Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 53. PERNIKAHAN KEDUA


Semua yang sudah direncanakan oleh keluarga Yudistira dan keluarga Handoko akan segera dilangsungkan esok hari. Malam ini sebenarnya adalah malam itu midodareni tetapi karena ini adalah pernikahan kedua untuk Dita, maka tidak ada malam tersebut.


"Nak, kenapa belum tidur?"


Ternyata Nyonya Sekar sudah berada di dalam kamar Dita. Nampaknya ada hal yang ingin dipastikan oleh ibunya tersebut. Namun, keinginannya masih tertahan saat ini. Mulutnya seolah terkunci rapat.


"Belum mengantuk, Bu. Kira-kira Mas Yudis sedang apa, ya?"


"Dia kan sedang melakukan pesta bujang?"


"Pesta bujang?"


Dita memang tidak asing dengan hal tersebut, hanya saja ia tidak menyangka jika Yudistira akan melakukan hal yang sama kali ini.


"Sudahlah, itu memang bukan kebiasaan di negara kita, tetapi alangkah baiknya jika kita membiarkan hal tersebut terjadi."


Nyonya Sekar menepuk bahu Dita.


"Bukankah menghormati budaya negara lain sama halnya mempererat persatuan dan kesatuan antar negara?" kekeh Nyonya Sekar.


"Ibu bicara apaan, sih?"


"Sudahlah, jangan banyak berpikir. Sebaiknya kamu istirahat lebih dulu. Tidak baik mempelai perempuan begadang."


Dita mengangguk, keluarganya juga mempunyai peraturan yang harus ditepati. Oleh karena itu ia mengikuti semua aturan dari keluarganya.


Sementara itu di kediaman Yudistira sedang berlangsung pesta bujang. Sebuah pesta yang menyatakan jika sebentar lagi lelaki yang mengadakan pesta tersebut akan segera melepas masa bujangnya sebentar lagi. Dalam acara ini, banyak teman-teman Yudistira yang datang untuk merayakan pesta tersebut.


Sebenarnya Dita merasa keberatan kalau Yudistira mengadakan acara tersebut. Akan tetapi adat dan budaya yang dibawa Yudistira berbeda. Ia juga merupakan lulusan luar negeri, sehingga kebiasaan yang dilakukan di sana secara kebetulan terbawa sampai ke sini.


Beberapa hari yang lalu memang Yudistira mengatakan akan melakukan pesta bujang di rumahnya. Karena kebiasaan di luar negeri selalu begitu, maka Yudistira berusaha mengenalkannya pada teman-temannya ke Indonesia.


Teman-teman Yudistira bahagia karena sebentar lagi temannya yang gila kerja ini akan segera melepas masalah lajangnya. Banyak teman-teman se-usia Yudistira yang sudah mempunyai keluarga. Bahkan ada yang sudah mempunyai anak. Sementara Yudistira masih bergelut dengan bisnisnya.


Akan tetapi hal itu tidak mengurangi kadar kharisma dan kesuksesan seorang Yudistira. Hal itu terbukti dengan banyaknya prestasi yang ia dapatkan. Yudistira memiliki banyak perusahaan dan dia juga merupakan CEO muda. Telah banyak perusahaan dan rekan bisnisnya yang sudah mengakui sepak terjang Yudistira.


"Lama sekali kamu baru bisa menemukan tambatan hatimu! Kenapa tidak dari dulu kamu melepas masa lajangmu!"


"Cih, memangnya kamu yang seorang player. Suka berganti pacar dan sekali suka langsung di ka-wi-nin!"


"Ya, ya, ya ... beginilah aku yang spesial. Bahkan privasiku saja aku jaga sepenuh hati. Jadi pilihanku juga sangat spesial."


"Yudistira gitu, loh."


"Ha ha ha ...."


Perbincangan para lelaki semakin malam semakin melantur, akan tetapi tidak ada yang meminum minuman keras. Obrolan mereka hanya ditemani dengan minuman ringan dan makanan snack. Yudistira memang hanya menyediakan minuman bersoda ataupun coffe capucino.


Yudistira tetap menjaga kesadarannya karena esok pagi ada acara yang sangat penting untuk kelangsungan hidupnya. Kesan yang didapatkan Dita sudah berbeda dari awal berjumpa.


Kalau di depan orang tuanya memang Yudistira terlihat sangat sopan. Akan tetapi ketika ia berhadapan dengan teman seusianya maka ia akan lebih apa adanya. Begitu pula dengan ketika ia bersama Dita, maka akan lagi ceritanya.


Pagi itu, Dita sudah selesai dirias, wajahnya tetap cantik dan manglingi (mempelai wanita akan tampak manglingi ketika ia masih perawan), karena pada kenyataannya ia memang belum pernah tersentuh oleh suaminya sebelumnya.


Begitu pula dengan Yudistira yang tampak gagah dan berkharisma. Ia berjalan dengan iringan keluarga mempelai pria. Berjalan gagah saat memasuki area ijab kabul. Sementara Dita masih berada di ruangan sebelah.


Pernikahan kali ini dilakukan di sebuah gedung yang sudah disewa oleh Yudistira. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi agar para tamu undangan tidak tersesat ketika menuju rumah mempelai wanita.


Selain itu Keluarga Handoko tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sekali lagi. Meskipun ada kemungkinan terburuk yang akan terjadi setidaknya orang sekitar rumahnya tidak akan ada yang tahu.


Sekali lagi Dita mendengarkan ucapan ijab kabul untuk dirinya, meski diucapkan oleh Yudistira, tetapi hal ini mengingatkannya pada mendiang Wisnu. Hampir saja air matanya jatuh menetes kali ini, namun ia tahan.


"Mas Wisnu, maafkan aku," ucapnya lirih.


Di dalam hatinya ia berdoa agar pernikahannya kali ini berjalan lancar dan tidak ada satu halangan yang terjadi. Mungkin kali ini, Tuhan mendengarkan doanya sehingga Dita masih bisa bersanding dengan Yudistira di meja ijab kabul dan pelaminan.


Sungguh tidak ada wanita secantik Anindita, dalam satu kali kemunculannya ia mampu menyihir semua mata para tamu undangan, begitu pula dengan Yudistira.


"Ternyata Anindita sangatlah cantik," gumamnya.


Sementara itu, pihak keluarga Yudistira bahagia karena menantunya masih perawan. Hal itu terlihat dari rangkaian bunga melati yang masih sangat segar ketika dikenakan oleh Dita untuk menghiasi sanggulnya. Begitu pula dengan riasannya yang tampak manglingi.


Dalam sebuah adat, mengatakan jika rangkaian bunga melati yang dipakai oleh mempelai wanita tampak layu, maka sudah dipastikan mempelai wanita sudah tidak perawan. Hal itu sangat dijunjung oleh Keluarga Handoko sejak dulu.


Akhirnya mereka resmi menjadi sepasang suami istri saat ini. Meskipun begitu, Dita masih waspada karena ia harus tetap berdoa sampai hari ini berakhir. Jika hari ini bisa mereka lewati dengan baik, maka sudah dipastikan suaminya akan tetap hidup. Namun, jika ramalan itu terbukti maka Dita tidak akan pernah mau untuk menikah atau pun jatuh cinta kembali.


.


.


Lima jam kemudian, akhirnya semua rangkaian pernikahan berjalan lancar kali ini. Kini tibalah Dita dan Yudistira berada di dalam satu kamar pengantin. Tangan Dita begitu bergetar, keringatnya mengalir dengan sangat deras kali ini. Yudistira yang melihat hal itu menghampiri istrinya.


"Kamu kenapa, Sayang?"


"Aku enggak enak badan, Mas."


"Kamu capek?"


"Kalau iya, sebaiknya kamu istirahat lebih dulu."


"Ta-tapi aku takut, Mas."


Tanpa Dita sadari tangannya memegang tangan Yudistira dengan erat. Seolah ia tidak mau kejadian buruk terjadi padanya saat ini. Malam seperti ini sangatlah rawan bagi Dita. Kenangan beberapa bulan lalu seolah menghantui Dita.


Bayangan Wisnu tiba-tiba saja muncul dan membuat Dita histeris.


"Aaaaa ... pergi ... kamu pergi ...."


Tanpa Dita sadari, ia mendorong tubuh Yudistira dan terjadilah hal yang tidak Dita inginkan.