
Sesuai dengan kesepakatan kemarin, kini Dita dan Mbok Nem sudah mulai mempersiapkan semua kebutuhan yang akan digunakan untuk persembahan di depan pohon beringin tua di tengah perkebunan. Hal itu dilakukan agar jasad Tito segera diketemukan.
Tito hanya memandang semua yang dilakukan oleh istrinya dengan sejuta pertanyaan. Apakah setelah ini mereka akan berpisah, entahlah ... tetapi yang pasti Tito sudah bisa merasakan jika setelah ini mereka akan berpisah.
Saat mereka sibuk mempersiapkan sesaji untuk persembahan, tenyata telepon rumah berdering. Mau tidak mau ia harus mengangkat telepon itu.
Dita hendak berlari namun Tito menahannya.
"Biar aku yang mengangkatnya, Ayu?"
"Tidak usah, Mas, karena kamu sudah tidak memiliki jasad, maka tidak akan ada yang bisa mendengar suaramu lagi selain aku dan Mbok Nem."
Tito menoleh ke arah Dita dengan pandangan sendu. Ia belum bisa menerima kenyataan bahwa memang dirinya adalah seorang hantu.
"Hanya aku dan Mbok Nem yang bisa melihat dan menyadari kehadiranmu di sini."
Melihat suaminya menunduk sedih, Dita segera meminta maaf.
"Jika ucapanku barusan menyinggung perasaanmu, aku minta maaf, Mas," ucap Dita setelahnya.
Tito menggeleng, ia juga menyadari jika dirinya dan istrinya berbeda alam. Tito pun tidak bisa memaksakan kehendaknya ataupun berlama-lama lagi tinggal bersama Dita.
"Tidak ada yang salah dengan ucapanmu, Dita. Semua benar adanya."
Sebuah pencapaian yang membuat Tito sangat bersyukur adalah ia pernah menjadi suami Dita. Selain itu ia juga sudah merasa beruntung sejak Dita bisa menerima kehadirannya. Ia tidak berhak meminta hal lain lagi pada Dita, selain sebuah pengakuan.
Kalau pun nanti ia sampai menghilang ataupun musnah, setidaknya ia masih bisa melihat Dita dari kejauhan, juga pernah menjaga Dita selama hidupnya sebagai seorang suami.
"Andaikan ini sudah menjadi suratan takdir, maka aku ikhlas melepasmu Dita," gumam Tito sebelum menyerahkan gagang telepon itu pada Dita.
Saat mereka bingung dengan keadaan saat ini, ternyata Allah mempunyai rencana lain.
"Hallo, hallo ... ada orang di rumah?" ucap seseorang di seberang sana.
"Iya, ini aku Ibu," ucap Dita sambil tergagap.
"Ternyata itu kamu, kirain tidak ada orang tadi. Perasaan ada yang mengangkat tapi justru didiamkan."
"Ibu cuma mengingatkan jika setelah ini Ibu sama Bapak akan lebih lama lagi meninggalkan kamu. Saat ini proyek Bapak membutuhkan pengawasan yang lebih sehingga kami tidak bisa pulang cepat."
"Iya, terserah Ibu saja, lah."
Setelah mengatakan semuanya, kini Ibunda Dinda memutuskan sambungan teleponnya tadi. Sementara itu Dinda memilih untuk bungkam dan kembali membantu Mbok Nem bersiap.
Tidak butuh waktu lama, semuanya sudah siap. Kini mereka bertiga sedang bersiap untuk membawa semua persembahan ke sana.
"Ayo, Mbok kita segera berangkat! Takutnya hari akan semakin menggelap."
"Baik Den Ayu."
Dita membantu Mbok Nem membawa beberapa barang untuk keperluan sesaji. Tidak ingin terlihat tidak berguna, Tito mengawal mereka dari arah belakang.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai di perkebunan. Rimbunnya pohon membuat mereka kesulitan dalam mencari tempat untuk jalan kembali.
"Kalau capek bilang aja, Non."
"Iya, Mbok Nem. Terima kasih."
Mbok Nem menanggapi hal itu dengan senyuman lalu Mbok Nem menyuruh Dita dan Tito untuk beristirahat, sementara itu ia menyiapkan sesajen di sana.
"Semoga jasad Den Tito segera ketemu setelah ini, Aamiin."
Setelah Mbok Nem mulai menyalakan kemenyan , tiba-tiba saja angin sepoi berhembus di sana. Bagi orang biasa hawa yang dibawa angin itu seolah menjadi sirep bagi siapa saja yang menciumnya. Namun, ternyata Dita tidak mengalami hal itu. Itu artinya memang Dita mempunyai darah ningrat dan merupakan cucu Kanjeng Nyai Sombo.
Apakah yang akan terjadi setelah ini?"
......................
Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini kak