Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 67. GENTING


Melihat Dita masih memperhatikan daerah sekitar membuat kakek tersebut harus segera memperingatkan Dita agar segera keluar dari area pemakaman tersebut. Kakek tersebut takut jika nanti aura negatif di sana semakin mempengaruhi kondisi fisik Dita.


Tidak mau menunggu lama, kakek tersebut mendekati Dita untuk memperingatkannya.


"Segera tinggalkan tempat ini, Nak!" pinta kakek itu setelah ia sampai di dekat Dita berada.


"Tempat ini bukan tempat yang baik, rumahku bukan di sini, dan namaku bukan Kyai Pangluluh,"


ucapnya sambil melihat Rani.


Saat itu, terlihat Rani hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Rasanya semua makanan yang tersaji dihadapannya sangatlah lezat, oleh karena itu ia pun bersemangat untuk melahapnya.


"Hm, orang-orang di sini sangat baik sekali. mereka sangat suka menjamu tamu dengan makanan mewah," gumam Rani.


Kedua matanya jelalatan, bingung jika ia harus memilih makanan yang mana dulu untuk di makan. Ubsbntuk sesaat Rani menggeruwtu karena Dita menghalanginya vssbjh. Pada saat yang sama, Dita menatap wajah Rani dengan mata melotot sehingga membuat ia ketakutan.


Namun, saat Dita berbicara dengan kakek tersebut, ia memasukkan beberapa makanan ke mulutnya. Tidak berapa lama kemudian, Rani pingsan dan makhluk itu tertawamenyeringai.


Dita yang panik segera membawa Rani pergi. Ia kembali menyeret tubuh Rani hingga mobil. Setelah memastikan Rani aman, Dita mengunci semua pintu mobil.


Dari kejauhan terlihat pertarungan berlangsung sengit. Betapa kuatnya mereka berdua, tetapi sesekali Dita bergidik ngeri.


"Semoga kakek tersebut menang, Aamiin."


Tidak berapa lama kemudian, akhirnya pertarungan itu selesai. Bersyukur yang menang kali ini adalah kakek berjubah putih. Sementara makhluk hidup tersebut sudah hilang entah ke mana yang terdengar hanya raungan kesakitan dari makhluk tersebut.


"Alhamdulilah, untungnya kakek itu yang selamat."


Dita mengelus dadanya. Setelah berhasil melawan makhluk tersebut, Kakek yang berjubah putih itu mendekati mobil Dita.


"Kenapa anak itu bandel sekali, harusnya ia mengikuti saranku!"


Setekah itu ia mulai mengetuk perlahan mobil Dita, namun anehnya saat itu makhluk-makhluk yang mengganggu mobil Dita seketika menghilang ketika Kya Pangluluh mendekatinya.


Mengetahui kedatangan Kakek Berjubah Putih tersebut, Dita yang masih terlihat syok akan kehadiran makhluk tersebut. Ia pun hanya bisa membuka sedikit kaca mobilnya, ia takut jikalau kakek tersebut bukanlah yang sebenarnya ataupun makhluk yang menyerupai seperti dirinya.


"Apa itu serius, Kakek?"


Beliau mengangguk setuju. Lalu setelahnya kakek itu meminta Dita untuk keluar dari mobil.


"Silakan buka kaca mobilnya!"


Namun, Dita yang ketakutan hanya menggeleng. Ia justru mengusir kakek tersebut. Melihat Dita tidak mau keluar, ia hanya memberi pesan dari luar mobil.


"Aku bilang cepat pergi dari sini!"


"Tunggu aku di jalan depan, dan jangan pernah sekali-sekali engkau menoleh ataupun engkau hiraukan panggilan dari orang yang meminta tolong kepadamu, paham!"


Dita mengangguk, ia seolah terhipnotis dengan ucapan kakek. Lalu ia segera melajukan mobilnya menjauhi lokasi makam. Sementara itu Rani masih dalam keadaan pingsan, ia belum menyadari apapun yang dikatakan atau kejadian yang terjadi sebelumnya.


"Semoga jalannya tidak terlalu banyak dan bercabang, aku hanya ingin pulang, Ya Allah."


.


.


Sementara itu, di rumah Nenek Romlah, Danu masih terlihat seperti orang linglung. Nenek Romlah masih menunggu Danu yang seperti orang lain. Danu kehilangan raganya dan kini tubuhnya di isi roh lain.


Danu hanya terdiam di atas tempat tidurnya. Ia hanya memandang hampa ke arah jendela. Danu kehilangan ingatannya. Bahkan namanya sendiri ia tidak tahu. Beberapa hari yang lalu setelah ia kerasukan makhluk tersebut, seolah ia kehilangan jati diri.


Seolah raga Danu terpisah dari tubuhnya dan yang mengisi raga Danu saat ini adalah orang lain. Kenyataannya memang begitu, raga Danu terikat di alam lain dan yang menggantikannya adalah makhluk lain yang sedang membutuhkan tubuh Danu.


Ia ingin menuntaskan balas dendamnya akan tetapi rumah Nenek Romlah dipagari dengan doa-doa. Semenjak kecolongan, Nenek Romlah memperketat pertahanan rumahnya. Tidak ada hal lain yang bisa membuatnya khawatir selain kepergian cucunya.


Nenek Romlah menyadari jika ada roh lain yang mengisi tubuh Danu. Akan tetapi ia membiarkannya sambil menunggu roh Danu kembali.


Ia meminjam tubuh untuk sementara waktu, tetapi ia juga tidak bisa meninggalkan kediaman Nenek Romlah, karena kediaman nenek Romlah sudah dipagari dengan doa-doa. Sehingga makhluk tersebut terjebak di dalam tubuh.


Sementara itu di alam lain, Danu bingung dengan keadaan tubuhnya. Tubuh Danu terikat di sebuah pohon. Sementara orang yang berlalu lalang di hadapannya tidak ada yang menghiraukan panggilannya.


Mereka seolah tidak tahu jika Danu terikat di sana. Tidak ada seorangpun yang mau menolongnya. Hal itu membuat Danu berpikir bahwa mungkin saat ini ia sedang berada di alam lain. Mulut dan pikirannya tidak sejalan.


Hatinya ingin berdoa, tetapi apa yang dikeluarkan dari mulutnya berbeda. Maka Danu tidak menggerakkan mulutnya, ia hanya menggunakan hatinya untuk berdoa kepada Tuhan agar ia bisa selamat dari tempat terkutuk tersebut.


Beberapa kali tubuhnya seolah tercambuk dan mengeluarkan darah. Namun beberapa detik kemudian, luka-lukanya sudah sembuh kembali. Saat ia hilang kesadaran, datanglah seorang makhluk dengan berbulu lebat. Wajahnya menyeringai ke arahnya.


"Jauhi wanitaku!"


"Tinggalkan Dita dan jangan sekali-kali engkau berani mendekatinya. Dita sudah menjadi milikku, kalau kau menginginkan Dita, maka kematian yang akan menghampirimu."


Mendengar ucapan itu, Danu tersentak dengan ucapan makhluk tersebut. Hatinya mengatakan jika Dita di bawah pengaruh buruk makhluk itu.


"Berarti ini makhluk yang membunuh suami-suami Dita terdahulu? Apakah aku akan bernasib sama dengannya dengan mereka jika tetap bersama Dita?"


Meskipun begitu, keinginan untuk mendekati Dita semakin tinggi. Ia bahkan tidak memikirkan nyawanya lagi. Cinta membuat Danu mempunyai kekuatan lebih saat ini. Namun, ia harus berpikiran cerdik untuk melawan makhluk di hadapannya saat ini.


"Kamu hanyalah bangsa Jin dan tidak akan bisa mengungguli kekuatan manusia!" ucap Danu dengan lantang.


Makhluk di hadapannya kali ini berbalik dan menatap tajam ke arah Danu. Dengan suara yang menggelegar, ia tetap menggertak Danu.


"Ha ha ha, besar juga nyalimu wahai pemuda? Berapa harga nyawamu sampai kau berniat mau melawanku, hah!"


Danu memejamkan matanya, ia berkonsentrasi penuh agar bisa melawan makhluk itu. Berbagai doa ia panjatkan agar bisa melawan makhluk itu. Namun, selama Danu berdoa, makhluk itu sama sekali tidak kesakitan ataupun terluka.


Kini ia semakin menertawakan usaha yang dilakukan oleh Danu. Meskipun begitu, di rumah Nenek Romlah beliau terus mengirimkan doa-doa untuk membebaskan cucunya.


"Semoga saja, Danu bisa aku selamatkan, Aamiin."