerakkan kaki bergabung dalam pertempuran membantu Ling Zhi yang mulai terlihat lelah.
Ru Ansan melompat dari satu titik ke titik lain, dia berpindah dengan cepat membuat musuh kesusahan bergerak. Saat ia muncul, dia sudah berada di sekitar musuh menebas mereka tanpa mereka tahu posisi dirinya.
Kadang Ru Ansan akan bergerak memutar, menyebabkan pakaian kuno miliknya ikut bergerak. Apalagi bagian bawahnya yang longgar akan terbuka lebar menyebabkan musuh kesulitan mendekat.
Kadang dia akan bergerak mundur dalam tempo yang singkat membuat musuh yang ingin menyerang dari depan harus maju beberapa langkah lagi. Terkadang pedang miliknya akan melayang dengan sendiri menebas musuh dengan kuat hal itu berlangsung sampai semuanya tumbang tanpa bisa lari.
"Hem, aku menyisakan beberapa untuk kalian tanyai. Aku lelah, aku akan kembali dulu ke kereta." Ru Ansan menyimpan kembali pedang miliknya lalu terbang dengan gerakan cepat menuju ke lokasi kereta.
Ling Zhi yang tersadar dari lamunannya ingin berteriak menahan Ru Ansan namun Ru Ansan telah menghilang begitu membuat kata-kata yang ingin ia ucapkan tersangkut di kerongkongannya.
"Di mana Ruan Zu?" tanya Long Ze dengan kasar pada salah satu pria yang hanya tinggal tangan dan tubuh saja.
Bagian kakinya telah dipotong habis oleh Ru Ansan namun anehnya darah di tubuhnya tidak mengalir ke luar sama sekali.