
Beberapa bulan kemudian, suasana rumah Tuan Handoko sudah berangsur membaik. Banyak orang yang sudah melupakan kejadian yang selalu menimpa keluarga kaya raya itu. Berita yang dulu sempat menggemparkan kini sudah menghilang seiring berjalannya waktu.
"Bu, Dita mau pergi ke kota sebentar. Ibu mau nitip apa?"
"Martabak manis saja."
"Cuma itu saja?"
Nyonya Sekar mengangguk, ia hanya memperhatikan putrinya pergi meninggalkan pekarangan rumahnya dengan menggunakan mobil Honda Jazz putih miliknya. Sejak kegagalan pernikahan dengan Bisma, Dita sudah tidak berniat untuk melanjutkan kuliahnya.
Ia pun memilih untuk menunda dunia pendidikannya dan lebih sibuk mengurusi toko onlinenya. Sehingga hampir setiap Minggu ia selalu berbelanja barang-barang olshop miliknya. Dita memperkerjakan dua orang pegawai yang semuanya perempuan.
Setelah satu jam lebih tiga puluh menit kemudian, ia sudah sampai di tokonya. Tidak membutuhkan banyak waktu Dita melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya di lantai dua.
"Selamat pagi, Mbak Dita."
"Selamat pagi, Mbak."
"Ini laporan penjualan mingguan kita."
Nurul menyodorkan laporan yang telah ia susun rapi. Setelah itu ia kembali mengemas beberapa barang yang sudah diorder. Dita dengan teliti membaca satu persatu laporan yang masuk dan mencocokkan dengan orderan yang masuk.
"Bagus, semuanya rapi."
Dita memandang jendela dari ruangan kerjanya. Beberapa saat kemudian ia melihat bayangan yang ia kenali.
"Danu ....?" gumam Dita.
Tampak sekali jika Dita begitu bahagia ketika bisa kembali bertemu dengan Danu. Ia bergegas turun ke lantai satu dengan buru-buru. Bahkan hampir saja ia menabrak Lusi yang baru saja datang.
"Eh, maaf Mbak," ucap Lusi sambil menunduk.
"Nggak apa-apa, Lus."
Dita segera meraih pintu dan berteriak memanggil lelaki itu.
"Mas, Mas tunggu ...."
Karena Dita tidak hati-hati ia pun terserempet mobil yang baru saja melintas.
Bruuukkk!
"Arghhhh!" Dita mengaduh karena lututnya lecet terkena aspal.
Dita terjatuh ke sisi jalan, karena suasana sepi hanya pemilik mobil itu yang menolongnya. Laki-laki tampan itu langsung terkesima melihat kecantikan Dita yang terpancar.
Deg!
"Cantik banget!" gumamnya.
Melihat wanita cantik yang terjatuh akibat terserempet mobilnya, dia langsung berjongkok dan mendekati Dita.
"Maaf, Nona ... bagaimana keadaan Anda?"
Sementara itu Danu yang merasa dipanggil sekilas menoleh, tetapi ia tidak menemukan siapapun, sehingga ia melanjutkan jalan kakinya. Dita masih mencari keberadaan Danu, sayangnya lelaki di hadapannya terlalu tinggi sehingga menutupi pandangannya. Belum lagi mobil yang menutupi penglihatannya.
"Nona tidak apa-apa?"
"Oh, tidak apa-apa, kok. Makasih."
Dita mencoba berdiri tetapi kakinya sepertinya terkilir. Hingga secara tidak sengaja Fano memegang lengan dan pinggang ramping milik Dita. Tentu saja Dita menampik tangan Fano.
"Maaf, Nona ... saya tidak bermaksud jahat, hanya saja ingin meminta maaf karena tidak sengaja menabrak Anda."
Dita yang tidak suka jika disentuh laki-laki hanya terdiam lalu dengan sedikit tertatih kembali masuk ke dalam tokonya. Fano melihat dari tempat ia berdiri, memandangnya dengan berbagai pertanyaan serta kekaguman.
"Cantik tapi jutek," ucapnya lirih.
Dita yang masih mendengar ucapan Fano barusan hanya bisa mendengkur kesal.
Setelah melihat Dita masuk, Fano kembali melanjutkan perjalanannya kembali.
"Esok hari aku akan kembali lagi ke sini."
Sementara itu di dalam tokonya, Lusi dan Nurul terkejut karena Bosnya terluka. Mereka berdua segera memapah tubuh Dita.
"Mbak Dita kenapa? Kok sampe lecet-lecet begini?"
"Kena cium mobil sebelah," ucap Dita asal.
"Wkwkwk, Mbak Dita bisa aja ngelawaknya," ujar Lusi.
Sementara itu Nurul yang lebih pendiam segera mengambil kotak P3K.
Sosok hantu yang sangat mengenali bau da-rah Dita segera meninggalkan Danu dan menghampiri Dita.
"Hai, kita ketemu lagi. Lama banget nyariin kamu, hihihi ...."
Namun saat ia hendak menyentuh dagu Dita, tangannya dihempas oleh makhluk tidak kasat mata. Karena kekuatannya sangat besar membuat makhluk wanita itu terpental dan mengenai vas bunga di samping Dita.
PRANG!
Sontak ketiga wanita itu menoleh.
"Nggak ada angin, nggak ada hujan kok bisa pecah?" ucap Lusi spontan.
"Mungkin kesenggol, Lus."
"Nggak mungkin lah, Mbak. Aku kan duduknya jauh, atau jangan-jangan ...."
PRANG ... PRANG ... PRANG ....
Terdengar beberapa benda di dapur terjatuh.
"Lus, lihat di dapur ada apa?"
"Eh, em ... takut, Mbak."
"Syukurin, makanya jangan ganggu aku, lihat akan aku buat majikanmu menderita, hihihi ...."