
Merasa jika Bisma masih hidup membuat Keluarga Yudistira murka.
"Bagaimana bisa anak itu masih hidup sementara anak kita mati di malam pertama!" ucap Ibunda Yudistira tidak terima.
Tuan Bagas ingin melihat bukti dari salah satu ucapan orang kepercayaannya itu. Oleh karena itu, mereka langsung memanggil Darso ke ruang pertemuan secara khusus.
"Apa ucapanmu itu benar, Darso!"
"Betul sekali, Tuan. Saya baru saja mendapati Nona Dita dan Tuan Bisma berjalan-jalan di sebuah perkebunan. Mereka terlihat sangat mesra saat ini."
"Bapak dengar sendiri, bukan?"
"Tunjukkan kepadaku bukti yang kamu miliki sekarang!"
"Baik, Tuan."
Tidak begitu lama kemudian, Darso mengeluarkan telepon genggam miliknya. Lalu tidak membutuhkan waktu yang lama, dia menyerahkannya pada Tuan Besar Bagas.
Begitu murkanya, Tuan Bagas melihat hal itu. Dari ekspresinya ia bisa melihat dengan jelas bagaimana ia merasa murka atas penghinaan yang dilakukan oleh Keluarga Handoko terhadapnya.
"Wah, kalau begitu aku harus membuat perhitungan dengan Keluarga Handoko! Beraninya mereka mempermainkan nama baik Keluarga Raden Bagas. Belum ada satu tahun kematian suaminya malah berani menikah lagi tanpa restu kita!"
Suara menggelegar Tuan Bagas membuat seisi ruang pertemuan menjadi tidak nyaman.
Ayah Yudistira juga ikut-ikutan tidak terima mendapati hal ini. Ia tidak menyangka jika putra semata wayangnya menjadi tumbal untuk keluarga itu.
"Aku yakin sekali, jika Keluarga Handoko menutupi kebusukannya dengan menggadaikan kebahagiaan putrinya?" ucap Ibunda Yudistira.
"Katanya tidak dijadikan tumbal, tetapi apa ini? Apakah ini hanyalah omong kosong untuk menyelamatkan putrinya yang merupakan pembawa sial itu?"
"Jika benar seperti itu, apa tidak sebaiknya kita bawa ke Mbah Darto saja, Pak?"
"Maksudnya gimana, Bu?"
"Ya ampun, Bapak. Diajak ngomong serius kok malah tidak paham!"
Ibunda Yudistira geram dengan sikap suaminya yang ahli bisnis tetapi selalu tidak pandai strategi.
"Sudah, Bapak ikuti saja permainan dari ibu!" ucapnya penuh rasa percaya diri.
Tidak lama kemudian ia memanggil salah satu asisten rumah tangganya.
"Dijah ... Dijah!"
Terlihat seorang wanita yang berusia sekitar tiga puluhan berlari kencang ke arahnya. Sepertinya ia ingin laporan tentang pekerjaannya yang sudah beres, tetapi belum sempat itu terjadi, ia sudah dipanggil oleh Nyonya Besarnya.
"Dalem, Bu."
"Sini!" Ibunda Yudistira melambai kepada assisten rumah tangganya agar mendekati dirinya.
"Ada apa, Bu?"
"Begini, aku mempunyai sebuah keinginan, dan kamu pasti punya solusinya."
Alis Dijah saling bertautan satu sama lain. Ia tidak mengerti akan maksud hati Nyonya Besarnya.
"Pekerjaan kamu sudah selesai?"
"Sudah Nyonya."
"Kalau sudah ikut, cepat ganti bajumu dan antarkan aku pergi ke rumah Mbah Darto!"
"Ha-ah, pergi ke Mbah Darto?"
"Untuk apa Nyonya mengajakku ke sana? Apakah ada hal yang tidak beres di sini?" gumam Dijah.
"Sudah jangan banyak bengong, cepat ganti bajumu sekarang! Cuma tinggal ikut aja kok repot!"
"Ba-baik Nyonya," jawab Dijah gelagapan.
Ia tidak menyangka jika Nyonya besarnya akan melakukan hal ini.
......................
Rekan kerjanya yang melihat hal itu begitu heran karena Dijah tiba-tiba berganti baju.
"Kamu mau kemana Dijah? Kenapa rapi sekali?"
Dijah menoleh, "Nyonya besar mengajakku keluar, sudah jangan kepo!" ucapnya sambil berlalu.
Ternyata benar majikannya sudah menunggu Dijah di dalam mobil, ia langsung menyuruhnya masuk tanpa bertanya lebih dahulu.
"Nunggu apalagi Dijah? Apa perlu aku membukakan pintu untukmu?"
"Eh, ti-tidak usah, Nyonya."
Setelah Dijah menaiki mobil, maka ia segera menyuruh sopirnya untuk jalan.
"Pak Parman cepat jalan!"
"Baik, Nyonya."
Akhirnya sebuah perjalanan panjang telah siap dilakukan. Sementara itu, di sepanjang perjalanan Dijah masih bertanya-tanya tentang maksud dan tujuan majikannya saat ini.
Tidak lupa sesekali Ibunda Yudistira bertanya rute yang akan di lalui saat ini, karena yang hafal tempat tinggal Mbah Darno hanyalah Dijah.
Tiga jam kemudian.
Kini mobil yang dikendarai Ibunda Yudistira telah sampai di sebuah pinggiran hutan. Lebih tepatnya, di depannya kini sudah terlihat sebuah gunung yang sangat dikeramatkan oleh sebagian warga sekitar. Kebetulan rumah tinggal Mbah Darno terletak di lereng gunung itu.
Untuk mencapai tempat tinggalnya saja ia harus menaiki ojek agar sampai, karena jalan setelah ini hanya bisa ditempuh dengan dua cara, yaitu dengan menggunakan sepeda motor, atau berjalan kaki. Orang sekelas Ibunda Yudistira tentu saja tidak akan mau jika disuruh jalan kaki.
"Berhenti di sini! Kamu tunggu di sini saja, ya. Biar aku dan Dijah naik ojek setelah ini!"
"Baik, Nyonya."
Pak Parman juga tidak berani menanyakan tujuan Nyonya besarnya datang ke tempat seperti ini. Ia hanya bisa memendam pertanyaannya di dalam hati.
Tidak begitu lama kemudian mereka sudah menaiki dua motor ojek. Dijah yang telah memesan mereka sebelum majikannya turun dari mobil.
"Rumah Mbah Darno ya, Pak!" ucap Ibunda Yudistira pada tukang ojeknya.
"Baik, Nyonya!"
Tidak lebih dari dua puluh menit kemudian, akhirnya mereka telah sampai di sebuah rumah atau sebuah gubuk tua.
"Ini uangnya, kembaliannya sambil saja! Tetapi ingat, jangan pergi sebelum kami keluar dari rumah itu," ucap majikan Dijah sambil menunjuk ke arah sebuah gubuk tua.
"Baik, terima kasih, Nyonya."
Rumah yang mereka kunjungi tampak sangat biasa dari luar, bahkan terkesan seperti sebuah gubuk reyot yang tidak terawat. Namun itulah pintu masuk ke rumah Mbah Darno, karena itu bukan rumah sesungguhnya.
Jika para tamu sudah masuk dari pintu depan, maka akan ada pintu kecil yang menghubungkan dengan rumah yang sesungguhnya di dalam gubuk tersebut.
Seketika tubuh Dijah merinding saat memasuki rumah yang sesungguhnya milik Mbah Darno. Bagaimana tidak, di depannya kini ada sebuah meja persembahan yang berisi kepala kerbau dan beberapa bunga aneka warna dan jenis, lengkap dengan keperluan sesajen di sana.
Aroma kemenyan sangat menusuk indera penciuman. Belum lagi aroma darah ayam cemani yang juga tersaji di depan sana, membuat siapa pun akan mual jika menciumnya. Meskipun begitu, majikan Dijah seolah tidak terganggu akan hal itu, lain halnya dengan Dijah yang sudah ingin muntah tetapi ia tahan.
Melihat tidak ada sosok yang ia cari, Ibunda Yudistira duduk bersimpuh. Kedua tangannya ditangkupkan ke depan, dengan kedua mata tertutup sementara itu mulutnya komat kamit. Seolah sedang menyembah sesuatu yang sedang tidak terlihat. Hal yang sama juga dilakukan oleh Dijah.
"Sugeng siang, Mbah Darno. Kulo ngaturaken salam hormat kangge penjenengan. Kulo sowan mriki ajenge nyuwun pitulungan saking panjenengan, amargi kulo didamel wirang kaleh tiyan lintu."
Sesaat kemudian, terlihat sebuah asap mengepul dari belakang meja sajen. HIngga dari kepulan asap tersebut muncul seorang laki-laki tua dengan memakai iket di kepalanya. Pria itu mempunyai jenggot dan kumis berwarna putih beliau memakai pakaian adat Jawa. Sorot matanya tajam.
"Aku sudah mengetahui keinginanmu, tapi aku minta kamu menyiapkan sebuah mahar lengkap dengan sajennya!"
"Baik, Mbah!"
.
.
BERSAMBUNG