
Dita nampak melihat ke arah depan. Hamparan perkebunan teh terlihat sangat menyejukkan mata. Tidak ada hal lain yang bisa mengakhiri takdir tersebut jika bukan Dita yang melakukannya. Begitulah pemikiran janda kembang tersebut.
Mau tidak mau sebutan janda kembang harus melekat pada nama Anindita. Sejak kematian Wisnu, secara otomatis ia telah menjadi janda. Hanya waktu yang akan mengantarkannya pada jodoh selanjutnya.
Langkah kakinya terseok, ketika ia yang tidak tau apa-apa, tetapi ia harus mulai menapaki takdir kehidupan yang kelam. Seorang diri, tanpa pendamping ataupun teman. Mungkin karena ucapan dari para warga yang membuat Dita dan keluarganya pindah ke kota ini.
Meskipun begitu, ia tetap saja sendirian. Kisah percintaan yang kelam semakin membelenggunya. Ketukan pintu kamar membuat lamunan Dita buyar.
"Dita ... kamu kenapa berdiri di situ. Angin malam tidak baik untukmu."
Nyonya Sekar mendekati putrinya dan berusaha mencoba memahami apa yang sebenarnya membebani pikiran Dita.
"Kenapa wajah kamu ditekuk?"
"Ada yang menganggu pikiranmu, Nduk?"
"Bu, Dita takut."
"Takut kenapa lagi?"
"Takut jika Mas Yudis menikah dengan Dita maka ia akan celaka ...."
"Hust, kamu ngomong apa barusan. Anak gadis tidak boleh bicara seperti itu, pamali."
"Tapi Bu, kenyataannya setiap lelaki yang berdekatan dengan Dita pasti akan bernasib si-al."
Nyonya Sekar membelai lembut bahu putrinya yang masih berada di pelukannya. Dita terlihat rapuh, berbeda sekali dengan Dita beberapa hari yang lalu.
"Oh, ya. Hari Jumat besok seratus harinya Wisnu, Bapak sama Ibu berencana mau ke sana. Kamu mau ikut?"
Dita terlihat mendongakkan wajahnya, ia memandang ibunya dengan perasaan bercampur aduk. Meskipun Wisnu sudah meninggal tetapi ia masih menghormati pihak keluarga Wisnu.
Secara otomatis pada hari ke seratus kematiannya Wisnu, ia juga harus hadir di kediaman mertuanya. Meskipun pada akhirnya mungkin ia akan menjadi gunjingan banyak orang.
Apalagi setelah itu Dita dan keluarganya juga akan meminta restu kepada keluarga mertuanya karena Dita sebentar lagi akan menikah.
"Iya Bu, nanti Dita ikut sekalian."
"Iya, memang setelah itu, rencana Bapak sama Ibu juga sekalian mau meminta restu kepada Ibu Anggraeni."
"Semoga mereka memberikan restu pada Dita."
"Aamiin. Setidaknya kita sudah memberitahukan hal tersebut. Tentunya ini juga lebih baik untukmu, Nduk."
...***...
Satu minggu kemudian, tibalah waktu untuk mengunjungi rumah Wisnu. Banyak orang yang datang mendatangi Kediaman Wisnu untuk mendoakan almarhum.
Dari kejauhan Rista sudah memandang Dita dengan tatapan kebencian yang mendalam. Tidak ada ramah tamah yang terlihat di wajahnya.
"Ngapain wanita pembawa sial itu kemari, Buk! Apa tidak cukup puas dengan membunuh kakak!"
Tampak kemarahan mendominasi wajah Rista, tetapi Nyonya Anggraeni tidak menampakkan hal yang sama. Ia justru berkebalikan dengan putrinya, Rista.
"Ikhlaskan kakakmu, Rista. Sudah waktunya kita ikhlas dengan kepergian Wisnu. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi. Semua itu terjadi karena murni kesalahan."
"Buk, kenapa membela Dita, apa karena uang kompensasi yang diberikan mereka pada kita!"
"Jaga bicaramu, Rista. Ini adalah seratus hari kematian kakakmu, harusnya kamu banyak mendoakan dia, bukan menghujat istrinya."
Rista yang kesal segera menjejakkan kakinya ke lantai. Entah kenapa insting Indigo-nya mulai berbicara. Tidak ingin dibakar amarah, Rista lebih memilih untuk pergi dan masuk ke kamar.
Sementara itu di ruang tamu, Dita dan keluarga besarnya baru saja datang. Ia dan Nyonya Sekar langsung mendekati Nyonya Anggraeni untuk berbasa-basi.
"Selamat datang besan, maaf kami tidak tahu jika ada tamu kehormatan."
Nyonya Sekar menepuk tangan Nyonya Anggraeni dengan tersenyum.
"Ngomong apa to, Jeng. Kami juga bagian dari keluarga kalian, jadi tidak ada yang perlu di istimewakan."
Setelah beramah-tamah dengan besan. Kini Dita maju ke depan lalu bersalaman dengan Ibunda Wisnu.
"Selamat datang, Dita. Kamu tuh ya udah jadi menantu tetapi nggak pernah tidur di sini."
"Maaf, Bu. Dita banyak tugas kampus jadi maaf baru sempat ke sini."
"Nggak apa-apa, yang penting tidak melupakan ibu."
Dita dan Nyonya Anggraeni saling mengulas senyum. Dari lantai atas, Rista memandang remeh ke arah Dita. Senyumannya penuh kelicikan, entah apa yang diinginkan saat ini, tetapi itu pasti bukan hal yang baik.
Perlahan ia mulai menuruni tangga, karena sesaat kemudian acara tahlil akan segera dimulai. Untuk menghindari Dita, Rista sengaja duduk di barisan paling belakang. Hal tersebut nyaris tidak diketahui oleh Dita dan keluarganya.
Semua tamu undangan dan kerabat dekat sudah berkumpul, lalu sesaat kemudian acara tahlil segera dimulai. Semuanya tampak hikmat dan khusyu dalam mengaji. Namun, tiba-tiba saja Dita melihat angin berhembus sangat kencang dari arah pintu utama. Dingin dan penuh aroma bunga melati bercampur kantil.
Dita melihat ke sekelilingnya, semuanya seolah tidak ada yang terusik dengan kejadian barusan.
"Apakah hanya aku yang merasakan?"
Rista dan yang lainnya masih khusyu dalam mengaji, tidak seperti Dita. Karena penasaran ia pun menyenggol lengan Ibunya.
"Buk, Ibu nggak merasa ada yang aneh?" bisik Dita pada Nyonya Sekar.
Nyonya Sekar menggeleng dan mengisyaratkan agar Dita kembali mengaji.
Sayangnya hanya Dita yang bisa merasakan hal tersebut. Hal itu pula yang membuat Dita tidak bisa kembali mengaji karena lama kelamaan bulu kuduknya meremang, hingga akhirnya sosok penuh bulu dengan pupil berwarna putih tersebut berdiri tegak di hadapannya.
Baunya sangat busuk hingga membuat Dita mual dan hampir pingsan. Dengan air liur yang terus menetes dan tatapan mata tajam menusuk makhluk tersebut mendekati Dita.
"Cepat pulang! Jangan berada di sini!" ucap makhluk tersebut.
Pikiran Dita menjadi bertanya-tanya.
"Makhluk apa ini?" gumam Dita.
Melihat Dita tidak segera beranjak membuat makhluk tersebut marah dan mendekati Dita.
"Cepat pergi atau aku akan marah!"
Makhluk tersebut seolah sangat marah dan bersiap membawa Dita.
"Aaaarggghhh! Aku nggak mau!"
.
.
Jangan lupa mampir di karya teman Fany ini ya, tambahkan ke rak buku jika suka, terima kasih.