Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 172. KECEMASAN MBOK NEM


"Bagaimana ini, Mbok, Dita benar-benar tidak berada di dalam kamarnya. Lalu kemana dia pergi?"


Mbok Nem memandang ke arah kaca rias di dalam kamar Dita. Sekelebat bayangan terlihat di sana. Sebenarnya ia bisa membaca apa yang tertulis di dalam sana. Namun, Mbok Nem tidak mau mengatakannya secara langsung kepada Nyonya Sekar karena takut membuat ia khawatir.


Apalagi terlihat kecemasan yang mendalam di dalam wajah Nyonya Sekar membuat Mbok Nem tidak bisa berbuat apa-apa, selain menenangkannya dengan caranya sendiri.


"Ternyata memang benar mereka yang menculik Den Ayu!" ucapnya kesal.


Setelah melihat sekilas bayangan itu, ia pun meminta Nyonya Sekar untuk tidak keluar dari kamar dan terus berdoa.


"Mohon maaf sebelumnya Kanjeng Ibu, saya tidak ingin menggurui ataupun mendahului takdir. Namun, saya hanya bisa mengingatkan dan berusaha semampu saya untuk bisa menyelamatkan Den Ayu."


"Berarti Mbok Nem tahu jika saat ini kita dalam bahaya?"


Mbok Nem tidak menggangguk maupun menggeleng. Ia hanya terdiam, meskipun hanya begitu Nyonya Sekar bisa membaca pikiran Mbok Nem dengan baik.


"Kanjeng Ibu, saya permisi dulu. Sepertinya saya harus menyelamatkan Den Ayu secepatnya."


"Bagaimana caranya, Mbok. Apa Mbok tahu dimana dia berada?"


Mbok Nem mengangguk.


"Maaf, Mbok tidak bisa berbicara banyak hal. Sebelum pergi saya akan membentengi rumah ini."


Mbok Nem seperti masih membaca situasi, lalu setelahnya ia mulai berbicara kembali.


"Akan tetapi saya minta dengan sangat Kanjeng Ibu jangan pernah keluar atau membuka pintu meski itu seperti suara saya atau Tuan Handoko. Saya yakin pasti mereka akan menyamar menjadi kami."


"Meskipun kau tidak mengatakan kepadaku, aku tahu jika Dita dalam keadaan bahaya. Maka aku hanya bisa mendoakan untuk semua hal yang dilakukan Mbok Nem, semoga semuanya berjalan lancar dan kalian bisa kembali dengan selamat semuanya."


"Aamiin, terima kasih banyak Kanjeng Ibu."


Seketika bulu kuduk Nyonya Sekar bergidik membayangkan jika hal buruk akan menimpanya setelah ini.


"Apakah ini berkaitan dengan roh halus dan sejenisnya? Kenapa saya merasa takut ya, Mbok."


"Jika Kanjeng Ibu takut, seharusnya banyak berdoa dan jangan pernah membiarkan pikiran kita kosong. Ingat jika takut maka mengaji saja. Hal itu akan terasa lebih baik untuk kami."


Nyonya Sekar mengangguk.


"Baik, aku akan berusaha semaksimal mungkin, yang terpenting adalah kita mau berusaha. Jangan sampai lelah karena bagaimanapun kita harus bisa menjadi sosok yang kuat."


Mbok Nem hendak pergi lalu sesaat kemudian menoleh.


"Ingat, bagaimana Nyonya dulu mempertahankan Den Ayu sampai ia bisa hidup dengan baik hingga dewasa. Jangan sampai karena rasa egois bisa menghancurkan semuanya."


Nyonya Sekar seolah terkena sindiran halus dari Mbok Nem. Akan tetapi ia sama sekali tidak tersinggung, justru ia merasa sangat bahagia karena masih ada yang memperhatikan.


"Mbok Nem, aku mohon bawalah Dita kembali. Selamatkan putriku, Mbok Nem maka aku akan memberikan semua apa yang kau inginkan tanpa terkecuali. Ini janjiku kepadamu," ucap Nyonya Sekar sambil memandang kepergian Mbok Nem.


Tidak membutuhkan waktu yang lama Mbok Nem segera kembali ke rumahnya sendiri. Ia mengemasi barang-barang yang penting atau keramat dan membawa apa saja yang diperlukan untuk menyelamatkan.


"Kanjeng Nyai bantulah saya agar bisa menyelamatkan cicit Nyai dan menyelamatkan keturunan Trah Handoko."


Mbok Nem terlihat serius memandang kaca di depannya lalu berdoa untuk beberapa saat untuk meminta izin kepada leluhurnya agar bisa menyelamatkan Dita.


Mbok Nem tahu jika perjuangannya kali ini sangat berbahaya. Oleh karena itu ia tidak ingin bertindak gegabah, melainkan memutuskan semua hal dengan pikiran yang tenang.


Mbok Nem sangat tahu jika bangsa mereka bisa saja menyerupai manusia dan menyesatkan pikiran mereka. Salah satu tangannya memegang keris dan sebuah kendi peninggalan leluhurnya.


"Keris ini sepertinya sangat berguna jika aku bawa dan juga kendi ini semoga bisa berguna untuk menolong Den ayu."


Tidak berapa lama kemudian keris yang sudah diambil dari warangkanya tadi, segera dikembalikan lagi ke dalam warangka keris berwarna hijau tua itu. Lalu Mbok Nem memasukkannya ke dalam buntelan kain jarik Kawung miliknya.


Sebelum pergi, Mbok Nem sempat juga berpamitan kepada ibunya. Seorang kuncen yang telah mewariskan ilmunya kepada Mbok Nem sejak muda. Meski sang ibu telah meninggal tetapi kekuatannya sangat besar sehingga hanya jasadnya yang mati dan arwahnya masih bergentayangan.


"Kanjeng Ibu saya meminta restuilah perjalanan saya kali ini untuk menyelamatkan junjungan saya, Den Ayu Anindita Puspa Ayu Batari. Aamiin."


Tidak berapa lama kemudian, berhembus angin yang sangat kencang dari arah pintu dan juga jendela. Daun pintu yang asal mula tertutup gini sudah terbuka lebar, seolah sedang menyambut seseorang yang tidak kasat mata untuk masuk ke dalam kamar Mbok Nem.


"Siapa yang datang, kenapa firasat ku mengatakan jika dia yang datang bukanlah dengan maksud yang baik melainkan sebaliknya."


Mbok Nem segera meramalkan sebuah mantra agar bisa mengusir makhluk tidak kasat mata tersebut. Benar saja sesaat kemudian suasana kembali menjadi tenang dan tidak mengeluarkan bau apapun meskipun itu bau bunga ataupun kemenyan. Setidaknya sosok tidak kasat mata itu tidak menganggu tujuannya di sana nanti.


Sesuai dengan perkataan dari leluhur Dita, jika dia mau melakukan apapun, Mbok Nem memang harus meminta izin terlebih dahulu kepada junjungannya. Setidaknya harus wajib datang kepada nenek buyut Dita karena pasti akan melibatkan bantuan darinya.


Dalam setiap ritual yang hendak dia lakukan, Mbok Nem harus menyiapkan sebuah sesajen.


"Mumpung hari belum terlalu siang, aku harus segera pergi ke pasar dan membeli semua keperluan yang aku butuhkan setelah ini."


Mbok Nem mengabaikan tanda yang diberikan oleh leluhurnya tadi dan tetap melanjutkan tujuannya untuk pergi mencari keberadaan Dita.


Seperti biasa Mbok Nem memanggil tukang ojek langganannya. Ia harus datang dan pergi secepatnya.


"Hallo, Mbok. Ketemu lagi sama saya," sapa tukang ojek dengan sangat ramah.


"Hm, pergi ke pasar biasanya lalu setelahnya antar aku ke gunung itu!" tunjuk Mbok Nem ke arah sebuah gunung mati di dekat desa mereka.


"Aku harus segera sampai dan bisa mempersingkat waktu. Aku tidak bisa memastikan seberapa lama Dita bertahan," ucap Dita di dalam hati.


"Iya Mbok Nem, kalau begitu berpegangan yang kencang, ya? Biar saya bisa melajukan motornya dengan sangat cepat, karena biasanya kalau hujan pasti sore hari. Maka dari itu kita bergerak lebih cepat dari biasanya tidak apa-apa 'kan Mbok?


"Iya, nggak apa-apa, kok."