Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 43. MELAMARMU


Satu jam lalu ketegangan sudah terjadi. Dita saat ini sudah lebih baik kondisinya. Tidak ada keanehan kembali saat ini. Suasana di rumahnya sudah jauh terlihat membaik dari pada beberapa saat yang lalu.


Dari arah halaman terdengar suara mobil berhenti. Tidak di sangka Tuan Besar kembali.


"Sepertinya, ayahmu sudah pulang. Ibu ke depan dulu, ya."


"Nak, Sam, Ibu titip Dita sebentar, tidak mengapa bukan?"


"Tidak apa-apa, Kanjeng Ibu. Terima kasih untuk kepercayaannya."


Selepas menitipkan Dita pada Sam, Nyonya Sekar kembali ke depan. Ia menyambut kedatangan suaminya tersebut. Seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun dengan memakai kebaya berwarna kuning dipadukan dengan jarik sidomukti berwarna coklat tua, tengah tersenyum manis menatap kedatangan suaminya.


"Selamat datang, Pak."


"Terima kasih, Bu. Lo, di mana Dita?"


Anak perempuan yang terbiasa menyambut riang kedatangan ayahnya itu tidak terlihat, tentu saja membuat Tuan Handoko bertanya-tanya. Belum sempat Nyonya Sekar menjawab pertanyaan suaminya, keluarlah seorang pemuda dengan memakai baju batik sama seperti yang dikenakan suaminya tetapi beda warna sedikit lebih terang. Rambutnya terlihat rapi dan penampilannya sangat jauh dari anak muda jaman sekarang.


"Sugeng sonten, Bu," sapa pemuda itu ramah.


"Sugeng sonten, silakan masuk!"


"Matur suwun."


Tuan Handoko merangkul pemuda tersebut lalu memperkenalkan dengan istrinya.


"Kenalkan Bu, ini putra Pak Prastowo namanya Yudistira. Anak ini baru saja menggantikan posisi Bapaknya sebagai pemimpin perusahaan pertambangan yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita."


"Oh, iya-iya. Mari Nak silakan masuk!"


Setelah cukup berbasa basi, Nyonya Sekar mengatakan jika kondisi Dita kurang baik, sehingga belum bisa menemui tamu mereka hari itu.


Ketiga orang tersebut segera masuk ke ruang tamu. Lalu Tuan Handoko pamit mau mengunjungi putri kesayangannya tersebut.


"Nak Yudis, Bapak masuk dulu. Kamu di sini dulu, ya."


"Enggih, Pak."


Entah kenapa Dita merasakan akan ada hal yang tidak beres kembali saat ini. Perasaannya mengatakan jika ada tamu yang datang ke rumahnya.


"Kamu kenapa, Dit? Apa kamu menghindariku?"


Sam yang sejak tadi diam kini mulai bersuara, tentu saja hal tersebut membuat Dita menatap wajah Sam.


"Kata siapa aku menghindarimu?"


"Kalau kamu tidak menghindariku kenapa kemarin kamu pergi saat aku sudah memberi tahu tentang kedatanganku ke sini."


Sam merasa jika kehadirannya sama sekali tidak diharapkan. Akan tetapi Sam masih memaafkan Dita untuk hal ini. Dita terdiam, ia tidak bisa mengatakan kebenarannya pada Sam. Ia takut jika setelah ini Sam akan kecewa terhadap ucapan Dita. Padahal kenyataannya Dita sendiri bingung akan takdirnya.


Kegiatan sekolahnya bisa terhambat jika ia disuruh untuk menikah kembali. Melihat usaha Sam dan semua tingkah lakunya, Dita bisa menyimpulkan Jika Sam menyukai dirinya.


"Sam, boleh aku bertanya jujur padamu?"


Sam yang tadi menunduk kini tersenyum cerah ke arah Dita.


"Boleh, katakan apa keinginanmu?"


Sam seolah terpojok akan pertanyaan Dita barusan. Bagaimana bisa Dita membaca pikirannya, apakah hal seperti ini wajar?


"Iya, sepulang dari luar negeri aku memang ingin memberikan kejutan kepada gadis pemilik hatiku ini, sayang saat aku datang yang aku temui ular kobra."


Dita terkikik geli ketika Sam mengatakan semuanya. Melihat kegigihan Sam, dengan senang hati Dita memberikan kata maaf. Hanya saja untuk berdekatan seperti orang-orang kebanyakan Dita harus lebih teliti dan pemilih.


Jika mungkin Dita bisa memilih salah satu orang penting di negeri ini. Sudah pasti para koruptor akan mati setelah mencoba menikah dengan Dita. Dita yang membayangkan hal tersebut terkikik sendiri.


"Dita, kamu kenapa? Jangan buat yang aneh-aneh, bisa kan?"


"Sam bisa nggak kamu diam dulu, seenaknya aja bersantai?"


"Ma-maaf, Dita. Bukan maksudku untuk memotong khayalanmu."


"Baiklah kalau begitu, dimaafkan."


"Syukurlah !"


Jendela kamar Dita bergerak buka tutup, sehingga membuat suasana di kamar sedikit menakutkan.


"Jadi ...."


"Itu tidak akan membuat persahabatan kita hancur karena cinta, maaf ya Sam."


Sementara itu di balik dinding kamar Dita, ada Tuan Handoko yang sudah menyiapkan Dita seorang calon suami kembali, yaitu Yudistira. Akan tetapi ia baru saja mendengar ucapan Dita kepada Sam. Tidak ingin mengganggu privasi putrinya, ia segera kembali.


Sayangnya, belum sempat beranjak pergi ada si Mbok Yem yang sudah berdiri di depan Tuan Handoko. Melihat Tuannya ia menunduk hormat.


"Selamat sore, Tuan Besar. Maaf saya tidak tahu jika Anda berada di sini," ucap Mbok Yem sambil menunduk.


"Tidak apa-apa, Mbok. Ya sudah, saya mau kembali ke kamar. Sampaikan pada Dita untuk segera keluar. Ada tamu di depan."


Tidak ingin terdengar putrinya, Tuan Handoko segera berlalu pergi.


"Baik, Tuan Besar."


Mbok Yem segera berlalu ke kamar Dita. Tidak lupa ia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.


"Maaf, Den Ayu. Anda di tunggu Tuan Besar di depan. Ada seorang tamu di sana."


"Tamu, siapa Mbok?"


"Maaf, saya kurang tahu, Den Ayu. Sebaiknya Den Ayu segera bersiap."


Mbok Yem menatap ke arah Sam yang duduk di dekat jendela kamar Dita.


"Tuan Sam, sebaiknya Anda beristirahat terlebih dahulu lalu bergabung di meja makan."


"Oh, iya Mbok. Terima kasih."


Saat Sam hendak keluar kamar, secara tidak sengaja ia tersandung kayu gawangan pintu. Hingga ia jatuh tersungkur ke depan.


"Awwwhhh ... brukkkk!"